Rabu, 24 Juni 2015

Filsafat Umum: IDEALISME


Oleh: Bakhtiar Nurdin
Idealisme adalah salah satu aliran etika yang tidak memerlukan pemikiran lebih panjang yang bersifat teoritis. Tetapi kemudian, dengan kepentingan-kepentingan manusia, idealisme memperoleh kekuatan yang sukar  untuk diatasi. Idealisme telah dianut oleh tokoh-tokoh pemikir, baik dari Barat atau  dari Timur selama lebih dari dua ribu tahun. Selama pertengahan kedua dari abad ke 19, idealisme merupakan filsafat Barat yang dominan.[1]
Pada dasarnya idealisme merupakan salah satu aliran etika metafisik yang berpendirian bahwa wujud yang paling dalam dari kenyataan ialah yang bersifat kerohanian. Dalam persoalan etika, aliran idealisme berpendapat bahwa perbuatan manusia harus didasarkan pada prinsip-prinsip kerohanian yang lebih tinggi. Misalnya orang berbuat baik bukan karena dianjurkan oleh orang lain atau untuk mendapat sanjungan (pujian), tetapi didasarkan kemauan sendiri yang didorong oleh tanggung jawab dan kewajiban.[2]
1.        Definisi Idealisme
Kata idealis dalam filsafat mempunyai arti yang berbeda dari artinya dalam bahasa sehari-hari. Secara umum, kata itu berarti, (1) Seorang yang menerima ukuran moral yang tinggi, estetika dan agama serta menghayatinya. (2) Orang yang dapat melukiskan dan menganjurkan suatu rencana atau  program yang belum ada. Tiap pembaharu sosial adalah seorang idealis dalam arti kedua ini, karena itu menyokong sesuatu yang belum ada. Mereka yang berusaha mencapai perdamaian yang abadi atau memusnahkan kemiskinan dapat juga dinamakan idealis. Seseorang yang memperjuangkan tujuan-tujuan yang dipandang orang lain tidak mungkin dicapai, atau seseorang yang menganggap sepi fakta-fakta dan kondisi-kondisi sesuatu situasi, sering dinakan mere idealist (idealis semata-mata).
Idealisme, kadang-kadang digunaka istilah mentalisme atau imaterialisme, yaitu keyakinan bahwa hanya roh, jiwa, pikiran dan isinya yang ada.[3]
W.E. seorang Idealis mengatakan bahwa kata-kata “idea-ism” adalah lebih tepat daripada “idealism”. Idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, akal (mind) atau jiwa (selves) dan bukan benda material dan kekuatan. Idealisme menekankan “mind” (akal) sebagai hal yang lebih dahulu daripada materi. Maka idealisme mengatakan bahwa akal itu adalah riil dan dan materi adalah sampingan.[4]
Pandangan salah satu bentuk idealisme adalah semua yang kita peroleh adalah ide-ide dan tiada lain kecuali ide-ide, karena kita tidak dapat bergerak ke luar dari ide-ide, maka kita tidak akan dapat benar-benar mengetahui bahwa ide-ide tersebut merupakan salinan sesuatu, juga kita tidak dapat mengetahui sesuatu kecuali adanya ide-ide.[5]
Idealisme adalah suatu pandangan dunia atau metafisik yang mengatakan bahwa realitas dasar terdiri atas ide, pikiran atau jiwa. Dunia mempunyai arti yang berlainan dari apa yang nampak pada permukaannya. Dunia difahami dan ditafsirkan oleh penyelidikan tentang hukum-hukum pikiran dan kesadaran, tidak hanya oleh metode ilmu obyektif semata-mata.
Oleh karena alam mempunyai arti dan maksud, yang diantara aspek-aspeknya adalah perkembangan manusia, maka seorang idealis berpendapat bahwa suatu harmoni yang dalam antara manusia dan alam. Apa yang “tertinggi dalam jiwa” juga merupakan “yang terdalam dalam alam”. Oleh karena alam ini merupakan suatu sistim yang logis dan spiritual, dan hal ini tercermin dalam usaha manusia untuk mencari kehidupan yang baik. Jiwa (self) bukannya satuan yang terasing atau tidak riil, ia adalah bagian yang sebenarnyadari proses alam. Proses ini dalam tingkat yang tinggi menunjukkan dirinya sebagai aktifitas, akal, jiwa atau perorangan. Manusia sebagai suatu bahagian dari alam menunjukkan struktur alam dalam kehidupan sendiri.[6]
Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah madzhab epistemologi yang mengjarkan bahwa pengetahuan a priori dapat atau deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya.[7]
2.        Jenis-jenis Idealisme
Beriut adalah pengelompokan jenis-jenis idealisme,
1.         Idealisme Subyektif
Tokoh idealisme subyektif adalah Schelling menamakan idealisme fichte, ia berpendapat bahwa kemauan moral sebagai yang utama dalam idealisme.[8]
Jenis idealisme ini kadang dinamakan “mentalisme” atau “fenomenalisme”. Jenis ini paling banyak mendapat tantangan. Seorang idealis subyektif  berpendirian bahwa akal, jiwa dan persepsi-persepsinya atau ide-idenya merupakan segala yang ada. Seorang idaelis subyektif tidak mengingkari adanya alam yang riil. Yang menjadi permasalahan bukan adanya benda-benda itu, akan tetapi bagaimana alam itu diinterpretasikan. Alam tidak berdiri sendiri, bebas dari orang yang mengetahuinya. “Bahwa dunia luar itu ada”, (menurut seorang idealis subyektif), mempunyai arti yang sangat khusus, yakni yakni bahwa kata “ada” itu dipakai dalam arti yang sangat berlainan dari arti yang sangat berlainan dari arti yang biasa yang kita pakai. Bagi seorang idealis subyektif apa yang ada (dalam arti biasa) adalah akal dan ide-idenya.[9] Dasar perenungan dalam system-sistem ini dicari dan didapat pada dasar tindakan ialah aku yang merupakan subyek yang sekongkrit-kongkritnya. Dari suatu dasar menurunkan kesimpulan serta memberikan keterangan keseluruhan ada itu ada yang menyebut idealisme. Sebaliknya, oleh karena, idealisme ini berdasarkan atas subyek, maka sering disebut idealisme subyektif.[10]
Ajaran idealisme menegaskan bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan kenyataan adalah mustahil. Pengetahuan adalah proses mental atau proses psikologis yang bersifat subjektif.
Selain itu idealisme subjektif  juga akan menimbulkan kebenaran yang relative karena setiap individu berhak menolak kebenaran yang datang dari luar dirinya. Akibatnya, kebenaran yang bersifat universal tidak diakui. Kalau demikian jadinya, aturan-aturan agama dan kemasyarakatan hanya bisa benar untuk kelompok tertentu dan tidak berlaku bagi kelompok yang lain.[11]
Jika kita mengatakan bahwa benda-benda itu ada ketika benda-benda itu tidak terlihat dan bahwa kita percaya kepada wujud yang berdiri sendiri dari dunia luar, Berkeley menjawab bahwa ketertiban dan konsistensi alam adalah riil dan disebabkan oleh akal yang aktif yaitu akal tuhan. Tuhan, akal yang tertinggi, adalah pencipta dan pengatur alam. Dan kehendak Tuhan adalah pencipta dan pengatur alam. Dan kehendak Tuhan adalah hukum alam.[12]


2.         Idealisme Obyektif
Banyak filsof idealis, dari plato , Hegel sampai filsafat masa kini menolak subyektifitisme. Mereka berpendapat bahwa dunia luar itu adalah buatan manusia. Mereka berpendapat bahwa peraturan dan bentuk dunia, begitu juga pengetahuan, adalah ditentukan oleh watak dunia itu sendiri. Akal menemukan peraturan alam. Mereka itu idealis dalam memberikan interpretasi kepada alam sebagai suatu bidang yang dapat dipahami, yang bentu sistematikanya menunjukkan susunan yang rasional dan bernilai.[13]
Plato menamakan realitas yang fundamental dengan nama ide, Plato percaya bahwa di belakang alam perubahan atau alam empiris, alam fenomena yang kita lihat atau kita rasakan, terdapat alam ideal, yaitu alam esensi, form atau ide. Bagi plato, dunia dibagi dalam dua bagian. Pertama, dunia persepsi, dunia penglihatan, suara dan benda-benda individual. Kedua terdapat alam di atas alam benda, yaitu alam konsep ”manusia” mengandung realitas yang lebih besar.
Hegel membentangkan suatu konsepsi yang dinamik tentang jiwa dan lingkungan. Jiwa dan lingkungan itu adalahbegitu berkaitan sehingga kita tidak dapat mengadakan pembedaan yang jelas antara keduanya. Jiwa mengalami realitas setiap waktu yang universal selalu ada dalam pengalaman khusus yang dinamis.
Kelompok idealis obyektif  tidak mengingkari adanya realitas luar atau realitas obyektif. Mereka percaya bahwa sikap sikap mereka adalah satu-satunya sifat yang bersifat adil kepada segi obyektif dari pengalaman, karena mereka menemukan dalam alam prinsip: tata tertib, akal dalam maksud yang sama seperti yang ditemukan manusia dalam dirinya sendiri.[14]
3.         Idealisme Personal atau Personalisme
Personalisme muncul sebagai protes terhadap materialism mekanik dan idealisme monistik. Bagi seorang personalis,realitas dasar itu bukannya pemikiran yang abstrak atau proses pemikiran yang khusu, akan tetapi seseorang, suatu jiwa atau seorang pemikir. Jiwa (self) adalah satuan kehidupan yang tak dapat diperkecil lagi.
Bagi kelompok personalis, alam adalah suatu tata tertib yang obyektif, walaupun begitu alam tidak berada sendiri. Manusia mengatasi alam jika mengadakan interpretasi terhadap alam itu. Sains mengatasi materialnya melalui teori-teorinya.alam arti dan alam nilai menjangkau lebih jauh dari alam semesta sebagai penjelasan akhir.
Sebagai suatu kelompok, pengikut aliran idealisme personal menunjukkan perhatian yang lebih besar kepada etika dan lebih sedikit kepada logika daripadia pengikut idealisme mutlak. Mereka percaya bahwa proses hidup itu lebih penting daripada bentuk-bentuk atau arti yang tetap dan mereka menekankan realisasi kemampuan dan kekuatan seseorang, dengan jalan kemerdekaan dan mengontrol diri sendiri. Oleh karena personalitas mempunyai nilai yang  tinggi dari yang lannya, maka harus diatur sedemikian rupa sehingga tiap orang dapat memperoleh kehidupan dan kesempatan yang sebesar-besarnya.[15]
4.         Implikasi Idealisme
Manusia memang betempat di alam. Bagi seorang idealis, manusia itu merupakan bagian dari proses, oleh karena itu ia bersifat natural, ia bersifat spiritual dalam arti bahwa di dalamnya terdapat sesuatu yang tak dapat hanya dianggap sebagai materi.[16]
Menurut Pascal, manusia besar karena fikiran dan kesadaran refleksinya. Tatapi katanya lagi, ada hal-hal yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh pikiran manusia, yaitu pikiran manusia itu sendiri. Satu-satunya jalan untuk mengetahui manusia adalah kembali kepada Tuhan, yaitu melalui agama.[17]
Bagi kelompok idealis, Tuhan bukan suatu bagian dari alam akan tetapi adalah prinsip hidup yang ada dalam alam. Ia terdapat dalam proses alam, sejarah, tata tertib social dan khususnya dalam hati mausia, sebagai akibatnya, perbedaan yang lama antara natural dan supranatural condong untuk hilang dalam idealisme monoistik.[18]
5.         Hubungan Kemasyarakatan Manusia
Bagi seorang idealis, hukum moral ialah setiap tindakan harus merupakan langkah menuju kesempurnaan spiritual. Itu hanya dapat dicapai pada masyarakat-masyarakat yang anggota-anggotanya yang bebas merealisasi diri mereka dalam kerja untuk masyarakat. Pada tingkatan yang lebih tinggi, keimanan dan harapa manusia muncul dari kasih saying Allah.[19]
Pada umumnya kelompok idealis condong untuk menghormati kebudayaan atau tradisi. Mereka menganggap nilai-nilai kehidupan itu mempunyai dasar dalam bidang yang lebih tinggi daripada sekedar partukular (yang khusus), Hegel mengatakan bahwa yang mutlak itu diekspresikan dalam sejarah dan melalui lembaga-lembaga masyarakat.
Filsafat Plato telah member inspirasi kepada banyak gerakan reformasi idealismenya, yakni pandangannya, bahwa idea tau universal adalah esensi yang trasenden, yang telah membawa kita kepada perpisahan antara dunia sekarang dan alam yang akan datang, panfangan ini telah menguasai seluruh masyarakat abad pertengahan dan condong untuk menetapkan segala hubungan kemanusiaan. Pandangan ini juga menguatkan ide tentang masyarakat statis.
Bertentangan dengan jenis idealisme Plato, kelompok idealis modern, dari Descartes dan Leibnitz sampai kepada kelompok personalis kontemporer, menekankan “person” atau kesadaran pribadi. manusia dianggap sebagai pelaku moral yang dapat mengungkapkan nilai. Dengan begitu maka idealisme memberi landasan obyektif untuk nilai moral dan kewajiban.[20]
6.         Penilaian Idealisme
Kenyataan bahwa idealisme telah hidup langsung selama berabad-abad dan telah didukung oleh banyak tokoh pemikir di Barat dan di Timur, menunjukkan bahwa ia telah memenuhi suatu kebutuhan. Kekuatan idelaisme  terletak pada tekanannya terhadap person, dan segi mental juga segi spiritual dari kehidupan. Idelisme secara filsafi membenarkan bahwa pribadi itu mempunyai arti dan harga diri, manusia mempunyai nilai dan lebih tinggi daripada lembaga-lembaga dan benda-benda.
Sambil menerima penjelasan ilmiah yang modern tentang alam, idealisme member tempat kepada agama. Nilai-nilai moral dan agama terdapat dalam alam. Dengan begitu idealisme adalah sesuai dengan banyak intuisi dan aspirasi manusia. Pengikut idealisme mengatakan bahwa idealisme member dukungan moral kepada intuisi spiritual manusia. Daya tarik idealisme didasarkan atas aspirasi moral manusia dan tidak hanya atas dasar logika atau epistimologi.
Dalam perjuangan mereka untuk kehidupan yang lebih baik, banyak yang merasakan bahwa ada kekuatan di atas mereka yang dapat mereka bersandar kepadanya untuk minta bantuan. Idealisme memberikan penegasan kepada mereka bahwa jiwa dan nilai secara structural adalah bagia dari alam. Dengan begitu kita bisa merasa tentram.[21]
Ada yang mengatakan bahwa kelompok idealis mencampuradukkan antara segi-segi yang “accidental” dan yang “essential” dari benda. Kelompok idealis mengatakan bahwa “existensi” itu bersandar pada akal, kelompok realis menjawab bahwa “dipersepsikan” merupakan suatu segi yang aksidental dari benda, padahal eksistensi adalah yang esensial.
Idealisme dikeritik oleh beberapa ahli teologi yang mengatakan bahwa pandangan intelektual tentang Tuhan atau Zat yang mutlak tidak akan merupakan pengganti untuk hati yang merana atau sesuatu keputusan. Mereka mengatakan bahwa idealisme mempunyai gambaran yang sangat optimis tentang manusi dan alam.[22]

KESIMPULAN
Kata idealis dalam filsafat mempunyai arti yang berbeda dari artinya dalam bahasa sehari-hari. Secara umum, kata itu berarti, Seorang yang menerima ukuran moral yang tinggi, estetika dan agama serta menghayatinya. Orang yang dapat melukiskan dan menganjurkan suatu rencana atau  program yang belum ada. Tiap pembaharu sosial adalah seorang idealis dalam arti kedua ini, karena itu menyokong sesuatu yang belum ada.
Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah madzhab epistemologi yang mengjarkan bahwa pengetahuan a priori dapat atau deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya.
Jenis-jenis idealisme meliputi: Idealisme subyektif, berpendirian bahwa akal, jiwa dan persepsi-persepsinya atau ide-idenya merupakan segala yang ada. Idealisme Objektif, tidak mengingkari adanya realitas luar atau realitas obyektif. Mereka percaya bahwa sikap sikap mereka adalah satu-satunya sifat yang bersifat adil kepada segi obyektif dari pengalaman, karena mereka menemukan dalam alam prinsip: tata tertib, akal dalam maksud yang sama seperti yang ditemukan manusia dalam dirinya sendiri. Idealisme Personal atau Personalisme Bagi kelompok personalis, alam adalah suatu tata tertib yang obyektif. Implikasi Idealisme,Hubungan kemasyarakatan.Penilaian Idealisme.

DAFTAR PUSTAKA

Suhar, AM. Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan Aliran, GP. Press, Jakarta, 2010.
Poedjwijatama. Pembimbing Kearah Alam Filsafat, Bina Aksara, Jakarta, 1986.
Baktiar, Amsal.Filsafat Ilmu, Rajawali Pers, Jakarta, 2011.
Supriyadi, Dedi. Pengngantar Filsafat Islam, Pustaka Setia, Bandung, 2010.
Louis O. Kattsoff, Pengntar Filsafat, Tiara Wacana, Yogyakarta, 2004.
Hamzah abbas, Pengantar Filsafat  Alam, Al-Ikhlas, Surabaya, 1981.
Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.
Suhartono, Suparlan. Dasar-dasar Filsafat, Ar-Ruz Media Grup, Yogyakarta, 2007.




[1]  H. Suhar AM. Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan Aliran, (Jakarta: GP Press, 2010), 211
[2]  Ibid, 211.
[3]  Lorent Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia), 300.
[4]  Ibid, 213.
[5]  Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), 151.
[6]  H. Suhar AM. Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan Aliran, (Jakarta: GP Press, 2010), 213.
[7]  Achmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), 144.
[8]  Ibid, 146.
[9]  Ibid, 216.
[10]  I.R. Poedjawijatna, Pembimbing Karah alam Filsafat, (Jakarta: Bina Aksara: 1986), 114.
[11]  Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Rajawali Pers: 2011), 97-98.
[12]  H. Suhar AM. Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan Aliran, (Jakarta: GP Press, 2010), 217.
[13]  Ibid, 217.
[14]  Ibid, 219.
[15] Ibid, 221.
[16]  Ibid, 222.
[17]  Achmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), 155.
[18]  H. Suhar AM. Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan Aliran, (Jakarta: GP Press, 2010), 222.
[19]  Ibid, 147.
[20]  Suhar AM, Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan aliran, (Jakarta: GP. Pres, 2010), 221.
[21]  Suhar AM. Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan Aliran, (Jakarta: GP Press, 2010), 224.
[22]  Ibid, 225.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar