Senin, 29 Juni 2015

Konsumsi Apel, Bikin Gigi Jadi Sehat

Ternyata apel tak hanya baik untuk diet, namun juga kesehatan tubuh.
Ingin Gigi Sehat? Jangan Lupa Konsumsi ApelApel memiliki banyak manfaat bagi kesehatan (fanpop.com)
Buah apel tak hanya dikenal sebagai makanan sehat saat diet, tapi juga memiliki berbagai manfaat sehat bagi tubuh. Salah satunya, menguatkan dan memutihkan gigi. Selain itu, masih banyak manfaat yang terkandung di dalam buah apel. Berikut sembilan manfaat buah apel yang bisa kita nikmati.

Minggu, 28 Juni 2015

Pemgertian Masyarakat


Pengertian masyarakat yaitu sekumpulan orang yang, terdiri dari berbagai kalangan, baik golongan mampu ataupun golongan tak mampu,  yang tinggal di dalam satu wilayah dan telah memiliki hukum adat, norma-norma serta berbagai peraturan yang siap untuk ditaati.
Pengertian masyarakat
Pengertian masyarakat
Image courtesy of fahrulozyuci67 – http://fahrulozy67.wordpress.com/2011/12/27/tugas-isd-bab-7-masyarakat-perkotaan-dan-masyarakat-pedesaan/


Habibi, Biografi dan Penghargaannya


Biografi HabibieArtikel kali ini membahas tentang Biografi Habibie seorang cendekiawan terkemuka di Indonesia. Kebanyakan masyarakat Indonesia apabila melihat sosok ini pasti akan segera menghubungkannya dengan kata jenius dan pintar. Bagaimana tidak? Beliau adalah salah satu dari sekian anak bangsa yang mampu berkarya sekaligus menjadi inspirasi bagi negaranya. Belakangan kisah hidupnya di angkat ke dalam sebuah film apik yang lebih mengedepankan tentang kehidupan pribadinya bersama sang istri. Film tersebut sukses menarik perhatian banyak orang dan membuat nama ilmuwan bangsa ini dikenal juga oleh generasi masa kini. Beliau adalah salah satu tokoh kebanggaan Indonesia yang memiliki nama lengkap Prof, Dr.-Ing. Dr. B. J. Habibie. Sc.h.c. Mari kita simak Biografi Habibie berikut ini.


Global Warming: Lingkungan Hidup


AKIBAT GLOBAL WARMING: GREENLAND YANG TIDAK HIJAU LAGI
Pencairan es di Greenland dalam satu dekade
Contoh artikel lingkungan hidup tentang Global Warming : Perbandingan pencairan es di Greenland dalam satu dekade
Image courtesy of http://www.blewbury.co.uk/energy/warming.htm
Berdasarkan informasi yang dilansir oleh Tempo, kondisi Greenland, pulau milik Negara Denmark yang sebagian tertutup oleh es kini makin mengkhawatirkan. Lapisan es di pulau itu mencair lebih cepat akibat kenaikan suhu laut dan udara. Salah satu tumpukan es di bagian timur laut yang diketahui mulai mencair sejak tahun 2003 baru-baru ini dikabarkan runtuh.

Agar Selalu Bugar Saat Puasa



Puasa tidak menjadi penghalang dalam rutinitas sehari-hari
Puasa tidak menjadi penghalang dalam rutinitas sehari-hari
Image courtesy of Elzatta – http://www.vemale.com/body-and-mind/segar-dan-rileks/26950-bugar-selama-puasa.html
STRATEGI BUGAR SELAMA PUASA
Tahun lalu, mungkin Anda merasa mengantuk, lemas, dan kurang bergairah di jam-jam aktif selama berpuasa. Tapi tahun ini, jangan sampai terulang lagi. Kami kan beberkan strategi terbaik untuk mendistribusi pasokan nutrisi selama berpuasa. Semoga ibadah Anda tidak terganggu, tubuh tetap bugar, dan aktifitas sehari-hari tetap terurus.

Teknik Menumbuhkan Semangat Belajar Pada Anak


Contoh artikel pendidikan untuk anak
Contoh artikel pendidikan untuk anak
Image courtesy of telenji200772 – http://www.kaskus.co.id/thread/512d699b1976081f48000009/tips-mengatasi-anak-yang-sulit-belajar-matematika

Semua manusia sejatinya adalah seorang pembelajar tetapi masalahnya kita secara tak sadar, sering memberikan perlakuan tak menyenangkan ketika anak belajar atau mungkin kita sewaktu kecil pernah mendapat stimulasi tidak menyenangkan semasa kecil. Contohnya saat anak kecil berumur sekitar setahun, mereka biasanya ingin memasukan semua barang ke dalam mulutnya. Yang sering terjadi adalah orang tua melarang si anak secara verbal sambil menarik barang tersebut. Ini bisa dikategorikan perilaku tidak menyenangkan bagi si anak. Lalu ketika anak sedang belajar berjalan, banyak larangan dari pihak orang tua atau pengasuh. Padahal ini adalah proses belajar si anak untuk mengisi informasi di otaknya.

Sabtu, 27 Juni 2015

Hotel Utsman bin Affan Dibangun dari Rekening Berusia 1.400 Tahun


Liputan6.com, Madinah, kota utama di Arab Saudi, yang setiap sudutnya selalu menarik untuk dikunjungi dan diziarahi kaum Muslimin. Terlebih lagi, Masjid Nabawi yang memiliki pahala dan keutamaan bagi uman muslim terletak di kota Madinah.

Pendidikan Islam dan Pembangunan Masyarakat Religius

Memahami konteks pendidikan Islam di Indonesia tidak cukup hanya dengan melihat bahwa pendidikan Islam merupakan subsistem dari pendidikan nasional. Akan tetapi, pendidikan Islam juga sekaligus sebagai entitas tersendiri yang memiliki tradisi dan kultur akademik yang berbeda dengan karakteristik pendidikan pada umumnya. Di antara ciri substantifnya adalah, bahwa pendidikan Islam dibangun atas dasar kesadaran dan keyakinan umat Islam untuk menjadi pribadi muslim yang taat (`abdullah, khalifah fi al-ard). Maka, wajar jika pengetahuan dan wawasan keislaman merupakan prasyarat mutlak yang harus dimiliki oleh seluruh umat Islam. Kesadaran semacam ini lalu menjadi èlan vital di kalangan pemimpin agama yang secara mandiri memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan Islam di tengah masyarakat, baik secara individual maupun kolektif-kolegial (organisasi keagamaan, al-jam`iyah al-diniyah).

Rabu, 24 Juni 2015

Belajar Dalam Perspektif Islam

1.  Teori belajar dalam Al-Qur'an dan al-hadits
Banyak dalil menerangkan bahwa islam adalah ajaran yang sempurna,menyangkut berbagai aspek kehidupan. Atas kesempurnaan itu maka diyakini bahwa jika umat islam berpegang pada ajaran islam, yaitu Al-Qur'an dan hadits, maka kapan dan dimanapun akan mendapatkan keselamatan.
Dalam hal pendidikan, kajian islam dapat dirumuskan melalui perenungan yang mendalam terhadap dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur'an dan hadits Nabi. Diantara rumusan-rumusan belajar yang tersirat dalam Al-Qur'an dan hadits sebagai berikut, (1). Islam mengantarkan pemeluknya kaya akan ilmu pengetahuan, (2). Islam membangun pribadi unggul, (3). Islam membangun tatanan sosial yang setara dan berkeadilan (4). Islam memberikan tuntunan ritual untuk memperkaya spiritual, (5). Islam mengedepankan amal shaleh.

Tafsir Ruh Al-Ma'ani

Oleh: Bakhtiar Nurdin

Latar Belakang Masalah
Al-Qur'an adalah sumber utama bagi umat islam, ia disamping berfungsi sebagai petunjuk (hudan) antara lain petunjuk dalam persoalan-persoalan aqidah, syari'ah, moral atau akhlak dan lainnya, juga sebagai pembeda. Berangkat dari kesadaran bahwa al-Qur'an memuat berbagai macam petunjuk yang paling lengkap bagi manusia, yang membenarkan dan mencakup wahyu-wahyu terdahulu. Yang kedudukannya menempati posisi sentral dalam studi keislaman, maka lahirlah niatan dikalangan umat islam untuk mencoba memahami isi kandungan al-Qur'an tersebut. Usaha untuk memahami inilah nantinya dikenal aktifitas penafsiran. Kesadaran untuk memahami al-Qur'an melalui tafsir telah

Filsafat Umum: IDEALISME


Oleh: Bakhtiar Nurdin
Idealisme adalah salah satu aliran etika yang tidak memerlukan pemikiran lebih panjang yang bersifat teoritis. Tetapi kemudian, dengan kepentingan-kepentingan manusia, idealisme memperoleh kekuatan yang sukar  untuk diatasi. Idealisme telah dianut oleh tokoh-tokoh pemikir, baik dari Barat atau  dari Timur selama lebih dari dua ribu tahun. Selama pertengahan kedua dari abad ke 19, idealisme merupakan filsafat Barat yang dominan.[1]
Pada dasarnya idealisme merupakan salah satu aliran etika metafisik yang berpendirian bahwa wujud yang paling dalam dari kenyataan ialah yang bersifat kerohanian. Dalam persoalan etika, aliran idealisme berpendapat bahwa perbuatan manusia harus didasarkan pada prinsip-prinsip kerohanian yang lebih tinggi. Misalnya orang berbuat baik bukan karena dianjurkan oleh orang lain atau untuk mendapat sanjungan (pujian), tetapi didasarkan kemauan sendiri yang didorong oleh tanggung jawab dan kewajiban.[2]
1.        Definisi Idealisme
Kata idealis dalam filsafat mempunyai arti yang berbeda dari artinya dalam bahasa sehari-hari. Secara umum, kata itu berarti, (1) Seorang yang menerima ukuran moral yang tinggi, estetika dan agama serta menghayatinya. (2) Orang yang dapat melukiskan dan menganjurkan suatu rencana atau  program yang belum ada. Tiap pembaharu sosial adalah seorang idealis dalam arti kedua ini, karena itu menyokong sesuatu yang belum ada. Mereka yang berusaha mencapai perdamaian yang abadi atau memusnahkan kemiskinan dapat juga dinamakan idealis. Seseorang yang memperjuangkan tujuan-tujuan yang dipandang orang lain tidak mungkin dicapai, atau seseorang yang menganggap sepi fakta-fakta dan kondisi-kondisi sesuatu situasi, sering dinakan mere idealist (idealis semata-mata).
Idealisme, kadang-kadang digunaka istilah mentalisme atau imaterialisme, yaitu keyakinan bahwa hanya roh, jiwa, pikiran dan isinya yang ada.[3]
W.E. seorang Idealis mengatakan bahwa kata-kata “idea-ism” adalah lebih tepat daripada “idealism”. Idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, akal (mind) atau jiwa (selves) dan bukan benda material dan kekuatan. Idealisme menekankan “mind” (akal) sebagai hal yang lebih dahulu daripada materi. Maka idealisme mengatakan bahwa akal itu adalah riil dan dan materi adalah sampingan.[4]
Pandangan salah satu bentuk idealisme adalah semua yang kita peroleh adalah ide-ide dan tiada lain kecuali ide-ide, karena kita tidak dapat bergerak ke luar dari ide-ide, maka kita tidak akan dapat benar-benar mengetahui bahwa ide-ide tersebut merupakan salinan sesuatu, juga kita tidak dapat mengetahui sesuatu kecuali adanya ide-ide.[5]
Idealisme adalah suatu pandangan dunia atau metafisik yang mengatakan bahwa realitas dasar terdiri atas ide, pikiran atau jiwa. Dunia mempunyai arti yang berlainan dari apa yang nampak pada permukaannya. Dunia difahami dan ditafsirkan oleh penyelidikan tentang hukum-hukum pikiran dan kesadaran, tidak hanya oleh metode ilmu obyektif semata-mata.
Oleh karena alam mempunyai arti dan maksud, yang diantara aspek-aspeknya adalah perkembangan manusia, maka seorang idealis berpendapat bahwa suatu harmoni yang dalam antara manusia dan alam. Apa yang “tertinggi dalam jiwa” juga merupakan “yang terdalam dalam alam”. Oleh karena alam ini merupakan suatu sistim yang logis dan spiritual, dan hal ini tercermin dalam usaha manusia untuk mencari kehidupan yang baik. Jiwa (self) bukannya satuan yang terasing atau tidak riil, ia adalah bagian yang sebenarnyadari proses alam. Proses ini dalam tingkat yang tinggi menunjukkan dirinya sebagai aktifitas, akal, jiwa atau perorangan. Manusia sebagai suatu bahagian dari alam menunjukkan struktur alam dalam kehidupan sendiri.[6]
Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah madzhab epistemologi yang mengjarkan bahwa pengetahuan a priori dapat atau deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya.[7]
2.        Jenis-jenis Idealisme
Beriut adalah pengelompokan jenis-jenis idealisme,
1.         Idealisme Subyektif
Tokoh idealisme subyektif adalah Schelling menamakan idealisme fichte, ia berpendapat bahwa kemauan moral sebagai yang utama dalam idealisme.[8]
Jenis idealisme ini kadang dinamakan “mentalisme” atau “fenomenalisme”. Jenis ini paling banyak mendapat tantangan. Seorang idealis subyektif  berpendirian bahwa akal, jiwa dan persepsi-persepsinya atau ide-idenya merupakan segala yang ada. Seorang idaelis subyektif tidak mengingkari adanya alam yang riil. Yang menjadi permasalahan bukan adanya benda-benda itu, akan tetapi bagaimana alam itu diinterpretasikan. Alam tidak berdiri sendiri, bebas dari orang yang mengetahuinya. “Bahwa dunia luar itu ada”, (menurut seorang idealis subyektif), mempunyai arti yang sangat khusus, yakni yakni bahwa kata “ada” itu dipakai dalam arti yang sangat berlainan dari arti yang sangat berlainan dari arti yang biasa yang kita pakai. Bagi seorang idealis subyektif apa yang ada (dalam arti biasa) adalah akal dan ide-idenya.[9] Dasar perenungan dalam system-sistem ini dicari dan didapat pada dasar tindakan ialah aku yang merupakan subyek yang sekongkrit-kongkritnya. Dari suatu dasar menurunkan kesimpulan serta memberikan keterangan keseluruhan ada itu ada yang menyebut idealisme. Sebaliknya, oleh karena, idealisme ini berdasarkan atas subyek, maka sering disebut idealisme subyektif.[10]
Ajaran idealisme menegaskan bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan kenyataan adalah mustahil. Pengetahuan adalah proses mental atau proses psikologis yang bersifat subjektif.
Selain itu idealisme subjektif  juga akan menimbulkan kebenaran yang relative karena setiap individu berhak menolak kebenaran yang datang dari luar dirinya. Akibatnya, kebenaran yang bersifat universal tidak diakui. Kalau demikian jadinya, aturan-aturan agama dan kemasyarakatan hanya bisa benar untuk kelompok tertentu dan tidak berlaku bagi kelompok yang lain.[11]
Jika kita mengatakan bahwa benda-benda itu ada ketika benda-benda itu tidak terlihat dan bahwa kita percaya kepada wujud yang berdiri sendiri dari dunia luar, Berkeley menjawab bahwa ketertiban dan konsistensi alam adalah riil dan disebabkan oleh akal yang aktif yaitu akal tuhan. Tuhan, akal yang tertinggi, adalah pencipta dan pengatur alam. Dan kehendak Tuhan adalah pencipta dan pengatur alam. Dan kehendak Tuhan adalah hukum alam.[12]


2.         Idealisme Obyektif
Banyak filsof idealis, dari plato , Hegel sampai filsafat masa kini menolak subyektifitisme. Mereka berpendapat bahwa dunia luar itu adalah buatan manusia. Mereka berpendapat bahwa peraturan dan bentuk dunia, begitu juga pengetahuan, adalah ditentukan oleh watak dunia itu sendiri. Akal menemukan peraturan alam. Mereka itu idealis dalam memberikan interpretasi kepada alam sebagai suatu bidang yang dapat dipahami, yang bentu sistematikanya menunjukkan susunan yang rasional dan bernilai.[13]
Plato menamakan realitas yang fundamental dengan nama ide, Plato percaya bahwa di belakang alam perubahan atau alam empiris, alam fenomena yang kita lihat atau kita rasakan, terdapat alam ideal, yaitu alam esensi, form atau ide. Bagi plato, dunia dibagi dalam dua bagian. Pertama, dunia persepsi, dunia penglihatan, suara dan benda-benda individual. Kedua terdapat alam di atas alam benda, yaitu alam konsep ”manusia” mengandung realitas yang lebih besar.
Hegel membentangkan suatu konsepsi yang dinamik tentang jiwa dan lingkungan. Jiwa dan lingkungan itu adalahbegitu berkaitan sehingga kita tidak dapat mengadakan pembedaan yang jelas antara keduanya. Jiwa mengalami realitas setiap waktu yang universal selalu ada dalam pengalaman khusus yang dinamis.
Kelompok idealis obyektif  tidak mengingkari adanya realitas luar atau realitas obyektif. Mereka percaya bahwa sikap sikap mereka adalah satu-satunya sifat yang bersifat adil kepada segi obyektif dari pengalaman, karena mereka menemukan dalam alam prinsip: tata tertib, akal dalam maksud yang sama seperti yang ditemukan manusia dalam dirinya sendiri.[14]
3.         Idealisme Personal atau Personalisme
Personalisme muncul sebagai protes terhadap materialism mekanik dan idealisme monistik. Bagi seorang personalis,realitas dasar itu bukannya pemikiran yang abstrak atau proses pemikiran yang khusu, akan tetapi seseorang, suatu jiwa atau seorang pemikir. Jiwa (self) adalah satuan kehidupan yang tak dapat diperkecil lagi.
Bagi kelompok personalis, alam adalah suatu tata tertib yang obyektif, walaupun begitu alam tidak berada sendiri. Manusia mengatasi alam jika mengadakan interpretasi terhadap alam itu. Sains mengatasi materialnya melalui teori-teorinya.alam arti dan alam nilai menjangkau lebih jauh dari alam semesta sebagai penjelasan akhir.
Sebagai suatu kelompok, pengikut aliran idealisme personal menunjukkan perhatian yang lebih besar kepada etika dan lebih sedikit kepada logika daripadia pengikut idealisme mutlak. Mereka percaya bahwa proses hidup itu lebih penting daripada bentuk-bentuk atau arti yang tetap dan mereka menekankan realisasi kemampuan dan kekuatan seseorang, dengan jalan kemerdekaan dan mengontrol diri sendiri. Oleh karena personalitas mempunyai nilai yang  tinggi dari yang lannya, maka harus diatur sedemikian rupa sehingga tiap orang dapat memperoleh kehidupan dan kesempatan yang sebesar-besarnya.[15]
4.         Implikasi Idealisme
Manusia memang betempat di alam. Bagi seorang idealis, manusia itu merupakan bagian dari proses, oleh karena itu ia bersifat natural, ia bersifat spiritual dalam arti bahwa di dalamnya terdapat sesuatu yang tak dapat hanya dianggap sebagai materi.[16]
Menurut Pascal, manusia besar karena fikiran dan kesadaran refleksinya. Tatapi katanya lagi, ada hal-hal yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh pikiran manusia, yaitu pikiran manusia itu sendiri. Satu-satunya jalan untuk mengetahui manusia adalah kembali kepada Tuhan, yaitu melalui agama.[17]
Bagi kelompok idealis, Tuhan bukan suatu bagian dari alam akan tetapi adalah prinsip hidup yang ada dalam alam. Ia terdapat dalam proses alam, sejarah, tata tertib social dan khususnya dalam hati mausia, sebagai akibatnya, perbedaan yang lama antara natural dan supranatural condong untuk hilang dalam idealisme monoistik.[18]
5.         Hubungan Kemasyarakatan Manusia
Bagi seorang idealis, hukum moral ialah setiap tindakan harus merupakan langkah menuju kesempurnaan spiritual. Itu hanya dapat dicapai pada masyarakat-masyarakat yang anggota-anggotanya yang bebas merealisasi diri mereka dalam kerja untuk masyarakat. Pada tingkatan yang lebih tinggi, keimanan dan harapa manusia muncul dari kasih saying Allah.[19]
Pada umumnya kelompok idealis condong untuk menghormati kebudayaan atau tradisi. Mereka menganggap nilai-nilai kehidupan itu mempunyai dasar dalam bidang yang lebih tinggi daripada sekedar partukular (yang khusus), Hegel mengatakan bahwa yang mutlak itu diekspresikan dalam sejarah dan melalui lembaga-lembaga masyarakat.
Filsafat Plato telah member inspirasi kepada banyak gerakan reformasi idealismenya, yakni pandangannya, bahwa idea tau universal adalah esensi yang trasenden, yang telah membawa kita kepada perpisahan antara dunia sekarang dan alam yang akan datang, panfangan ini telah menguasai seluruh masyarakat abad pertengahan dan condong untuk menetapkan segala hubungan kemanusiaan. Pandangan ini juga menguatkan ide tentang masyarakat statis.
Bertentangan dengan jenis idealisme Plato, kelompok idealis modern, dari Descartes dan Leibnitz sampai kepada kelompok personalis kontemporer, menekankan “person” atau kesadaran pribadi. manusia dianggap sebagai pelaku moral yang dapat mengungkapkan nilai. Dengan begitu maka idealisme memberi landasan obyektif untuk nilai moral dan kewajiban.[20]
6.         Penilaian Idealisme
Kenyataan bahwa idealisme telah hidup langsung selama berabad-abad dan telah didukung oleh banyak tokoh pemikir di Barat dan di Timur, menunjukkan bahwa ia telah memenuhi suatu kebutuhan. Kekuatan idelaisme  terletak pada tekanannya terhadap person, dan segi mental juga segi spiritual dari kehidupan. Idelisme secara filsafi membenarkan bahwa pribadi itu mempunyai arti dan harga diri, manusia mempunyai nilai dan lebih tinggi daripada lembaga-lembaga dan benda-benda.
Sambil menerima penjelasan ilmiah yang modern tentang alam, idealisme member tempat kepada agama. Nilai-nilai moral dan agama terdapat dalam alam. Dengan begitu idealisme adalah sesuai dengan banyak intuisi dan aspirasi manusia. Pengikut idealisme mengatakan bahwa idealisme member dukungan moral kepada intuisi spiritual manusia. Daya tarik idealisme didasarkan atas aspirasi moral manusia dan tidak hanya atas dasar logika atau epistimologi.
Dalam perjuangan mereka untuk kehidupan yang lebih baik, banyak yang merasakan bahwa ada kekuatan di atas mereka yang dapat mereka bersandar kepadanya untuk minta bantuan. Idealisme memberikan penegasan kepada mereka bahwa jiwa dan nilai secara structural adalah bagia dari alam. Dengan begitu kita bisa merasa tentram.[21]
Ada yang mengatakan bahwa kelompok idealis mencampuradukkan antara segi-segi yang “accidental” dan yang “essential” dari benda. Kelompok idealis mengatakan bahwa “existensi” itu bersandar pada akal, kelompok realis menjawab bahwa “dipersepsikan” merupakan suatu segi yang aksidental dari benda, padahal eksistensi adalah yang esensial.
Idealisme dikeritik oleh beberapa ahli teologi yang mengatakan bahwa pandangan intelektual tentang Tuhan atau Zat yang mutlak tidak akan merupakan pengganti untuk hati yang merana atau sesuatu keputusan. Mereka mengatakan bahwa idealisme mempunyai gambaran yang sangat optimis tentang manusi dan alam.[22]

KESIMPULAN
Kata idealis dalam filsafat mempunyai arti yang berbeda dari artinya dalam bahasa sehari-hari. Secara umum, kata itu berarti, Seorang yang menerima ukuran moral yang tinggi, estetika dan agama serta menghayatinya. Orang yang dapat melukiskan dan menganjurkan suatu rencana atau  program yang belum ada. Tiap pembaharu sosial adalah seorang idealis dalam arti kedua ini, karena itu menyokong sesuatu yang belum ada.
Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah madzhab epistemologi yang mengjarkan bahwa pengetahuan a priori dapat atau deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya.
Jenis-jenis idealisme meliputi: Idealisme subyektif, berpendirian bahwa akal, jiwa dan persepsi-persepsinya atau ide-idenya merupakan segala yang ada. Idealisme Objektif, tidak mengingkari adanya realitas luar atau realitas obyektif. Mereka percaya bahwa sikap sikap mereka adalah satu-satunya sifat yang bersifat adil kepada segi obyektif dari pengalaman, karena mereka menemukan dalam alam prinsip: tata tertib, akal dalam maksud yang sama seperti yang ditemukan manusia dalam dirinya sendiri. Idealisme Personal atau Personalisme Bagi kelompok personalis, alam adalah suatu tata tertib yang obyektif. Implikasi Idealisme,Hubungan kemasyarakatan.Penilaian Idealisme.

DAFTAR PUSTAKA

Suhar, AM. Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan Aliran, GP. Press, Jakarta, 2010.
Poedjwijatama. Pembimbing Kearah Alam Filsafat, Bina Aksara, Jakarta, 1986.
Baktiar, Amsal.Filsafat Ilmu, Rajawali Pers, Jakarta, 2011.
Supriyadi, Dedi. Pengngantar Filsafat Islam, Pustaka Setia, Bandung, 2010.
Louis O. Kattsoff, Pengntar Filsafat, Tiara Wacana, Yogyakarta, 2004.
Hamzah abbas, Pengantar Filsafat  Alam, Al-Ikhlas, Surabaya, 1981.
Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.
Suhartono, Suparlan. Dasar-dasar Filsafat, Ar-Ruz Media Grup, Yogyakarta, 2007.




[1]  H. Suhar AM. Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan Aliran, (Jakarta: GP Press, 2010), 211
[2]  Ibid, 211.
[3]  Lorent Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia), 300.
[4]  Ibid, 213.
[5]  Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), 151.
[6]  H. Suhar AM. Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan Aliran, (Jakarta: GP Press, 2010), 213.
[7]  Achmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), 144.
[8]  Ibid, 146.
[9]  Ibid, 216.
[10]  I.R. Poedjawijatna, Pembimbing Karah alam Filsafat, (Jakarta: Bina Aksara: 1986), 114.
[11]  Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Rajawali Pers: 2011), 97-98.
[12]  H. Suhar AM. Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan Aliran, (Jakarta: GP Press, 2010), 217.
[13]  Ibid, 217.
[14]  Ibid, 219.
[15] Ibid, 221.
[16]  Ibid, 222.
[17]  Achmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), 155.
[18]  H. Suhar AM. Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan Aliran, (Jakarta: GP Press, 2010), 222.
[19]  Ibid, 147.
[20]  Suhar AM, Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan aliran, (Jakarta: GP. Pres, 2010), 221.
[21]  Suhar AM. Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan Aliran, (Jakarta: GP Press, 2010), 224.
[22]  Ibid, 225.

Studi Al-Qur'an

Oleh: Bakhtiar Nurdin
Sebagai sebuah kitab suci yang menjadi pegangan umat manusia, al-qur’an merupakan sumber mata air bagi kehidupan. Al-qur’an tidak akan pernah habis kandungan ilmu, walau semua manusia menggali dan terus menggali tanpa henti. Al-qur’an telah dikaji melalaui berbagai macam metode dan pendekatan, namun tidak akan tuntas diselami seluruh kandungan yang tersembunyi didalamnya.
Al-qur’an adalah pelipur jiwa, penyejuk mata, penerang akal dan ruh, serta penentram sukma. Para ualama seakan menyelami untaian mutiara yang terkandung didalamnya dan merasuk kedalam darah daging mereka, mereka memahami kitab Allah ini karena mengetahui kenikmatannya.
Melalui makalah singkat yang jauh dari sempurna ini, kami akan mengetengahkan beberapa pembahasan awal tentang al-qur’an. Semoga Allah membimbing kami senantiasa dalam kebenaran. Amin.

A.    Ta’rif Al-Qur’an
Al-Qur’an secara etimologi merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja ﻘﺮﺃ - ﻘﺮﺍﺀﺓ - ﻮﻘﺮﺁﻨﺎ      yang bermakna ﺘﻠﺍ yang berarti membaca. Mayoritas ulama mengatakan bahwa akar kata qara’a berarti tilawah yaitu membaca.[1]
Sebagaimana firman Allah SWT.

Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu ( Al-Qiyamah: 18).
Secara leksikal, kata qur’an mengandung arti “bacaan” dan baru pada perkembangan kemudian dianggap merujuk kepada arti “teks yang dibaca”. Al-Qur’an kerap menyebut dirinya sebagai al-kitab, yang berarti “tulisan” dan kemudian dianggap mengandug arti “tulisan berupa buku”.[2]
Pengertian Al-Qur’an secara terminologi adalah firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW.[3] Membacanya bernilai ibadah, sebagai mukjizat kepada Rasulullah yang tidak mungkin ditandingi oleh manusia, diturunkan ke dalam hati Rasulullah melalui “Ruh al-Amin”, Jibril, diturunkan ke generasi berikutnya secara mutawatir.[4] Al-Qur’an dihafalkan dan ditulis oleh banyak sahabat. Secara turun temurun, Al-Qur’an itu diajarkan kegenarasi berikutnya, oleh banyak orang kebanyak orang. Dengan cara seperti itu keaslian Al-Qur’an terpelihara keasliannya, sebagai wujud jaminan Allah terhadap keaslian dan kebenarannya.[5] sebagaimana firman Allah SWT.

Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (Al-Isra’:9).
Al-Qur’an adalah sumber utama ajaran ketuhanan yang mengandung hukum-hukum dan serangkaian pengetahuan tentang aqidah, pokok-pokok akhlaq dan segala perbuatan serta tingkah laku. Sebagaiman firman Allah.

Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (An-Nahl:89)
Syaikh Muhammad Abduh mendefinisikan Al-Qur’an sebagai kalam mulia yang diturunkan kepada Nabi yang paling mulia (Muhammad) ajarannya mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan. Ia merupakan sumber yang mulia yang esensinya tidak dimengerti kecuali bagi orang yang berjiwa suci dan berakal cerdas.[6]
Dari definisi di atas dapat dianalisa bahwa Al-Qur’an memiliki unsur-unsur yang menjadi ciri khas bagi Al-Qur’an, yakni Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepadan Nabi Muhammad SAW. Tidak dinamakan Al-Qur’an seperti zabur, taurat dan injil. Ketiga kitab tersebut memang termasuk kalam Allah tapi tidak diturunkan kepada nabi Muhammad sehingga tidak dinamakan Al-Qur’an.[7]
Allah SWT. Memilih beberapa nama wahyu-Nya, yang berbeda sekali dari bahasa yang biasa digunakan masyarakat arab untuk penamaan sesuatu. Nama-nama itu mengandung makna yang berbias dan memiliki akar kata.[8] Diantara beberapa nama al-qur’an itu ialah:
1.    Al-qur’an sebagaimana firman Allah.

Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus…(Q.S. Al-Isra’:9)

2.    Al-kitab. Sebagaimana firman Allah:

Sesungguhnya Telah kami turunkan kepada kamu sebuah Kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya? (Q.S. Al-Anbiya’: 10)
3.    Al-Furqan

Maha Suci Allah yang Telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (Q.S. Al-Furqan: 2)[9]
4.    Adz-zikra

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya. (Q.S. Al-Hijr: 9).[10]
5.    At-tanzil. Dan lain sebagainya.[11]

Dan Sesungguhnya Al Quran Ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta Alam. (Q.S. Asy-Syuara’: 192)
Sebagai kitab suci terakhir sekaligus penyempurna kitab-kitab sebelumnya, al-qur’an tampil dengan berbagai macam keistimewaan dan penuh dengan kerahasiaan. Diantara sekian banyak keistimewaannya adalah adanya jaminan kemudahan dari sang pemilik al-qur’an sendiri. Sebagaimana firman-Nya:
  
Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran? (Q.S. Alqamar: 17)
Begitu pula dari segi membacanya, bagi siapa saja yang membaca satu huruf dari al-qur’an, maka nilainya dilipatgandakan minimal sepuluh kebaikan. Tentu akan mendapat lebih dari itu, bagi siapa saja yang berusaha memahami isi kandungan sekaligus mengamalkannya. Bahkan satu malam yang hanya 12 jam, ketika tersentuh oleh al-qur’an, maka nilai malam itu menjadi lebih baik dari seribu bulan.
Allah SWT. Mengatakan bahwa al-qur’an adalah nur bagi umat manusia. Manusia tidak mampu membedakan mana boleh dan yang dilarang. Tanpa al-qur’an, hidup manusia senantiasa dikejar dan dihantui perasaan kalut, susah, dan semakin jauh dari kebahagiaan.[12]
Al-qur’an adalah sumber utama ajaran islam. Hukum-hukum islam yang mengandung serangkaian pengetahuan tentang aqidah keagamaan, keutamaan akhlak, dan prinsip-prinsip umum segala perbuatan serta seluruh aspek kehidupan[13]
Kata ad-din (agama) menurut kebiasaan al-qur’an berarti jalan hidup. Orang-orang yang beriman dan kafir pasti memiliki suatu agama, karena setiap orang mengikuti hukum-hukum tertentu dalam perbuatannya, dan hukum itu disandarkan kepada nabi dan wahyu, atau ditetapkan oleh seseorang atau suatu masyarakat .[14]
Secara kuantitatif, persoalan keimanan menempati bagian terbesar al-qur’an. Persoalan moral datang berikutnya, disusul ritual-ritual, dan kemudian aturan-aturan hukum. Jadi, al-qur’an seluruhnya 114 surat berisi kurang lebih 6200 ayat. Dari jumlah itu, 100 ayat yang membahas persoalan peribadatan, 70 ayat urusan pribadi, perdata 70 ayat, hukum pidana 30 ayat, persoalan dan kesaksian 20 ayat.[15]
B.     Perbedaan antara Al-Qur’an, Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi
Ada beberapa perbedaan antara al-qur’an, hadits qudsi dan hadits nabawi, diantaranya adalah, Lafadz dan makan al-qur’an dari Allah, maka itu adalah wahyu. Sedangkan hadit qudsi wahyu dalam makna bukan dalam lafadz, maknaya berasal dari Allah dan lafadznya dari Nabi SAW. Selanjutnya akan kami jelaskan lebih lanjut pada bagian “perbedaan al-qur’an dengan hadits qudsi” yang akan datang.
Perbedaan hadits qudsi dengan hadits Nabawi terbagi menjadi dua:
1.      Hadits qudsi bersifat tauqifi, maksudnya adalah secara makna atau kandungan isinya berasal dari wahyu Allah, namun redaksionalnya disusun oleh Rasulullah dengan kata-katanya sendiri.
2.      Hadits Nabawi bersifat taufiqi, maksunya adalah baik secara makna atau kandungan isinya ataupun redaksionalnya, kedua-duanya berasal dari Rasulullah, maknanya disimpulkan oleh rasulullah berdasarkan pemahamannya terhadap al-qur’an dan menyimpulkannya dengan pertimbangan dan ijtihad. Bagian kesimpulan yang bersifat ijtihad inidiperkuat oleh wahyu bila ia benar dan jika ternyata ijtihadnya salah maka turunlah wahyu yang membetulkannya.[16]




C.    Hadits Qudsi
Secara bahasa (Etimologis), kata ﺍﻠﻘﺪﺴﻲ dinisbahkan kepada kata ﺍﻠﻘﺪﺲ (suci). Artinya, hadits yang dinisbahkan kepada Dzat yang Maha suci, yaitu Allah Ta'ala.
Dan secara istilah (terminologis) definisinya adalah:
ما نقل إلينا عن النبي صلى الله عليه وسلم مع إسناده إياه إلى ربه عز وجل
Sesuatu (hadits) yang dinukil kepada kita dari Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam yang disandarkan beliau kepada Rabb-nya.[17]
Hadits qudsi adalah hadits yang oleh Nabi SAW disandarkan kepada Allah SWT. Maksudnya nabi meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam Allah, maka nabi menjadi perawi kalam Allah ini dengan lafadl dari nabi sendiri. Hadits qudsi dapat dikenali dengan redaksional:
 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه عز وج
“Rasulullah saw bersabda mengenai apa yang diriwayatkan dari Rabb-nya”,
Atau dengan redaksi:
قال الله تعالى، فيما رواه عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Rasulullah saw bersabda, “Allah ta’ala berfirman”, atau yang sejenis dengan itu.
Seperti hadits berikut:



“Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw bersabda: allah swt berfirman: “Aku senantiasa dalam persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, dan aku bersamanya bila ia mengingat-Ku, maka jika a mengingatku maka aku mengingatnya…(HR. Al-Bukhari dan Muslim)[18]
D.    Perbedaan antara Al-Qur’an dan Hadits Qudsi
1.         Al-qur’an itu lafadz dan maknanya dari Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah juga sebagai mukjizat. Sedangkan hadits qudsi maknanya dari Allah dan lafadznya dari Nabi saw.
2.         Al-qur’an hanya dinisbatkan kepada Allah, sehingga dikatakan: قال الله تعالى
Sedangkan hadits qudsi disandarkan kepada Allah swt. dan lafadznya dari Rasulullah. Sehingga dikatakan: قال الله تعالى، فيما رواه عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم
3.         Al-qur’an disyaratkan mutawatir dalam periwayatannya, sehingga kepastiannya sudah pasti, sedangkan dalam hadits qudsi tidak disyaratkan mutawatir, kebanyakan hadits ahad, adakalanya hadits qudsi itu shahih, terkadang hasan (baik) dan terkadang pula dha’if (lemah).
4.         Al-qur’an itu lafadz dan maknanya wahyu dari Allah, sedangkan hadits qudsi maknaya wahyu dari Allah, tetapi lafadznya dari Rasulullah sendiri.
5.         Membaca Al-qur’an termasuk ibadah dan mendapatkan pahala, dan ia harus dibaca didalam shalat,sebagaimana sabda Rasulullah saw.:




“barang siapa membaca satu huruf dari al-qur’an maka ia mendapatkan satu kebaikan, dan setiap kebaikan akan digandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf . ( HR. Al-Tirmidzi)
6.         sedangkan membaca hadits qudsi bukanlah termasuk ibadah dan tidak mendapat pahala sebagaimana pahala membaca al-qur’an.[19]




Daftar Pustaka

Qatta, Manna’. Fi Ulumi Al-Qur’an,
Katsir, Ibn, Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim,Vol. 1, Semarang: Toha Putra.
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa, Tarjamah Tafsir Al-Maraghi,Vol. 4,5 dan 4. Semarang: Toha Putra, 1993
Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz 5-6. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1987.
Djalal, H.A. Abdul, Ulumul Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu, 2008
Al-A’zami, M.M, The History of The Qur’anic Text, From Revelation to Compilation, Jakarta: GIP, 2005.
Abdul Halim, Muhammad, Memahami Al-Qur’an, Pendekatan Gaya dan Tema, Bandung:Marja’, 2002.
Thabathaba’I, Allamah M.H, dan Az-Zanjani, Abu Abdullah, Mengungkap Rahasia Al-Qur’an, Bandung: Pustaka Mizan, 2009.
Jum’ah, Ahmad Khalil, Al-Qur’an Dalam Pandangan Sahabat Nabi, Jakarta: Gema Insani Press, 1994
Anam, Chairul. Husein, Syaiful. Fitriadi, Irwan Mudiaharjana, Psikologi Al-Qur’an Bukan Sekedar Teori, Bandung: Cahaya Iman & Bedha, 2008.
Setiawan, Nur Kholis, Akar-Akar Pemikiran Progresif dalam Kajian Al-Qur’an, Yogyakarta: Sukses Offset, 2008.
Horriyah, Kisah-Kisah Sangat Misterius, SuperInspiratif Dalam Al-Qur’an, Jogjakarta:Bening, 2011.
Rowi, Roem, Tentram Bersama Al-Qur’an, Cahaya Al-Qur’an, Surabaya: Minka, Edisi, 6 Agustus 2011.
Hadits Web. http://www.opi.110mb.com/ Apa itu Hadits Qudsi?, 12 april 2004
http://www.masgunku.wordpress.com, Pengertian Al-Qur’an, 20 Februari 2009




[1] Manna’ Al-Qattan, Mabahits Fi Ulumi Al-qur’an, 20.
[2] M. Abdul Halim, Memahami Al-qur’an, Pendekatan Gaya dan Tema, (Bandung: Marja’, 2002), 14.
[3] Mu’jam Al-Wasit, jilid 1: 750
[4] Manna’ Al-Qattan, MabahitsFi Ulumi Al-qur’an, 21.
[5] P.M. Gunawan, “Pengertian Al-qur’an”, dalam http://www.masgunku.wordpress.com/, (20 Februari, 2009), 2.
[6] Ibid.
[7] Manna’ Al-Qattan, MabahitsFi Ulumi Al-qur’an, 21.
[8] ibid
[9] maksudnya jin dan manusia.
[10] ayat Ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.
[11] Manna’ Al-Qattan, MabahitsFi Ulumi Al-qur’an, 22.
[12] Roem Rowi, “Tenteram bersama Al-Qur’an, Cahaya Al-Qur’an”, Minka, (6 Agustus, 2011), 4.
[13] M.H. Thabathaba’I, mengungkap rahasia al-qur’an, (Bandung: Mizan 2009), 33.
[14] Allamah M.H. Thabathaba’i, Mengungkap Rahasia Al-qur’an, (Bandung: Mizan,a 2009), 34.
[15] M. Abdul Halim, Memahami Al-qur’an, Pendekatan Gaya dan Tema, (Bandung: Marja’2002), 19.
[16] Manna’ Al-Qattan, MabahitsFi Ulumi Al-qur’an, 27.
[17] Hadits Web, dalam http://www.opi.110mb.com/ (12 April, 2004), 1.
[18] Manna’ Al-Qattan, MabahitsFi Ulumi Al-qur’an, 25.
[19]  Ibid. 26