Rabu, 24 Juni 2015

Studi Al-Qur'an

Oleh: Bakhtiar Nurdin
Sebagai sebuah kitab suci yang menjadi pegangan umat manusia, al-qur’an merupakan sumber mata air bagi kehidupan. Al-qur’an tidak akan pernah habis kandungan ilmu, walau semua manusia menggali dan terus menggali tanpa henti. Al-qur’an telah dikaji melalaui berbagai macam metode dan pendekatan, namun tidak akan tuntas diselami seluruh kandungan yang tersembunyi didalamnya.
Al-qur’an adalah pelipur jiwa, penyejuk mata, penerang akal dan ruh, serta penentram sukma. Para ualama seakan menyelami untaian mutiara yang terkandung didalamnya dan merasuk kedalam darah daging mereka, mereka memahami kitab Allah ini karena mengetahui kenikmatannya.
Melalui makalah singkat yang jauh dari sempurna ini, kami akan mengetengahkan beberapa pembahasan awal tentang al-qur’an. Semoga Allah membimbing kami senantiasa dalam kebenaran. Amin.

A.    Ta’rif Al-Qur’an
Al-Qur’an secara etimologi merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja ﻘﺮﺃ - ﻘﺮﺍﺀﺓ - ﻮﻘﺮﺁﻨﺎ      yang bermakna ﺘﻠﺍ yang berarti membaca. Mayoritas ulama mengatakan bahwa akar kata qara’a berarti tilawah yaitu membaca.[1]
Sebagaimana firman Allah SWT.

Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu ( Al-Qiyamah: 18).
Secara leksikal, kata qur’an mengandung arti “bacaan” dan baru pada perkembangan kemudian dianggap merujuk kepada arti “teks yang dibaca”. Al-Qur’an kerap menyebut dirinya sebagai al-kitab, yang berarti “tulisan” dan kemudian dianggap mengandug arti “tulisan berupa buku”.[2]
Pengertian Al-Qur’an secara terminologi adalah firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW.[3] Membacanya bernilai ibadah, sebagai mukjizat kepada Rasulullah yang tidak mungkin ditandingi oleh manusia, diturunkan ke dalam hati Rasulullah melalui “Ruh al-Amin”, Jibril, diturunkan ke generasi berikutnya secara mutawatir.[4] Al-Qur’an dihafalkan dan ditulis oleh banyak sahabat. Secara turun temurun, Al-Qur’an itu diajarkan kegenarasi berikutnya, oleh banyak orang kebanyak orang. Dengan cara seperti itu keaslian Al-Qur’an terpelihara keasliannya, sebagai wujud jaminan Allah terhadap keaslian dan kebenarannya.[5] sebagaimana firman Allah SWT.

Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (Al-Isra’:9).
Al-Qur’an adalah sumber utama ajaran ketuhanan yang mengandung hukum-hukum dan serangkaian pengetahuan tentang aqidah, pokok-pokok akhlaq dan segala perbuatan serta tingkah laku. Sebagaiman firman Allah.

Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (An-Nahl:89)
Syaikh Muhammad Abduh mendefinisikan Al-Qur’an sebagai kalam mulia yang diturunkan kepada Nabi yang paling mulia (Muhammad) ajarannya mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan. Ia merupakan sumber yang mulia yang esensinya tidak dimengerti kecuali bagi orang yang berjiwa suci dan berakal cerdas.[6]
Dari definisi di atas dapat dianalisa bahwa Al-Qur’an memiliki unsur-unsur yang menjadi ciri khas bagi Al-Qur’an, yakni Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepadan Nabi Muhammad SAW. Tidak dinamakan Al-Qur’an seperti zabur, taurat dan injil. Ketiga kitab tersebut memang termasuk kalam Allah tapi tidak diturunkan kepada nabi Muhammad sehingga tidak dinamakan Al-Qur’an.[7]
Allah SWT. Memilih beberapa nama wahyu-Nya, yang berbeda sekali dari bahasa yang biasa digunakan masyarakat arab untuk penamaan sesuatu. Nama-nama itu mengandung makna yang berbias dan memiliki akar kata.[8] Diantara beberapa nama al-qur’an itu ialah:
1.    Al-qur’an sebagaimana firman Allah.

Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus…(Q.S. Al-Isra’:9)

2.    Al-kitab. Sebagaimana firman Allah:

Sesungguhnya Telah kami turunkan kepada kamu sebuah Kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya? (Q.S. Al-Anbiya’: 10)
3.    Al-Furqan

Maha Suci Allah yang Telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (Q.S. Al-Furqan: 2)[9]
4.    Adz-zikra

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya. (Q.S. Al-Hijr: 9).[10]
5.    At-tanzil. Dan lain sebagainya.[11]

Dan Sesungguhnya Al Quran Ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta Alam. (Q.S. Asy-Syuara’: 192)
Sebagai kitab suci terakhir sekaligus penyempurna kitab-kitab sebelumnya, al-qur’an tampil dengan berbagai macam keistimewaan dan penuh dengan kerahasiaan. Diantara sekian banyak keistimewaannya adalah adanya jaminan kemudahan dari sang pemilik al-qur’an sendiri. Sebagaimana firman-Nya:
  
Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran? (Q.S. Alqamar: 17)
Begitu pula dari segi membacanya, bagi siapa saja yang membaca satu huruf dari al-qur’an, maka nilainya dilipatgandakan minimal sepuluh kebaikan. Tentu akan mendapat lebih dari itu, bagi siapa saja yang berusaha memahami isi kandungan sekaligus mengamalkannya. Bahkan satu malam yang hanya 12 jam, ketika tersentuh oleh al-qur’an, maka nilai malam itu menjadi lebih baik dari seribu bulan.
Allah SWT. Mengatakan bahwa al-qur’an adalah nur bagi umat manusia. Manusia tidak mampu membedakan mana boleh dan yang dilarang. Tanpa al-qur’an, hidup manusia senantiasa dikejar dan dihantui perasaan kalut, susah, dan semakin jauh dari kebahagiaan.[12]
Al-qur’an adalah sumber utama ajaran islam. Hukum-hukum islam yang mengandung serangkaian pengetahuan tentang aqidah keagamaan, keutamaan akhlak, dan prinsip-prinsip umum segala perbuatan serta seluruh aspek kehidupan[13]
Kata ad-din (agama) menurut kebiasaan al-qur’an berarti jalan hidup. Orang-orang yang beriman dan kafir pasti memiliki suatu agama, karena setiap orang mengikuti hukum-hukum tertentu dalam perbuatannya, dan hukum itu disandarkan kepada nabi dan wahyu, atau ditetapkan oleh seseorang atau suatu masyarakat .[14]
Secara kuantitatif, persoalan keimanan menempati bagian terbesar al-qur’an. Persoalan moral datang berikutnya, disusul ritual-ritual, dan kemudian aturan-aturan hukum. Jadi, al-qur’an seluruhnya 114 surat berisi kurang lebih 6200 ayat. Dari jumlah itu, 100 ayat yang membahas persoalan peribadatan, 70 ayat urusan pribadi, perdata 70 ayat, hukum pidana 30 ayat, persoalan dan kesaksian 20 ayat.[15]
B.     Perbedaan antara Al-Qur’an, Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi
Ada beberapa perbedaan antara al-qur’an, hadits qudsi dan hadits nabawi, diantaranya adalah, Lafadz dan makan al-qur’an dari Allah, maka itu adalah wahyu. Sedangkan hadit qudsi wahyu dalam makna bukan dalam lafadz, maknaya berasal dari Allah dan lafadznya dari Nabi SAW. Selanjutnya akan kami jelaskan lebih lanjut pada bagian “perbedaan al-qur’an dengan hadits qudsi” yang akan datang.
Perbedaan hadits qudsi dengan hadits Nabawi terbagi menjadi dua:
1.      Hadits qudsi bersifat tauqifi, maksudnya adalah secara makna atau kandungan isinya berasal dari wahyu Allah, namun redaksionalnya disusun oleh Rasulullah dengan kata-katanya sendiri.
2.      Hadits Nabawi bersifat taufiqi, maksunya adalah baik secara makna atau kandungan isinya ataupun redaksionalnya, kedua-duanya berasal dari Rasulullah, maknanya disimpulkan oleh rasulullah berdasarkan pemahamannya terhadap al-qur’an dan menyimpulkannya dengan pertimbangan dan ijtihad. Bagian kesimpulan yang bersifat ijtihad inidiperkuat oleh wahyu bila ia benar dan jika ternyata ijtihadnya salah maka turunlah wahyu yang membetulkannya.[16]




C.    Hadits Qudsi
Secara bahasa (Etimologis), kata ﺍﻠﻘﺪﺴﻲ dinisbahkan kepada kata ﺍﻠﻘﺪﺲ (suci). Artinya, hadits yang dinisbahkan kepada Dzat yang Maha suci, yaitu Allah Ta'ala.
Dan secara istilah (terminologis) definisinya adalah:
ما نقل إلينا عن النبي صلى الله عليه وسلم مع إسناده إياه إلى ربه عز وجل
Sesuatu (hadits) yang dinukil kepada kita dari Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam yang disandarkan beliau kepada Rabb-nya.[17]
Hadits qudsi adalah hadits yang oleh Nabi SAW disandarkan kepada Allah SWT. Maksudnya nabi meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam Allah, maka nabi menjadi perawi kalam Allah ini dengan lafadl dari nabi sendiri. Hadits qudsi dapat dikenali dengan redaksional:
 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه عز وج
“Rasulullah saw bersabda mengenai apa yang diriwayatkan dari Rabb-nya”,
Atau dengan redaksi:
قال الله تعالى، فيما رواه عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Rasulullah saw bersabda, “Allah ta’ala berfirman”, atau yang sejenis dengan itu.
Seperti hadits berikut:



“Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw bersabda: allah swt berfirman: “Aku senantiasa dalam persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, dan aku bersamanya bila ia mengingat-Ku, maka jika a mengingatku maka aku mengingatnya…(HR. Al-Bukhari dan Muslim)[18]
D.    Perbedaan antara Al-Qur’an dan Hadits Qudsi
1.         Al-qur’an itu lafadz dan maknanya dari Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah juga sebagai mukjizat. Sedangkan hadits qudsi maknanya dari Allah dan lafadznya dari Nabi saw.
2.         Al-qur’an hanya dinisbatkan kepada Allah, sehingga dikatakan: قال الله تعالى
Sedangkan hadits qudsi disandarkan kepada Allah swt. dan lafadznya dari Rasulullah. Sehingga dikatakan: قال الله تعالى، فيما رواه عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم
3.         Al-qur’an disyaratkan mutawatir dalam periwayatannya, sehingga kepastiannya sudah pasti, sedangkan dalam hadits qudsi tidak disyaratkan mutawatir, kebanyakan hadits ahad, adakalanya hadits qudsi itu shahih, terkadang hasan (baik) dan terkadang pula dha’if (lemah).
4.         Al-qur’an itu lafadz dan maknanya wahyu dari Allah, sedangkan hadits qudsi maknaya wahyu dari Allah, tetapi lafadznya dari Rasulullah sendiri.
5.         Membaca Al-qur’an termasuk ibadah dan mendapatkan pahala, dan ia harus dibaca didalam shalat,sebagaimana sabda Rasulullah saw.:




“barang siapa membaca satu huruf dari al-qur’an maka ia mendapatkan satu kebaikan, dan setiap kebaikan akan digandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf . ( HR. Al-Tirmidzi)
6.         sedangkan membaca hadits qudsi bukanlah termasuk ibadah dan tidak mendapat pahala sebagaimana pahala membaca al-qur’an.[19]




Daftar Pustaka

Qatta, Manna’. Fi Ulumi Al-Qur’an,
Katsir, Ibn, Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim,Vol. 1, Semarang: Toha Putra.
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa, Tarjamah Tafsir Al-Maraghi,Vol. 4,5 dan 4. Semarang: Toha Putra, 1993
Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz 5-6. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1987.
Djalal, H.A. Abdul, Ulumul Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu, 2008
Al-A’zami, M.M, The History of The Qur’anic Text, From Revelation to Compilation, Jakarta: GIP, 2005.
Abdul Halim, Muhammad, Memahami Al-Qur’an, Pendekatan Gaya dan Tema, Bandung:Marja’, 2002.
Thabathaba’I, Allamah M.H, dan Az-Zanjani, Abu Abdullah, Mengungkap Rahasia Al-Qur’an, Bandung: Pustaka Mizan, 2009.
Jum’ah, Ahmad Khalil, Al-Qur’an Dalam Pandangan Sahabat Nabi, Jakarta: Gema Insani Press, 1994
Anam, Chairul. Husein, Syaiful. Fitriadi, Irwan Mudiaharjana, Psikologi Al-Qur’an Bukan Sekedar Teori, Bandung: Cahaya Iman & Bedha, 2008.
Setiawan, Nur Kholis, Akar-Akar Pemikiran Progresif dalam Kajian Al-Qur’an, Yogyakarta: Sukses Offset, 2008.
Horriyah, Kisah-Kisah Sangat Misterius, SuperInspiratif Dalam Al-Qur’an, Jogjakarta:Bening, 2011.
Rowi, Roem, Tentram Bersama Al-Qur’an, Cahaya Al-Qur’an, Surabaya: Minka, Edisi, 6 Agustus 2011.
Hadits Web. http://www.opi.110mb.com/ Apa itu Hadits Qudsi?, 12 april 2004
http://www.masgunku.wordpress.com, Pengertian Al-Qur’an, 20 Februari 2009




[1] Manna’ Al-Qattan, Mabahits Fi Ulumi Al-qur’an, 20.
[2] M. Abdul Halim, Memahami Al-qur’an, Pendekatan Gaya dan Tema, (Bandung: Marja’, 2002), 14.
[3] Mu’jam Al-Wasit, jilid 1: 750
[4] Manna’ Al-Qattan, MabahitsFi Ulumi Al-qur’an, 21.
[5] P.M. Gunawan, “Pengertian Al-qur’an”, dalam http://www.masgunku.wordpress.com/, (20 Februari, 2009), 2.
[6] Ibid.
[7] Manna’ Al-Qattan, MabahitsFi Ulumi Al-qur’an, 21.
[8] ibid
[9] maksudnya jin dan manusia.
[10] ayat Ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.
[11] Manna’ Al-Qattan, MabahitsFi Ulumi Al-qur’an, 22.
[12] Roem Rowi, “Tenteram bersama Al-Qur’an, Cahaya Al-Qur’an”, Minka, (6 Agustus, 2011), 4.
[13] M.H. Thabathaba’I, mengungkap rahasia al-qur’an, (Bandung: Mizan 2009), 33.
[14] Allamah M.H. Thabathaba’i, Mengungkap Rahasia Al-qur’an, (Bandung: Mizan,a 2009), 34.
[15] M. Abdul Halim, Memahami Al-qur’an, Pendekatan Gaya dan Tema, (Bandung: Marja’2002), 19.
[16] Manna’ Al-Qattan, MabahitsFi Ulumi Al-qur’an, 27.
[17] Hadits Web, dalam http://www.opi.110mb.com/ (12 April, 2004), 1.
[18] Manna’ Al-Qattan, MabahitsFi Ulumi Al-qur’an, 25.
[19]  Ibid. 26 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar