1. Teori belajar dalam Al-Qur'an dan al-hadits
Banyak dalil
menerangkan bahwa islam adalah ajaran yang sempurna,menyangkut berbagai aspek
kehidupan. Atas kesempurnaan itu maka diyakini bahwa jika umat islam berpegang
pada ajaran islam, yaitu Al-Qur'an dan hadits, maka kapan dan dimanapun akan
mendapatkan keselamatan.
Dalam hal
pendidikan, kajian islam dapat dirumuskan melalui perenungan yang mendalam
terhadap dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur'an dan hadits Nabi. Diantara
rumusan-rumusan belajar yang tersirat dalam Al-Qur'an dan hadits sebagai
berikut, (1). Islam mengantarkan pemeluknya kaya akan ilmu pengetahuan, (2).
Islam membangun pribadi unggul, (3). Islam membangun tatanan sosial yang setara
dan berkeadilan (4). Islam memberikan tuntunan ritual untuk memperkaya
spiritual, (5). Islam mengedepankan amal shaleh.
Kelima misi slam tersebut harus dikembangkan secara utuh sebagai satu-kesatuan. Islam tidak hanya dilihat dari aspek ritual, fiqih, akhlak, ibadah, tetapi harus menyeluruh dan komprehensif. Islam harus dilihat sebagai system kehidupan, baik kepentingan pribadi, sosial, lingkungan, dunia juga akhirat. Islam tidak boleh hanya dilihat dari aspek halal dan haram.
Menyangkut ilmu
pengetahuan, islam memandangnya sebagai sesuat yang sangat penting, ayat
Al-Qur'an yang pertama kali turun adalah perintah membaca. Kegiatan membaca
adalah pintu utama untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Dengan demikian
semestinya kewajiban utama seorang muslim adalah belajar membaca, yaitu membaca
dalam pengertian luas, membaca alam semesta, atau bahkan membaca tanda-tanda
zaman. Kita lihat orang yang menguasai dunia, baik dari aspek politik, ekonomi,
sosial dan lainnya adalah orang yang pandai membaca, dan begitu pula
sebaliknya.
Pendidikan
adalah merupakan masalah hidup dan kehidupan manusia, proses pendidikan
berkembang bersama kehidupan manusia, bahkan keduanya merupakan hakikat yang
satu. Ini berarti bahwa seluruh proses hidup dan kehidupan manusia itu adalah
proses pendidikan.[1]
Proses pendidikan manusia dilakukan selama kehidupan manusia itu sendiri, mulai
dari alam kandung sampai sampai lahir di dunia manusia telah melalui proses
pendidikan, hal ini menunjukkan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan
kemuliaan diri di hadapan Allah. Sebagaimana
Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya yang berbunyi:
1 Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2.
Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran
kalam, 5. Dia mengajar kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya.
Melalui
perintah membaca, sebutan Tuhan sebagai
pencipta dan misi Rasulullah adalah membaca ayat-ayat Allah, maka sebenarnya
kewajiban umat islam untuk belajar dan menuntut ilmu yang seluas-luasnya. Bahkan
juga dalam hadits Rasulullah beliau bersabda:
طلُبُ العِلمِ فَرِيضةٌ على كل
مُسلمٍ والمسلمة
"menuntut
ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan" (HR. Ibnu Majah)
Dan dalam
hadits yang lain Rasulullah bersabda:
"Barang
siapa berjalan untuk menuntut ilmu niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan
syurga" (HR. Muslim)
Hadits Abdullah Ibnu Mas'ud ra. Ia berkata:
Rasulullah SAW bersabda: tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali dua
orang, yaitu terhadap orang yang diberikan harta, ia menghabiskannya dalam
kebaikan, dan terhadap orang yang diberika ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu
ia mengejarkan kepada orang lain. (Sahih Muslim. No. 1352)
Dan dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian
mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang
benar!" (Al-Baqarah:31)
Di dalam
Al-Qur'an sendiri telah diisyaratkan tentang pentingnya pendidikan, yang
selanjutnya bisa kita jadikan sebagai inspirasi untuk dikembangkan dalam rangka
membangun pendidikan yang bermutu.
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan
kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah
niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan:
"Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Al-Mujadala: 11)
Al-Qur'an dan
hadits sebaga pembeda, petunjuk dan penjelas tentunya berbicara tentang belajar
dan pendidikan, karena menyangkut kebutuhan hakiki seorang manusia. Ajaran yang
universal tidak mungkin secara operasional dan mendetail memperbincangkan
pendidikan yang amat mendasar.[2]
2.
Klasifikasi unsur-unsur belajar
Belajar adalah
suatu kegiatan pembelajaran yang diarahkan kepada tujuan tertentu. Dalam setiap
pembelajaran setidak-tidaknya terdapat beberapa unsure dinamis yang harus
diperhatikan demi berhasilnya kegiatan belajar tersebut. Unsur-unsur dinamis
tersebut antara lain:
1.
Stimulus
belajar
Dalam
stimulus belajar, bahan yang dipelajari harus disajikan dalam bentuk yang dapat
dikomunikasikan dengan sebaik-baiknya. Bentuk stimulus tersebut dapat berupa
visual, taktik, verbal, auditif dan lain-lain. Yang perlu diperhatikan adalah
bahwa stimulus tersebut dapat bertul-betul mengkomunikasikan informasi atau
pesan yang disampaikan agar dapat diterima dengan baik oleh pendengar/pelajar.
Ada dua cara efektif untuk menyampaikan sebuah pesan, pertama, prinsip
pengulangan (reduandancy) akan membantu memberikan lebih dari sekali kesempatan
pada pendengar untuk menerima dan menstruktur pesan. Kedua, jika mereka
mengulangi pesan atau menyebutkan kembali pesan yang telah disampaikan, maka
dapat diketahui seberapa jauh mereka dapat menerima pesan asli tersebut.
2.
Perhatian
dan motivasi belajar
Secara
garis besar motivasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu intrinsic dan ekstrinsik.
Motivasi intrinsic adalah motivasi yang belajar dari dalam tanpa ada rangsangan
dari luar, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi dari luar.
Ada
beberapa cirri siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Ini dapat
dikenali dalam proses belajar mengajar di kelas, diantaranya tidak bersikap
acuh tak acuh terhadap guru atau pengajar, tertarik pada mata pelajaran yang
diajarkan, mempunyai intensitas yang tinggi, ingin selalu berkumpul dengan
kelompok kelas, tidakan, kebiasaan, dan moralnya selalu dalam control diri,
selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali.
Ciri-ciri
motivasi yang ada dalam diri seseorang adalah: tekun dalam mengerjakan tugas
atau dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, ulet, menghadapi kesulitan
dan tidak mudah putus asa, menunjukkan minat yang besar terhadap bermacam-macam
masalah belajar, dll.
Beberapa
upaya untuk memotivasi belajar siswa:
1.
Kenalkan
siswa terhadap kemampuan yang ada pada dirinya. Dengan mengenal kemampuan
dirinya, siswa akan tahu kelebihan dan kelemahan dirinya.
2.
Bantulah
siswa untuk merumuskan tujuan belajarnya, sebab, dengan merumuskan tujuan
belajar ini, siswa akan mendapatkan jalan yang jelas dalam melakukan aktivitas
belajar.
3.
Tunjukkan
kegiatan atau aktivitas yang dapat mengarahkan bagi pencapaian tujuan belajar.
Dengan demikian siswa tidak melakukan aktivitas lain yang tidak ada kaitan
dengan pencapaian target dan tujuan belajar.
4.
Kenalkan
siswa dengan hal-hal baru. Sebab hal-hal baru dapat menghidupkan kembali
keingin tahuan siswa. Adanya rasa ingin tahu yang demikian besar, menumbuhkan
gairah siswa untuk beraktivitas belajar.
5.
Buatlah
variasi-variasi dalam kebiatan belajar mengajar, supaya siswa tidak bosan.
6.
Adakan
evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan belajar siswa. Keberhasilan siswa dalam
belajar akan menambah motivasi belajar siswa.
7.
Berikan
umpan balik terhadap tugas-tugas yang diberikan dan evaluasi yang telah
dilakukan. Dengan adanya umpan balik, siswa akan mengetahui mana aktivitas
belajarnya yang benar dan mana yang kurang benar, mana pekerjaan yang sesuai
dan mana pekerjaan yang tidak sesuai.[3]
3.
Bahan belajar dan penyediaannya
Yang dimaksud
bahan belajar adalah sesuatu yang harus dipelajari pembelajar dalam melakukan
aktifitas belajarnya. Bahan ini bisa berasal dari guru, buku-buku teks, paper,
makalah, artikel, disamping bisa berasal dari lapangan objek tertentu.
Dalam penyedian
bahan belajar factor yang harus diperhatikan adalah:
1.
Cukup
menarik dari segi bahan dan penyajiannya.
2.
Isinya
relevan. Isi bahan belajar harus mendukung dan member kontribusi terhadap
tujuan pencapaian belajar.
3.
Mempunyai
sekuensi yang tepat atau urutan penyajian yang tepat
4.
Informasi
yang dibutuhkan ada.
5.
Ada
soal-soal latihan.
6.
Ada
petunjuk untuk melakukan perbaikan dan petunjuk lanjutan untuk mempelajari
bahan selanjutnya.
4.
Respon
yang dipelajari
Belajar adalah
suatu proses yang aktif. Apabila proses belajar tidak langsung pada bahan yang
dipelajari maka kegiatan belajar tersebut tidak member pengaruh yang besar.
Seorang pelajar harus mencurahkan perhatiannya kepada objek pembelajaran, serta
mengambil tindakan dan respon yang nyata.
3.
Konsep
belajar menurut pakar pendidikan Islam
1.
Konsep
belajar menurut Al-Ghazali
Al-Ghazali
mempergunakan istilah anak dengan beberapa kata, seperti al-shobiy
(kanak-kanak), al-mutaallim (pelajar) dan thalibul ilmi (penuntut ilmu
pengetahuan). Oleh karena itu istilah anak didik di sisni dapat diartikan, anak
yang sedang mengalami perkembangan jasmani dan rohani sejak awal terciptanya
dan merupakan obyek utama dari pendidikan (dalam arti yang luas).
Adapun
pembahasannya dapat diuraikan sebagai berikut:
1.
Fitrah
menurut Al-Ghazali
2.
Perkembangan
anak didik menurut Al-Ghazali
3.
Etika
anak didik terhadap pendidik menurut Al-Ghazali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar