Oleh: Bakhtiar Nurdin
Sebagai
sebuah kitab suci yang menjadi pegangan umat manusia, al-qur’an merupakan
sumber mata air bagi kehidupan. Al-qur’an tidak akan pernah habis kandungan
ilmu, walau semua manusia menggali dan terus menggali tanpa henti. Al-qur’an
telah dikaji melalaui berbagai macam metode dan pendekatan, namun tidak akan
tuntas diselami seluruh kandungan yang tersembunyi didalamnya.
Al-qur’an
adalah pelipur jiwa, penyejuk mata, penerang akal dan ruh, serta penentram
sukma. Para ualama seakan menyelami untaian mutiara yang terkandung didalamnya
dan merasuk kedalam darah daging mereka, mereka memahami kitab Allah ini karena
mengetahui kenikmatannya.
Melalui
makalah singkat yang jauh dari sempurna ini, kami akan mengetengahkan beberapa
pembahasan awal tentang al-qur’an. Semoga Allah membimbing kami senantiasa
dalam kebenaran. Amin.
A. Ta’rif Al-Qur’an
Al-Qur’an
secara etimologi merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja ﻘﺮﺃ - ﻘﺮﺍﺀﺓ - ﻮﻘﺮﺁﻨﺎ yang
bermakna ﺘﻠﺍ yang berarti membaca. Mayoritas ulama
mengatakan bahwa akar kata qara’a berarti tilawah yaitu membaca.[1]
Sebagaimana firman
Allah SWT.
Apabila
kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu ( Al-Qiyamah: 18).
Secara
leksikal, kata qur’an mengandung arti
“bacaan” dan baru pada perkembangan kemudian dianggap merujuk kepada arti “teks
yang dibaca”. Al-Qur’an kerap menyebut dirinya sebagai al-kitab, yang berarti “tulisan” dan kemudian dianggap mengandug
arti “tulisan berupa buku”.[2]
Pengertian
Al-Qur’an secara terminologi adalah firman Allah yang diturunkan kepada
Rasulullah SAW.[3]
Membacanya bernilai ibadah, sebagai mukjizat kepada Rasulullah yang tidak
mungkin ditandingi oleh manusia, diturunkan ke dalam hati Rasulullah melalui
“Ruh al-Amin”, Jibril, diturunkan ke generasi berikutnya secara mutawatir.[4] Al-Qur’an
dihafalkan dan ditulis oleh banyak sahabat. Secara turun temurun, Al-Qur’an itu
diajarkan kegenarasi berikutnya, oleh banyak orang kebanyak orang. Dengan cara
seperti itu keaslian Al-Qur’an terpelihara keasliannya, sebagai wujud jaminan
Allah terhadap keaslian dan kebenarannya.[5] sebagaimana
firman Allah SWT.
Sesungguhnya
Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar
gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka
ada pahala yang besar, (Al-Isra’:9).
Al-Qur’an
adalah sumber utama ajaran ketuhanan yang mengandung hukum-hukum dan
serangkaian pengetahuan tentang aqidah, pokok-pokok akhlaq dan segala perbuatan
serta tingkah laku. Sebagaiman firman Allah.
Dan
kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan
petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
(An-Nahl:89)
Syaikh
Muhammad Abduh mendefinisikan Al-Qur’an sebagai kalam mulia yang diturunkan
kepada Nabi yang paling mulia (Muhammad) ajarannya mencakup keseluruhan ilmu
pengetahuan. Ia merupakan sumber yang mulia yang esensinya tidak dimengerti
kecuali bagi orang yang berjiwa suci dan berakal cerdas.[6]
Dari
definisi di atas dapat dianalisa bahwa Al-Qur’an memiliki unsur-unsur yang
menjadi ciri khas bagi Al-Qur’an, yakni Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang
diturunkan kepadan Nabi Muhammad SAW. Tidak dinamakan Al-Qur’an seperti zabur,
taurat dan injil. Ketiga kitab tersebut memang termasuk kalam Allah tapi tidak
diturunkan kepada nabi Muhammad sehingga tidak dinamakan Al-Qur’an.[7]
Allah
SWT. Memilih beberapa nama wahyu-Nya, yang berbeda sekali dari bahasa yang
biasa digunakan masyarakat arab untuk penamaan sesuatu. Nama-nama itu
mengandung makna yang berbias dan memiliki akar kata.[8]
Diantara beberapa nama al-qur’an itu ialah:
1. Al-qur’an
sebagaimana firman Allah.
Sesungguhnya
Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus…(Q.S.
Al-Isra’:9)
2. Al-kitab.
Sebagaimana firman Allah:
Sesungguhnya
Telah kami turunkan kepada kamu sebuah Kitab yang di dalamnya terdapat
sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya? (Q.S. Al-Anbiya’:
10)
3. Al-Furqan
Maha
Suci Allah yang Telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar
dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (Q.S. Al-Furqan: 2)[9]
4. Adz-zikra
Sesungguhnya
Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar
memeliharanya. (Q.S. Al-Hijr: 9).[10]
5. At-tanzil.
Dan lain sebagainya.[11]
Dan
Sesungguhnya Al Quran Ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta Alam. (Q.S.
Asy-Syuara’: 192)
Sebagai kitab suci terakhir sekaligus
penyempurna kitab-kitab sebelumnya, al-qur’an tampil dengan berbagai macam
keistimewaan dan penuh dengan kerahasiaan. Diantara sekian banyak
keistimewaannya adalah adanya jaminan kemudahan dari sang pemilik al-qur’an
sendiri. Sebagaimana firman-Nya:
Dan
Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang
yang mengambil pelajaran? (Q.S. Alqamar: 17)
Begitu pula dari segi membacanya, bagi
siapa saja yang membaca satu huruf dari al-qur’an, maka nilainya
dilipatgandakan minimal sepuluh kebaikan. Tentu akan mendapat lebih dari itu,
bagi siapa saja yang berusaha memahami isi kandungan sekaligus mengamalkannya.
Bahkan satu malam yang hanya 12 jam, ketika tersentuh oleh al-qur’an, maka
nilai malam itu menjadi lebih baik dari seribu bulan.
Allah SWT. Mengatakan bahwa al-qur’an
adalah nur bagi umat manusia. Manusia
tidak mampu membedakan mana boleh dan yang dilarang. Tanpa al-qur’an, hidup
manusia senantiasa dikejar dan dihantui perasaan kalut, susah, dan semakin jauh
dari kebahagiaan.[12]
Al-qur’an adalah sumber utama ajaran
islam. Hukum-hukum islam yang mengandung serangkaian pengetahuan tentang aqidah
keagamaan, keutamaan akhlak, dan prinsip-prinsip umum segala perbuatan serta
seluruh aspek kehidupan[13]
Kata ad-din
(agama) menurut kebiasaan al-qur’an berarti jalan hidup. Orang-orang yang
beriman dan kafir pasti memiliki suatu agama, karena setiap orang mengikuti hukum-hukum
tertentu dalam perbuatannya, dan hukum itu disandarkan kepada nabi dan wahyu,
atau ditetapkan oleh seseorang atau suatu masyarakat .[14]
Secara
kuantitatif, persoalan keimanan menempati bagian terbesar al-qur’an. Persoalan
moral datang berikutnya, disusul ritual-ritual, dan kemudian aturan-aturan
hukum. Jadi, al-qur’an seluruhnya 114 surat berisi kurang lebih 6200 ayat. Dari
jumlah itu, 100 ayat yang membahas persoalan peribadatan, 70 ayat urusan
pribadi, perdata 70 ayat, hukum pidana 30 ayat, persoalan dan kesaksian 20
ayat.[15]
B. Perbedaan antara
Al-Qur’an, Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi
Ada
beberapa perbedaan antara al-qur’an, hadits qudsi dan hadits nabawi,
diantaranya adalah, Lafadz dan makan al-qur’an dari Allah, maka itu adalah
wahyu. Sedangkan hadit qudsi wahyu dalam makna bukan dalam lafadz, maknaya
berasal dari Allah dan lafadznya dari Nabi SAW. Selanjutnya akan kami jelaskan
lebih lanjut pada bagian “perbedaan al-qur’an dengan hadits qudsi” yang akan
datang.
Perbedaan
hadits qudsi dengan hadits Nabawi terbagi menjadi dua:
1.
Hadits qudsi
bersifat tauqifi, maksudnya adalah secara makna atau kandungan isinya berasal
dari wahyu Allah, namun redaksionalnya disusun oleh Rasulullah dengan
kata-katanya sendiri.
2.
Hadits Nabawi
bersifat taufiqi, maksunya adalah baik secara makna atau kandungan isinya
ataupun redaksionalnya, kedua-duanya berasal dari Rasulullah, maknanya
disimpulkan oleh rasulullah berdasarkan pemahamannya terhadap al-qur’an dan
menyimpulkannya dengan pertimbangan dan ijtihad. Bagian kesimpulan yang
bersifat ijtihad inidiperkuat oleh wahyu bila ia benar dan jika ternyata
ijtihadnya salah maka turunlah wahyu yang membetulkannya.[16]
C. Hadits Qudsi
Secara bahasa (Etimologis), kata
ﺍﻠﻘﺪﺴﻲ dinisbahkan kepada kata ﺍﻠﻘﺪﺲ (suci). Artinya, hadits yang dinisbahkan kepada Dzat yang Maha
suci, yaitu Allah Ta'ala.
Dan secara istilah (terminologis) definisinya adalah:
Dan secara istilah (terminologis) definisinya adalah:
ما نقل إلينا
عن النبي صلى الله عليه وسلم مع إسناده إياه إلى ربه عز وجل
Sesuatu (hadits) yang dinukil kepada kita dari Nabi
Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam yang disandarkan beliau kepada Rabb-nya.[17]
Hadits qudsi
adalah hadits yang oleh Nabi SAW disandarkan kepada Allah SWT. Maksudnya nabi
meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam Allah, maka nabi menjadi perawi kalam
Allah ini dengan lafadl dari nabi sendiri. Hadits qudsi dapat dikenali dengan
redaksional:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه عز وج
“Rasulullah saw bersabda mengenai apa yang
diriwayatkan dari Rabb-nya”,
Atau dengan redaksi:
قال الله تعالى، فيما رواه عنه رسول الله صلى
الله عليه وسلم
“Rasulullah saw bersabda, “Allah ta’ala
berfirman”, atau yang sejenis dengan itu.
Seperti hadits berikut:
“Dari Abu
Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw bersabda: allah swt berfirman: “Aku senantiasa dalam persangkaan hamba-Ku
terhadap-Ku, dan aku bersamanya bila ia mengingat-Ku, maka jika a mengingatku
maka aku mengingatnya…(HR. Al-Bukhari dan Muslim)[18]
D. Perbedaan antara
Al-Qur’an dan Hadits Qudsi
1.
Al-qur’an itu
lafadz dan maknanya dari Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah juga sebagai
mukjizat. Sedangkan hadits qudsi maknanya dari Allah dan lafadznya dari Nabi
saw.
2.
Al-qur’an hanya
dinisbatkan kepada Allah, sehingga dikatakan: قال الله
تعالى
Sedangkan
hadits qudsi disandarkan kepada Allah swt. dan lafadznya dari Rasulullah.
Sehingga dikatakan: قال الله تعالى، فيما رواه عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم
3.
Al-qur’an
disyaratkan mutawatir dalam periwayatannya, sehingga kepastiannya sudah pasti,
sedangkan dalam hadits qudsi tidak disyaratkan mutawatir, kebanyakan hadits
ahad, adakalanya hadits qudsi itu shahih, terkadang hasan (baik) dan terkadang
pula dha’if (lemah).
4.
Al-qur’an itu
lafadz dan maknanya wahyu dari Allah, sedangkan hadits qudsi maknaya wahyu dari
Allah, tetapi lafadznya dari Rasulullah sendiri.
5.
Membaca
Al-qur’an termasuk ibadah dan mendapatkan pahala, dan ia harus dibaca didalam
shalat,sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
“barang
siapa membaca satu huruf dari al-qur’an maka ia mendapatkan satu kebaikan, dan
setiap kebaikan akan digandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu
huruf . ( HR. Al-Tirmidzi)
6.
sedangkan
membaca hadits qudsi bukanlah termasuk ibadah dan tidak mendapat pahala
sebagaimana pahala membaca al-qur’an.[19]
Daftar Pustaka
Qatta,
Manna’. Fi Ulumi Al-Qur’an,
Katsir,
Ibn, Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim,Vol.
1, Semarang: Toha Putra.
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa, Tarjamah Tafsir Al-Maraghi,Vol. 4,5 dan
4. Semarang: Toha Putra, 1993
Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz 5-6. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1987.
Djalal, H.A. Abdul, Ulumul Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu, 2008
Al-A’zami, M.M, The History of The Qur’anic Text, From Revelation to Compilation, Jakarta:
GIP, 2005.
Abdul Halim, Muhammad, Memahami Al-Qur’an, Pendekatan Gaya dan
Tema, Bandung:Marja’, 2002.
Thabathaba’I, Allamah M.H, dan
Az-Zanjani, Abu Abdullah, Mengungkap
Rahasia Al-Qur’an, Bandung: Pustaka Mizan, 2009.
Jum’ah, Ahmad Khalil, Al-Qur’an Dalam Pandangan Sahabat Nabi, Jakarta:
Gema Insani Press, 1994
Anam, Chairul. Husein, Syaiful.
Fitriadi, Irwan Mudiaharjana, Psikologi
Al-Qur’an Bukan Sekedar Teori, Bandung: Cahaya Iman & Bedha, 2008.
Setiawan, Nur Kholis, Akar-Akar Pemikiran Progresif dalam Kajian
Al-Qur’an, Yogyakarta: Sukses Offset, 2008.
Horriyah, Kisah-Kisah Sangat Misterius, SuperInspiratif Dalam Al-Qur’an, Jogjakarta:Bening,
2011.
Rowi, Roem, Tentram Bersama Al-Qur’an, Cahaya Al-Qur’an, Surabaya: Minka,
Edisi, 6 Agustus 2011.
http://www.masgunku.wordpress.com,
Pengertian Al-Qur’an, 20 Februari
2009
[1] Manna’ Al-Qattan, Mabahits Fi Ulumi Al-qur’an, 20.
[5] P.M. Gunawan, “Pengertian
Al-qur’an”, dalam http://www.masgunku.wordpress.com/, (20 Februari, 2009), 2.
[6] Ibid.
[8]
ibid
[12] Roem Rowi, “Tenteram bersama
Al-Qur’an, Cahaya Al-Qur’an”, Minka, (6
Agustus, 2011), 4.
[13] M.H. Thabathaba’I, mengungkap rahasia al-qur’an, (Bandung: Mizan
2009), 33.
[14] Allamah M.H. Thabathaba’i, Mengungkap Rahasia Al-qur’an, (Bandung:
Mizan,a 2009), 34.
[15] M. Abdul Halim, Memahami Al-qur’an, Pendekatan Gaya dan
Tema, (Bandung: Marja’2002), 19.
[18] Manna’ Al-Qattan, MabahitsFi Ulumi Al-qur’an, 25.
[19] Ibid.
26
Tidak ada komentar:
Posting Komentar