Oleh: Baktiar Nurdin
Dunia pendidikan di tanah air selama
ini, terasa tidak lebih dari apa yang disebut dengan pabrik intelektual.
Sedangkan hakikat pendidikan seutuhnya seakan terabaikan begitu saja.
Mengidentifikasikan bahwa dunia pendidikan kita telah mengalami pergeseran dari
nilai-nilai sejatinya. Digantikan dengan produk-produk egoisme diri dan
kebinatangan yang semakin serakah, tidak adil dan hampa akan nilai-nilai
filosofis. Aksentuasinya terletak pada pembentukan watak dan wawasan para intelektual
kita yang hanya terjebak pada nilai-nilai kehidupan yang kering akan moralitas
dan etika dalam kehidupan bermasyarakat.
Asumsi itu tidak lain didasarkan
adanya beragam fakta yang menunjukkan bahwa di segala jenjang dan bidang
kehidupan di negeri ini mengalami krisis filosofi hidup. Mereka yang terdidik
justru menjadi koruptor sedangkan mereka yang tidak terdidik malah menjadi
maling. Ada pula golongan yang kebingungan, lalu menjadi tukang pengisap
sabu-sabu dan terjerumus pada narkoba. Padahal tujuan pendidikan sebenarnya
adalah melahirkan individu-individu yang merdeka, matang, bertanggungjawab dan
peka terhadap permasalah sosial di lingkungan sekitarnya.
Dalam pusaran arus globalisasi
misalnya, kenyataan di lapangan memperlihatkan pendidikan kita juga belum mampu
menciptakan peserta didik yang kritis dan memiliki kemampuan dalam menghadapi
tantangan global yang kian menindas dan mencengkram. Dalam keadaan inilah
pendidikan mestinya tidak bebas nilai, sebaliknya pendidikan haruslah
berkepentingan. Kepentingan-kepentingan untuk melahirkan calon-calon penerus
bangsa ini yang mampu menghadapi segala tantangan yang akan dihadapi bangsa ini
di masa mendatang.
Kondisi dunia pendidikan yang
semakin digerogoti oleh semangat kapitalisme. Sebuah studi kritik atau
problematisasi terhadap modernisme pendidikan. Mengupas tuntas beberapa dampak
nalar filsafat modern terhadap penyelenggaran pendidikan termasuk didalamnya
semangat pengetahuan yang dikembangkan. Kita dibuat bukan lagi menjadi diri
kita sendiri, melainkan kita hanya menjadi representasi dari ambisi dan
keserakahan sistem kapitalisme.
Membahas secara tuntas berbagai
kebobrokan sistem dan kebijakan pendidikan serta berbagai akibat yang
ditimbulkan. Permasalah-permasalah pendidikan di tanah air yang juga tidak
pernah terlepas dari politik penguasa terhadap dunia pendidikan itu sendiri.
Rasionalisme, Empirisme, Positivisme
dan Saintisme telah menjadi tren pengetahuan yang tidak dapat dihindari bahkan
disakralkan. Singkatnya, di era kapitalisme yang sedang berkuasa ini,
pendidikan berarti membangun komformitas kesadaran peserta didik dengan
struktur pengetahuan dan sistem sosial yang sedang berlaku. Manusia sudah tidak
lagi menjadi subjek, tetapi menjadi objek dari regulasi sistem pengetahuan dan
sistem sosial yang telah tercipta sebelumnya.
Seorang futurology yang cukup
terkenal, Alfin Tofler, menggunakan istilah “kejutan masa depan” untuk
menggambarkan situasi sekarang yang membuat kita terlempar pada suatu kondisi
dimana kita mengalami tekanan yang mengguncang dan menghilangkan orientasi
individu disebabkan kita dihadapkan dengan terlalu banyak perubahan dalam waktu
yang terlalu singkat.[1]
Konsep pendidikan alternatif yang
harus diimplementasikan dewasa ini adalah konsep pendidikan yang bervisi
transformatif sekaligus berwawasan global. Model pendidikan yang bersifat
kooperatif terhadap segala kemampuan peserta didik menuju proses berfikir yang
bebas dan inovatif. Menghargai sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki
setiap individu dengan membiarkan potensi-potensi itu tumbuh dan berkembang
secara wajar dan manusiawi bukan malah dimatikan dengan berbagai bentuk
penyeragaman dan sanksi.
Pendidikan kritis transformatif pada
dasarnya adalah model pendidikan yang bersifat kooperatif. Memberikan ruang
pada segenap kemampuan peserta didik menuju proses berpikir yang lebih bebas
dan kreatif. Sebuah model pendidikan yang menghargai potensi yang ada pada
setiap individu-indvidu anak didik. Bentuk pendidikan yang memiliki arah dan
tujuan keluar dari kemelut dan problematikan internal maupun eksternal yang
dihadapi oleh dunia pendidikan nasional.
Dalam pendidikan kritis
transformatif, ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang dikomunikasikan oleh makna
narasi atau yang disebut dengan grand narasi. Grand narasi adalah sesuatu yang
diklaim sebagai suatu teori yang dapat menjelaskan segala sesuatunya. Konsep
pendidikan seperti ini akan membentuk peserta didik sebagai subjek yang akan
menentang adanya struktur hierarki ilmu pengetahuan.
Secara umum dalam makalah ini
mengulas gagasan-gagasan konstruktif dan mendetail atas konsep pendidikan
altenatif dalam mengkritisi dunia pendidikan dewasa ini. Bentuk pendidikan yang
berorientasikan pada pendidikan kritis transformatif. Sebuah konsep pendidikan
alternatif yang diharapkan mampu menyiapkan bekal bagi setiap peserta didik
dalam menghadapi dan memecahkan problem hidup dan kehidupan. Konsep pendidikan
yang selalu mengedepankan nilai-nilai humanis dalam kehidupan namun juga mampu
membaca kondisi riil masyarakat di dunia global saat ini serta berwawasan masa
depan. Menjadikan buku ini teramat penting untuk kiranya dapat kita jadikan
referensi bersama.
Jika di negara-negara maju,
penyelenggaraan pendidikan telah membuktikan hasil nyata. Dalam beberapa abad
terakhir ini perkembangan pendidikan mengalami kemajuan pesat dan spektakuler
terutama dalam hal rekayasa ilmu pengetahuan dan teknologi. Mendorong kehidupan
masyarakat menjadi tangguh dan berkecukupan. Segala kebutuhan hidup
bermasyarakat dapat terpenuhi secara lebih mudah dalam waktu yang cepat dan
praktis. Era teknologi dan perindustrian, sebagai salah satu cermin kemajuan
pendidikan kontemporer.[2]
A. Pengertian
Istilah pendidikan alternatif merupakan istilah khusus dari berbagai
program pendidikan alternatif memiliki karakteristik sebagai berikut:
pendekatannya bersifat individual, memberi perhatian besar (kepada peserta
didik, orang tua/keluarga, dan pendidik) serta dikembangkan berdasarkan minat
dan pengalaman.
Kelas terbuka
yang secara sederhana berarti bahwa masing-masing subjek diajar dengan
memperkenalkan berbagai aktifitas dan pengalaman yang dapat dipilih oleh siswa
sesuai dengan minat dan kemampuannya masing-masing. Masing-masing siswa dinilai
menurut usaha dan kemajuan yang mereka capai dan mereka hanya bersaing dengan
dirinya sendiri. Setiap pekerjaan atau tugas yang telah mereka selesaikan
dibuat catatan yang terperinci, dan dibahas dalam konferensi antar siswa dan
para guru guna membantu mereka memahami keterampilan apa yang mereka butuhkan
untuk berkembang dan tujuan belajar individual mereka. Orang tua diberi laporan
kemajuan belajar anak secara utuh dan terperinci, dan secara berkala diundang
untuk mengikuti konferensi antara siswa dan guru.
B. Macam-Macam Pendidikan Alternatif
Menurut Jery Mintz (1994) pendidikan alternatif dapat dikategorikan dalam
empat bentuk pengorganisasian, yaitu:
1. Sekolah Umum Pilihan
(Public Choice)
Sekolah umum pilihan
adalah lembaga pendidikan dengan biaya negara (dalam pengertian sehari-hari
disebut sekolah negeri) yang menyelenggarakan program belajar dan pembelajaran
yang berbeda dengan program regular (konvensional), namun mengikuti sejumlah
aturan baku yang telah ditentukan. Contoh : SMP Terbuka, SMA Terbuka, Sekolah
Bibit (Taruna Nusantara, Sekolah Analisis Kimia, dan SMA Angkasa ), dan Kejar
Paket (A, B, dan C).
Pendidikan kesetaraan
meliputi program Kejar Paket A setara SD (6 tahun) ,Paket B setara SMP (3
tahun), dan Paket C setara SMA (3 tahun). Program ini semula ditujukan bagi
peserta didik yang berasal dari masyarakat yang kurang beruntung, tidak pernah
sekolah, putus sekolah dan putus lanjut, serta usia produktif yang ingin
meningkatkan pengetahuan dan kecakapan hidup. Tidak ada batasan usia dalam
program kesetaraan ini. Pegawai negeri, ABRI, anggota DPR, karyawan pabrik banyak
yang memanfaatkan program kesetaraan ini untuk meningkatkan kualifikasi ijazah
mereka.
Definisi mengenai setara
adalah sepadan dalam civil effect, ukuran, pengaruh, fungsi dan kedudukan.
Sebagaimana yang tercantum dalam UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Pasal 26 Ayat (6) bahwa " Hasil pendidikan nonformal dapat
dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses
penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau
Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan."
Oleh karena itu,
pengertian pendidikan kesetaraan adalah jalur pendidikan nonformal dengan
standar kompetensi lulusan yang sama dengan sekolah formal, tetapi kontens,
konteks, metodologi, dan pendekatan untuk mencapai standar kompetensi lulusan
tersebut lebih memberikan konsep terapan, tematik, induktif, yang terkait
dengan permasalahan lingkungan dan melatihkan kecakapan hidup berorientasi
kerja atau berusaha sendiri. Dengan demikian pada standar kompetensi lulusan diberi
catatan khusus. Catatan khusus ini meliputi: pemilikan keterampilan dasar untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari (Paket A), pemilikan keterampilan untuk memenuhi
tuntutan dunia kerja, dan pemilikan keterampilan berwirausaha (Paket C).
2. Sekolah / Lembaga Pendidikan Umum untuk
Siswa Bermasalah (student at risk)
Sekolah/lembaga pendidikan
umum untuk siswa bermasalah adalah lembaga pendidikan yang diselenggarakan
untuk anak-anak bermasalah. Pengertian “siswa bermasalah” di sini meliputi
mereka yang:
• tinggal kelas karena
lambat belajar,
• nakal atau mengganggu
lingkungan (termasuk lembaga permasyarakatan anak),
• korban penyalahgunaan
narkoba,
• korban trauma dalam keluarga karena perceraian orang tua, ekonomi,
etnis/budaya (termasuk bagi anak suku terasing dan anak jalanan dan
gelandangan),
• putus sekolah karena berbagai sebab,
• belum pernah mengikuti program sebelumnya. Namun tidak termasuk di
dalamnya sekolah luar biasa yang dibangun untuk penyandang kelainan fisik
dan/atau kelainan mental seperti tunarungu, tunanetra, tunadaksa, dsb. Contoh :
SLB E (tunalaras)
Bentuk Layanan Pendidikan bagi Anak Tunalaras
1. Penyelenggaraan
bimbingan dan penyuluhkan di sekolah regular kelas khusus bila anak tunalaras
perlu belajar terpisah dari teman sekelas.
2. SLB-E (bagian
tunalaras) tanpa asrama
3. SLB-E dengan asrama,
bagi anak yang tingkat kenakalan berat
4. Terapi perilaku sosial
5. Terapi kelompok (peer
teaching).
Bentuk satuan dan lama pendidikan bagi anak Tunalaras
1. SDLB lama pendidikan
sekurang-kurangnya 6 tahun
2. SLTPLB lama pendidikan
sekurang-kurangnya 3 tahun.
3. SMALB lama pendidikan sekurang-kurangnya 3 tahun
Tenaga Kependidikan bagi anak Tunalaras adalah:
1. Kepala Sekolah
2. Wakil Kepala Sekolah
3. Guru berlatar belakang
PLB
4. Anggota masyarakat yg
mempunyai keahlian atau kemampuan yg di butuhkan oleh anak tunalaras.
Program pembinaan sekolah anak Tunalaras
1. Sistem pengajaran
a. Sistem pengajaran yang
bersifat penyuluhan (remedial teaching). Tujuan pengajaran ini adalah membantu
murid dalam kesulitan belajar.
b. Sistem pengajaran
klasikal
2. Program Bimbingan
penyuluhan
a. program bimbingan
penyuluhan suasana hidup beragama di asrama
b. program keterampilan
c. program belajar di
sekolah regular
d. program bimbingan
kesenian
e. program kembali ke
orang tua
f. program kembalu ke
masyarakat
g. program bimbingan
kepramukaan
Kurikulum dan program
pengajaran bagi anak Tunalaras:
1. Kurikulum SDLB terdiri
dari :
a. program Umum
b. program Khusus
(disesuaikan dengan jenis kelainan siswa)
c. program Muatan Lokal
(disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan)
2. Kurikulum SLTPLB terdiri dari :
a. program Umum
b. program Khusus
c. program Muatan Lokal
d. program pilihan
(program yang berisi paket keterampilan dgn tujuan untuk membekali siswa hidup
mandiri dalam masyarakat).
3. Kurikulum SMALB
a. program Umum
b. program Pilihan
3. Sekolah / Lembaga Pendidikan Swasta (Independent)
Sekolah/Lembaga Pendidikan
Swasta mempunyai jenis, bentuk dan program yang sangat beragam, termasuk di
dalamnya program pendidikan bercirikan agama seperti pesantren & sekolah
Minggu: lembaga pendidikan bercirikan keterampilan fungsional seperti kursus
atau magang: lembaga pendidikan dengan program perawatan atau pendidikan usia
dini seperti penitipan anak, kelompok bermain dan taman kanak-kanak.
Sekolah Alam
Dalam konsep pendidikan
Sekolah Alam, fungsi alam antara lain :
1. Alam sebagai ruang
belajar
2. Alam sebagai media dan
bahan ajar
3. Alam sebagai objek
pembelajaran
Proses pembelajaran
Sekolah Alam menyandarkan pada 4 (tiga) pilar :
1. Pengembangan akhlak melalui teladan (Learning by Qudwah) melalui konsep
tauladan pengembangan EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient) yang
diimplementasikan secara praktis.
2. Pengembangan logika dan daya cipta melalui Expreriental Learning disusun
secara holistik menggunakan spider web agar logika ilmiah siswa berkembang
secara integral. Sehingga mampu atau terbiasa mengamati fenomena alam, mencatat
data, melakukan eksperimen, dan membentuk sebuah teori.
3. Pengembangan kepemimpinan dengan metode Outbond Training kegiatan utama
berupa Outbond mental education untuk membentuk karakter anak yang memuncak pada
kepemimpinan dengan mengembangkan nilai-nilai adil, amanah, musyawarah,
kerjasama, melindungi, mengayomi, membela kaum tertindas dan menjaga
keseimbangan alam semesta.gai penunjang KBM, dengan penekanan pada pengelolaan
fasilitas yang terdapat di Sekolah Alam Cikeas agar berfungsi optimal.
4. Pengembangan kemampuan berwirausaha
4. Pendidikan di rumah
(home-based schooling)
Pendidikan di rumah
termasuk dalam kategori ini adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh
keluarga sendiri terhadap anggota keluarganya yang masih dalam usia sekolah.
Pendidikan ini diselenggarakan sendiri oleh orang tua atau keluarga dengan
berbagai pertimbangan, seperti: menjaga anak-anak dari kontaminasi aliran atau
falsafah hidup yang bertentangan dengan tradisi keluarga (misalnya pendidikan
yang diberikan keluarga yang menganut fundalisme agama atau kepercayaan
tertentu); menjaga anak-anak agar selamat dan aman dari pengaruh negatif
lingkungan; menyelamatkan anak-anak secara fisik maupun mental dari kelompok
sebayanya; menghemat biaya pendidikan; dan berbagai alasan lainnya.
Homeschooling (Sekolah
rumah), menurut Direktur Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional
(Depdiknas) Ella Yulaelawati, adalah proses layanan Pendidikan yang secara
sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua atau keluarga dan proses belajar
mengajar pun berlangsung dalam suasana yang kondusif.
Tujuannya, agar setiap
potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal. Rumusan yang sama juga
dipegang oleh lembaga-lembaga pendidik lain yang mulai menggiatkan sarana
penyediaan program Homeschooling.
Ada beberapa klasifikasi
format Homeschooling, yaitu:
1. Homeschooling tunggal
Dilaksanakan oleh orangtua
dalam satu keluarga tanpa bergabung dengan lainnya karena hal tertentu atau
karena lokasi yang berjauhan.
2. Homeschooling majemuk
Dilaksanakan oleh dua atau
lebih keluarga untuk kegiatan tertentu sementara kegiatan pokok tetap
dilaksanakan oleh orangtua masing-masing. Alasannya: terdapat
kebutuhan-kebutuhan yang dapat dikompromikan oleh beberapa keluarga untuk melakukan
kegiatan bersama. Contohnya kurikulum dari Konsorsium, kegiatan olahraga
(misalnya keluarga atlit tenis), keahlian musik/seni, kegiatan sosial dan
kegiatan agama
3. Komunitas Homeschooling
Gabungan beberapa
Homeschooling majemuk yang menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar,
kegiatan pokok (olah raga, musik/seni dan bahasa), sarana/prasarana dan jadwal
pembelajaran. Komitmen penyelenggaraan pembelajaran antara orang tua dan
komunitasnya kurang lebih 50-5
C.
Perlunya Alternatif Pendidikan
Perlu diingat
bahwa implementasi program alternative tidak semata-mata karena tersedianya
alternative yang berbeda-beda, tapi lebih ditekankan pada pemahaman yang lebih
baik terhadap kebutuhan anak-anak yang mengalami gangguan emosi. Ada beberapa
faktor mengapa program alternative dibutuhkan, antara lain:
1. Pendidikan
tidak hanya dapat memodifikasi prilaku yang ada, tapi juga dapat menciptakan
cara-cara baru untuk bertindak.
2. Beberapa
prilaku anak-anak yang mengalami gangguan saling berkaitan dengan sikap negatif
mereka di sekolah dan masyarakat.
3. Anak-anak yang
dianggap mengalami gangguan emosi, trouble
atau nakal nampak menarik diri secara psikologis dari sekolah.
Berikut ini adalah beberapa
pertimbangan-pertimbangan yang spesifik mengapa program alternatif sangat
diperlukan (Knoblok, 1983):
1.
Diskriminasi Rasial
Di Amerika pengungkapan yang berlebihan tentang
anak-anak yang minoritas di dalam kelas khusus untuk anak yang mengalami
gangguan emosi tidak mendominasi kota-kota besar. Di Boston kurang dari 20 %
anak dengan gangguan emosi adalah berkulit hitam. Mereka memperoleh penanganan
yang signifikan dengan menggunakan evaluasi dan criteria penempatan yang
subyektif dan bukan secara obyektif.
2.
Putus Sekolah
Pada sebagian besar sistem persekolahan, angka
putus sekolah khususnya anak yang mengalami gangguan emosi dan melakukan
kejahatan sangat tinggi. Karena belum adanya kriteria yang dapat diterima umum
tentang siapa anak yang dianggap putus sekolah, sekolah-sekolah menggunakan
berbagai kriteria untuk menentukan siapa anak yang dianggap putus sekolah.
Angka putus sekolah untuk program pendidikan
khusus seringkali lebih sulit diperoleh sebab pada program itu hampir tidak ada
perjenjangan. Oleh sebab itu, statistik siswa berdasarkan jenjang pendidikan
pada progam pendidikan khusus pada umumnya tidak tersedia.
Dengan memahami alasan-alasan atau pertimbangan
mengapa anak-anak atau remaja itu meninggalkan sekolah, dapat dijadikan sebagai
dasar pertimbangan rasional untuk mengembangkan program alternatif.
KESIMPULAN
Istilah pendidikan
alternatif merupakan istilah khusus dari berbagai program pendidikan alternatif
memiliki karakteristik sebagai berikut: pendekatannya bersifat individual,
memberi perhatian besar (kepada peserta didik, orang tua/keluarga, dan
pendidik) serta dikembangkan berdasarkan minat dan pengalaman.
Macam-Macam
Pendidikan Alternatif
1. Sekolah
Umum Pilihan (Public Choice)
2. Sekolah
/ Lembaga Pendidikan Umum untuk Siswa Bermasalah (student at risk)
3. Sekolah
/ Lembaga Pendidikan Swasta (Independent)
4. Pendidikan
di rumah (home-based schooling)
1. Homeschooling tunggal
2. Homeschooling majemuk
3. Komunitas Homeschooling
Tidak ada komentar:
Posting Komentar