Rabu, 24 Juni 2015

Kemunduran Dinasti Fatimiyah

Oleh: Bakhtiar Nurdin
Kemunduran dinasti Fatimiyah dengan cepat terjadi setelah kekuasaan al-Aziz. Keruntuhan itu diawali dengan munculnya kebijakan untuk mengimpor tentara-tentara dari Turki dan Negro sebagaimana yang duilakukan Dinasti abbasiyah. Ketidakpatuhan dan perselisihan yang terjadi di antara mereka, serta pertikaian dengan pasukan dari Berber menjadi salah satu sebab utama keruntuhan Dinasti ini. Adalah para prajurit dan budak-budak yang berasal dari Sircasse dan Turki yang kemudian merebut kekuasaan puncak dari tangan keluarga Fatimiyah, kemudian mendirikan dinasti-dinasti baru.[1]
Pengganti al-Aziz, Abu Ali Manshur al-Hakim (996-1021) baru berumur 11 tahun ketika naik tahta. Pemerintahnya ditandai dengan tindakan-tindakan kejam yang menakutkan. Ia membunuh beberap orang wazirnya, menghancurkan beberapa gereja keristen, termasuk didalamnya kuburan suci umat Kristen.
Karena al-Hakim masih terlalu muda ketika diangkat menjadi khlifah, kekuasaan sesungguhnya berada ditangan para wazir, yang kemudian sering mendapat julukan kebangsawanan al-malik. Anak dan pengganti al-Hakim, yaitu al-Zahir (1021-1035) berumur 16 tahun ketika naik tahta. Pengganti al-Zahir adalah anaknya yang berusia 11 tahun , ma’ad al-Mutashir (1035-1094), yang berkuasa hampir 60 tahun, sebuah periode kekuasaan terpanjang dalam Sejarah islam.[2]
Sejak kekuasaan Ma’ad al-Muntashir kekacauan terjadi dimana-mana. Kericuhan dan pertikaian terjadi di antara orang-orang turki, suku Berber dan pasukan sudan. Kekuasaan Negara lumpuh. Kelaparan yang terjadi selama tujuh tahun telah melumpuhkan perekonomian Negara.
Tahun-tahun terakhir kekuasaan Fatimiyah, ditandai dengan munculnya perseteruan terus menerus antara para wazir yang didukung oleh kelompok tentaranya masing-masing. Ketika al-Mustanshir meninggal, al-Malik al-Afdhal menempatkan anak khlifah paling muda yaitu berumur lima tahun sebagai khalifah denganjulukan al-Musta’li (1101-1130) dengan harapan bahwa ia akan memerintah dibawah pengaruhnya. Ketika al-Hafidh (1130-1149) meninggal, ekuasaan-kekuasaannya betul-betul hanya sebatas istana kekhalifahan.
Pamor Dinasti Fatimiyah karena semakin banyaknya khalifah yang diangkat dalam usia yang sangat belia, disamping mereka hanya menjadi boneka para wazir juga timbul konflik kepentingan dikalangan militer antara unsure Barbar, Turki bani Hamdan dan Sudan. Terlebih lagi para penguasa itu selalu tengelam dalam kehdupan yang mewah dan adanya pemaksaan ideology syi’ah pada rakyat yang mayoritas sunni.
Dalam kondisi khilafah yang sedang lemah, konflik kepentingan diantara pejabat dan militer dan ketidak puasan rakyat atas kebijakan pemerintah, muncul baying-bayang serbuan tentara salib.


[1]  Philip K Hitti, History of the Arabs, (Jakarta: Serambi, 2010), 792.
[2]  Ibid, 793.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar