A.
Latar Belakang Masalah
Integrasi adalah konsep yang menegaskan bahwa integrasi keilmuan yang
disasar bukanlah model melting-pot integration, di mana integrasi hanya
difahami hanya dari perspektif ruang tanpa subtansi. Integrasi yang dimaksud
adalah model penyatuan yang antara satu dengan lainnya memiliki keterkaitan
yang kuat sehingga tampil dalam satu kesatuan yang utuh. Hal ini perlu karena
perkembangan ilmu pengetahuan yang dipelopori Barat sejak lima ratus tahun
terakhir, dengan semangat modernisme dan sekulerisme telah menimbulkan
pengkotak-kotakan (comparmentalization) ilmu dan mereduksi ilmu pada
bagian tertentu saja. Dampak lebih lanjut adalah terjadinya proses dehumanisasi
dan pendangkalan iman manusia.
Untuk menyatukan ilmu pengetahuan, harus berangkat dari pemahaman yang
benar tentang sebab terjadinya dikotomi ilmu dibarat dan bagaimana paradigma
yang diberikan Islam tentang ilmu pengetahuan.
Pendidikan yang berlangsung dizaman modern ini lebih menekankan pada
pengembangan disiplin ilmu dengan spesialisasi secara ketat, sehingga integrasi
dan interkoneksi antar disiplin keilmuan menjadi hilang dan melahirkan dikotomi
ilmu-ilmu agama di satu pihak dan kelompok ilmu-ilmu umum dipihak lain. Dikotomi
ini menyebabkan terbentuknya perbedaan sikap di kalangan masyarakat.
Dikotomi ini menyebabkan terbentuknya perbedaan sikap dikalangan
masyarakat. Ilmu agama disikapi dan diperlakukan sebagai ilmu Allah yang
bersifat sakral dan wajib untuk dipelajari namun kurang integratif dengan
ilmu-ilmu kealaman atau bisa dibilang adanya jarak pemisah antara ayat-ayat
kauliyah dan ayat-ayat kauniyah. Padahal keduanya saling berhubungan erat. Hal
ini berakibat pada pendangkalan ilmu-ilmu umum, karena ilmu umum dipelajari
secara terpisah dengan ilmu agama. Ilmu agama menjadi tidak menarik karena
terlepas dari kehidupan nyata, sementara ilmu umum berkembang tanpa sentuhan
etika dan spiritualitas agama, sehingga disamping kehilangan makna juga
bersifat detruktif.[1]
Allah menciptakan manusi di dunia ini sebagai hamba, disamping itu, manusia
memiliki tugas pokok yaitu menyembah kepada-Nya. Selain itu manusia juga
sebagai khalifah, oleh karena itu, manusia diberi kemampuan jasmani
(pisiologis) dan ruhani (psikologis) yang dapat ditumbuh kembangkan seoptimal
mungkin, sehingga menjadi alat yang berdaya untuk melaksanakan tugas pokok
dalam kehidupannya di dunia.[2]
Untuk mengembangkan kemampuan dasar jasmaniyah dan ruhaniyah tersebut, maka
pendidikan merupakan sarana yang tepat untuk menentukan sampai dimana titik
optimal kemampuan-kemampuan tersebut dapat dicapai. Akan tetapi proses
pengembangan kemampuan manusia melalui pendidikan tidaklah menjamin akan
terbentuknya watak dan bakat. Hidup tidak bisa lepas dari pendidikan, karena
manusia diciptakan tidak hanya untuk hidup. Ada tujuan yang lebih mulia dari
sekedar hidup yang mesti diwujudkan, dan itu memerlukan pendidikan untuk
memperolehnya. Inilah salah satu perbedaan antara manusia dengan makhluk lain,
yang membuat lebih unggul dan mulia. Pendidikan dipandang sebagai salah satu
aspek yang memiliki peranan penting dalam membentuk generasi mendatang adalah
aspek pendidikan. Dengan demikian melalui pendidikan nilai-nilai ketauhidan
diharapkan menghasilkan manusia yang berkualitas dan bertanggung jawab[3].
Dalam tataran realitas operasionalnya, mewujudkan pendidikan yang
dicita-citakan di atas bukanlah persoalan yang mudah. Beragam persoalan
menghadang bersamaan dengan persoalan riil warganya. Imam Bawani[4]
menyatakan bahwa ada tiga problem yang sangat mendesak untuk dilakukan kedepan,
yaitu bagaimana menyeimbangkan pengokohan imtaq dengan penguasaan iptek di lembaga-lembaga
pendidikan, serta memperkuat atmosfir keislaman di institusi pendidikan, dan
bagaimana meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan Islam pada umumnya.
Dalam dunia pendidikan, iman, ilmu dan amal menjadi sasaran utama untuk
dikembangkan secara seimbang, jika tidak ia akan menghasilkan kehidupan yang
timpang. Iman berkait dengan keyakinan, ilmu berkait dengan kognisi dan
pengetahuan, dan amal berkait dengan praksis dan realitas keseharian.
Pengembangan yang fragmentalis dan parsial serta eksklusif terhadap tiga ranah
tersebut secara psikologis bisa membahayakan. Apa yang diyakini seharusnya
tidak bertentangan dengan apa yang dianggap benar secara kognitif, dan apa yang
dianggap secara kgnitif tidak seharusnya bertentangan dengan realitas nyata
yang dialami sehari-hari.
Jika ditelaah secara historis, ilmu pengetahuan dan teknologi pada awal
perkembangannya adalah merupakan sarana untuk mengabdi kepada Yang Maha Kuasa,
sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi senantiasa sarat dengan nilai-nilai
spiritual.[5]
Ayat Al-Qur'an menyebutkan bahwa penciptaan manusia dan penciptaan
makhluk hidup berbeda dengan teori evolusi. teori Darwin yang dikritik oleh
ilmuwan evolusionis sendiri yaitu Pierre Paul Grasse, mengakui teori evolusi
yang tidak masuk akal. Teori evolusi seolah telah menjadi sumber keyakinan di
bawah kedk atheisme[6].
Konsep ini secara diam-diam tanpa disadari telah membentuk pola pikir,
paradigma bahkan keyakinan peserta didik yang menafikan adanya penciptaan.
Dengan menerapkan sistim pendidikan yang terpadu antara ilmu umum dan
ilmu agama baik dalam konsep maupun penerapannya, diharapkan terbentuk pola
fikir yang sesuai dengan ajaran Islam pada diri peserta didik. Sehingga dalam
pelaksanaannya tidak ada pemisahan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan
umum karena sumber dari segala ilmu itu adalah satu yaitu Allah SWT.
Selama ini pelajaran IPA hanya disampaikan pada materi pelajarannya
saja, belum terintegrasi pada muatan-muatan agama, sehingga materi yang disampaikan
hanya pada materi pokok saja. Kondisi seperti inilah yang menjadikan
pembelajaran IPA tidak memiliki bobot dan minim mutu yang kuat, pelajaran yang
diperoleh sangat minim dari nilai spiritual, sehingga ilmu umum tanpa disadari
mempunyai dampak destruktif jika tidak dilandasi iman oleh para pelakunya.
Padahal ilmu agama terutama nilai-nilai tauhid sangat sesuai dengan materi
pelajaran selain pelajaran agama, sebagai penanaman akidah.
Padahal keterangan tersebut banyak tercatat dalam ayat-ayat, sebagaimana
berikut:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur),
Maka (ketahuilah) Sesungguhnya kami Telah menjadikan kamu dari tanah, Kemudian
dari setetes mani, Kemudian dari segumpal darah, Kemudian dari segumpal daging
yang Sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada
kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang
sudah ditentukan, Kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, Kemudian (dengan
berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada
yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai
pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya Telah
diketahuinya. dan kamu lihat bumi Ini kering, Kemudian apabila Telah kami
turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan
berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (Al-Hajj:5)[7]
Dan Allah Telah menciptakan semua jenis hewan dari air, Maka sebagian
dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan
dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah
menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu.(QS. An-Nur:45)
Demikian pula, Allah SWT menciptakan berbagai jenis hewan. Setiap hewan
dan tumbuhan diciptakan oleh Allah berpasang-pasangan dan menciptakan berbagai
kehidupan lain di alam semesta ini.
Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para
malaikat Karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu
menimpakannya kepada siapa yang dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan
tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan yang Maha keras siksa-Nya. (Ar-Ra'd: 13)
Berangkat dari kenyataan di atas maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian tentang integrasi nilai-nilai tauhid khususnya pada mata pelajaran
IPA, baik dalam konsep maupun implementasinya di SDIT Nurul Fikri Sidoarjo.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, setiap permasalahan yang ada, dirumuskan sebagai
berikut:
1.
Nilai-nilai
tauhid apa saja yang sudah diterapkan melalui pembelajaran IPA untuk membangun
kesadaran beragama?
2.
Bagaimana strategi
guru mengintegrasikan nilai-nilai tauhid kedalam pembelajaran IPA di sekolah?
C.
Tujuan Penelitian
Dalam
penelitian ini, peneliti memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapai,
diantaranya untuk mengetahui :
1.
Untuk
mengetahui Nilai-nilai tauhid apa saja yang sudah diterapkan dalam pembelajaran
IPA untuk membangun kesadaran beragama siswa.
2.
Untuk
mengetahui bagaimana guru mengintegrasikan nilai-nilai tauhid kedalam
pembelajaran IPA di sekolah.
D.
Kegunaan Penelitian
1.
Teoritis
a.
Diharapkan
dengan menerapkan nilai-nilai tauhid dalam pembelajaran IPA dapat membangun
kesadaran beragama siswa dan merevitalisasi pembelajaran IPA
b.
Memberikan
sumbangan pemikiran dalam rangka meningkatkan perubahan pola pikir siswa di
sekolah dalam membangun kesadaran beragama, setelah nilai-nilai tauhid yang terkait dengan pembelajaran IPA diterapkan.
2.
Praktis
a.
Bagi
penulis sebagai peneliti: dapat mengimplementasikan nilai-nilai tauhid dalam
pembelajaran IPA dalam kaitannya dengan membangun kesadaran beragama siswa di
sekolah, di rumah maupun di lingkungan masyarakat.
b.
Bagi guru
dan siswa: bersama-sama akan tumbuh kesadaran, bahwa dengan mempelajari
nilai-nilai tauhid melalui pembelajaran IPA dapat menumbuhkan dan mengembangkan
kecerdasan spiritual, intelektual dan emosional sebagai instrumen untuk
membentuk pribadi tang bertauhid. Disamping itu dengan menerapkan nilai-nilai
tauhid dalam pembelajaran IPA dapat menumbuhkan kesdaran beragama siswa.
c.
Bagi dunia
Pendidikan : bahwa paradigma sekarang sudah berubah, dari pengajaran menjadi
pembelajaran, yang berarti bahwa siswa tidak cukup dengan memperhatikan,
menulis, membaca, dan berlatih, tetapi dengan melalui pembelajaran, yang
berarti membelajarkan siswa (sebagai subjek), dengan cara melakukan-mengalami-mengkomunikasikan,
mulai dari kehidupan nyata siswa diangkat menjadi konsep.
E.
Penelitian Terdahulu
Peneliti menemukan beberapa
penelitian yang berkaitan dengan integrasi sebagaimana yang peneliti lakuka
dalam penelitian ini. Pertama, skripsi yang ditulis oleh Siti Nur
Rohmawati tentang "Integrasi Nilai-Nilai Tauhid Pada Mata pelajaran
SAINS"[8].
Penelitian ini mengemukakan bahwa dengan menerapkan sistem pendidikan yang
terpadu atau integratif baik dalam konsep maupun penerapannya dalam kurikulum
pendidikan Islam dan ilmu pengetahuan umum, sehingga dalam implementasinya
tidak ada dikotomi antara Ilmu agama dengan ilmu umum, karena pada hakekatnya
sumber dari segala ilmu itu adalah satu yaitu allah SWT. Penelitian ini fokus
pada integrasi nilai-nilai tauhid dengan mata pelajaran sains baik konsep
maupun penerapnnya dan belum membahas tentang pengaruhnya terhadap pengaruh
kesadaran beragama.
Kedua, sebuah penelitian
disertasi yang ditulis oleh K. Abdullah Syah yang berjudul ”Integrasi Hukum
Islam dan Hukum Adat dalam Kewarisan Suku Melayu di Kecamatan Tanjung Pura
Langkat" pengertian integrasi dalam judul tersebut bermakna bahwa keadaan
saling mengisi antara dua tipe hukum, sehingga merupakan satu kesatuanyang utuh
dalam pandangan masyarakat yang menjadi objek hukum dan tidak terjadi
ketegangan-ketegangan.
Metode yang digunakan oleh peneliti ini adalah, studi kepustakaan yaitu
dalam rangka mencari dan mengumpulkan informasintertulis, ataupun hasil-hasil
penelitian yang berbentuk penerbitan yang berhubungan dengan permasalahan
penelitian.[9]
Ketiga, disertasi oleh
Husniyatus Salamah Zainiyati yang berjudul "Integrasi Pesantren Ke dalam
Sistem Pendidikan Tinggi Agama Islam". Belaiau menjelaskan bahwa dalam
konteks pendidikan, usaha untuk mengintegrasikan sistem pendidikan
direalisasikan dengan mendirikan lembaga pendidikan Islam, yang menyatukan dua
kurikulum yaitu antara kurikulum sekolah tradisional yang banyak memuat
pelajaran agama dan sekolah Barat yang banyak memuat pelajajaran umum.
Begitu juga pembaharuan sistem pendidikan Islam yang dilakukan oleh Mukti
Ali dalam usahanya memformulasikan lembaga madrasah dan pesantren dengan cara
memasukkan materi pelajaran umum kedalam lembaga-lembaga yang pendiriannya
diorientasikan untuk tafaqquh fi ad-din sebagaimana gagasan Harun
nasution dalam upayanya menghilangkan dikotomi antara ilmu-ilmu agama dan
ilmu-ilmu umum.
Dalam menyusun penelitiannya, peneliti ini menggunakan pendekatan
kualitatif, penelitian ini merupakan penelitian yang menghasilkan data
deskriptif sesuai dengan kondisi sesungguhnya subjek yang diteliti.[10]
Keempat, penelitian tentang
"Integrasi Ilmu Umum dan Agama di PTAIN" yang ditulis oleh Saiful
arifin. Dalam latar belakangnya terkait dengan masalah integrasi ilmu umum dan
agama yang diulas oleh peneliti ini, merupakan sebagai representasi Perguruan
Tinggi yang menerapkan pola integrasi ilmu agama dan ilmu umum. Peneliti ini
memfokuskan pada masalah konsep, model danmetodologi integrasi ilmu agama dan
ilmu umum, kemudian penulis ini melakukan perbandingan dengan melakukan teknik "Pohon
Ilmu".[11]
Kelima, sebuah disertasi
yang ditulis oleh Mutimmatul Faidah dengan judul "Integrasi Pendidikan
seks dalam Kurikulum Pendidikan Agama islam" penulisan disrtasi ini
dilatar belakangi dengan banyaknya fakta-fakta empiris meningkatnya angka
kenakalan remaja terkait pergaulan bebas, pornografi, serta ketergantungan pada
narkotika, psikotropika, dan zat aditif.
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Developmental
Research) yang berorientasi pada pengembangan suatu produk yang proses
pengembangannya dideskripsikan secara detail dan produknya dievaluasi lebih
lanjut. Yang dikehendaki dalam penelitian ini adalah prototype perangkat
pembelajran pendidikan seks berbasis etika Islam bagi siswa.[12]
Sementara yang peneliti lakukan dalam penelitian yang berjudul
"Integrasi Nilai-nilia Tauhid dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam Meningkatkan
Kesadaran Beragama" ini, peneliti berupaya menemuan sebuah penjelasan
tentang pengintegrasian antara nilai-nilai tauhid dan Ilmu Pengetahuan Alam
yang direalisasikan pada lembaga pendidikan Islam SDIT Nurul Fikri Sidoarjo.
F.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti
menggunakan pendekatan kualitatif. Hal ini sesuai dengan pendapatnya Sugiyono bahwa metode penelitian kualitatif
adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme,
digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana penulis adalah
sebagai instrument kunci, pengambilan
sampel sumber data dilakukan secara
purposive dan snowball, teknik
pengumpulan data dengan trianggulasi (gabungan), analisa data bersifat
induktif atau kualitatif, dan hasil
penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi. [13]
1.
Instrumen Penelitian
Peneliti
sebagi instrumen utama dalam penelitian dapat melakukan introspeksi dan
penilaian apakah dengan kehadirannya mengganggu responden atau tidak, dan jika
kehadirannya mengganggu maka peneliti akan dapat memperbaikinya. Hal ini sejalan dengan pendapat yang
dikemukakan Lexy J. Moleong bahwa kedudukan Peneliti dalam penelitian
kualitatif cukup rumit, ia sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpul
data, penganalisis, penafsir, dan pada akhirnya sebagai pelapor penelitian yang
dilakukannya. [14]
2.
Tekhnik Pengumpulan data
Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan teknik
pengumpulan data dan informasi yang
digunakan sebagai berikut :
a. Wawancara
wawancara digunakan untuk
memperoleh data secara langsung dari responden dengan cara mengajukan
pertanyaan-pertanyaan secara tertulis kepada siswa-siswa, para guru IPA, Kepala
sekolah, serta orang tua yang
berkompetensi. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah
teknik wawancara berstrukur. Pada saat melakukan proses wawancara peneliti
dibantu oleh suatu kerangka acuan yang disebut pedoman wawancara.
Pertanyaan yang dipersiapkan disesuaikan
dengan masalah yang sedang dibahas dalam penelitian, sehingga pertanyaan kepada
sumber data merupakan langkah-langkah sistematis dalam mencari data guna
pemecahan masalah penelitian.
Untuk lebih memudahkan dalam
mengadakan pendataan dan informasi, maka peneliti menggunakan catatan-catatan
lapangan, yaitu peneliti mengaplikasikannya dengan perspektif emic, (pandangan responden),
yaitu berusaha mengetahui bagaimana responden memandang dari segi
perspektifnya. Wawancara yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini,
diharapkan dapat memberikan keuntungan berbagai pihak, sedangkan dalam
pelaksanaannya, peneliti menggunakan alat bantu berupa catatan-catatan
lapangan, dengan tujuan untuk memudahkan dan menginat data yang akan
dikumpulkan, baik yang bersifat verbal maupun non verbal. Maka dari itu, untuk
mengimbangi keterbatasan daya ingat peneliti mengenai informasi yang diperoleh
digunakan dengan cara wawancara terbuka (open endeed interview).
b. Observasi
Observasi yaitu Pengumpulan data
dengan menggunakan berbagai alat, dengan tujuan mengumpulkan data melalui
observasi. Untuk kepentingan penelitian, pengamatan itu harus dilatih agar
dapat melihat dan mengumpulkan data yang relevan dengan masalah yang akan
diteliti.
Observasi yang digunakan dalam
penelitian kualitatif ini, merupakan
observasi yang bersifat informasi (apa yang terjadi), dan bersifat konteks
(hal-hal yang berkaitan disekitarnya ). Maka dalam melakukan observasi
penelitian kualitatif ini, tidak hanya mencatat suatu kejadian atau peristiwa,
akan tetapi juga mengamati segala sesuatu atau sebanyak mungkin hal-hal yang
diduga ada kaitannya dengan fokus penelitian yang sedang diteliti. Hal ini
sesuai dengan pendapatnya Buford Junker, dalam Patton dalam Moleong, bahwa
dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan empat tahap pengamatan (observasi).
Pertama, observer
berperan serta secara lengkap (complete partisipant). Dalam hal ini, aktivitas
peneliti sepenuhnya menjadi anggota kelompok dari kelompok yang diamati. Maka
dari itu, seorang peneliti dapat memperoleh semua informasi dan subjek
penelitian, termasuk yang rahasia sekalipun.
Kedua, peneliti
berperan sebagai pengamat (partisipan as
observer), dalam hal ini peranan observer tidak sepenuhnya masuk dalam kelompok
subjek penelitian, tetapi hanya sekedar pengamat, sehingga keberadaan observer
tidak diketahui. Maksud dari tujuan itu supaya mendapatkan seluruh informasi
yang diperlukan, termasuk yang bersifat rahasia.
Ketiga, observer
berperan sebagai pengamat yang berperan serta
(observer as partisipant). Hal ini dilakukan dengan tujuan utuk
memperlihatkan status observer secara
umum, supaya dapat memperoleh data yang diperlukan peneliti sekalipun bersifat
rahasia sekalipun.
Keempat, peran
observer sebagai pengamat penuh (complete observer), hal ini dilakukan untuk mengetahui setiap
detail kelompok yang sedang diteliti dari jauh, bahkan tidak kelihatan sebagai
peneliti, hampir dikatakan tidak ada rahasia yang diamati.
d. Studi Dokumentasi
Analisis data, merupakan proses
mencari dan menyusun secara sistimatis data yang diperoleh dari hasil wawancara
catatan lapangan dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam
katagori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam
pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami
oleh diri sendiri maupun orang lain.
Dalam penelitian ini, analisis data
meliputi pekerjaan yang berkaitan dengan data mengenai pola integrasi
nilai-nilai pendidikan keluarga dalam pembelajaran IPA di sekolah untuk
membangun kesadaran lingkungan hidup siswa. Bahwa analisis data kualitatif
merupakan upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,
mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola,
mensistensiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan
apa yang dipelajari, dan memutuskannya apa yang dapat diceritakannya kepada
orang lain. Dengan demikian, analisis data, merupakan proses menyusun data agar
dapat ditafsirkan kedalam pola, tema, atau katagori.
3. Tekik Pengolahan dan Analisis Data
a. Teknik
Pengolahan Data
Tekhnik pengolahan data dalam penelitian ini,
peneliti menggunakan tekhnik pengumpulan data yang bermacam-macam
(trianggulasi atau gabungan), dan
dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh.
b.
Tekhnik Analisis Data
Tekhnik analisis data yang digunakan peneliti
adalah proses mencari dan menyusun
secara sistematis dan bermacam-macam, data yang diperoleh dari hasil wawancara,
catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam
kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam
pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat
kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain, yang
bersifat induktif dan berkelanjutan.[15]
4. Subjek Penelitian dan Lokasi
Penelitian
Yang menjadi
subjek penelitiannya yaitu siswa SDIT Nurul Fikri, Sidoarjo kelas VI, guru IPA,
dan guru. Sedangkan lokasi penelitian yang digunakan peneliti adalah SDIT Nurul
Fikri.
G.
Sistematika Pembahasan
Dalam
penulisan laporan penelitian yang berbentuk tesis ini, pembahasan
diklasifikasikan menjadi lima bab:
Bab pertama terdiri
atas pendahuluan yang mencakup latar betakang masalah, rumusan masalah,
penegasan judul, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan
sistematika pembahasan.
Bab
kedua berisi tentang kajian teoritis tentang dua hal, pertama, pembelajaran
IPA, yang meliputi; pokok-pokok pelajaran, prinsip-prinsip belajar dan
pembelajaran, faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam, pola pengembangan pembelajaran IPA. Kedua, Integrasi nilai-nilai
tauhid dalam IPA, yang meliputi; pengertian dan konsep nilai-nilai tauhid,
hakekat dan karakteristik nilai-nilai tauhid, fungsi dan peran tauhid dalam
membangun kesadaran beragama siswa.
Bab
ketiga berisi gambaran umum objek penelitian yang meliputi latar belakang
berdirinya SDIT Nurul Fikri, Visi misi dan hal-hal yang berhubungan dengan
objek penelitian.
Bab
keempat berisi pembahasan hasil penelitian. Dalam bab ini akan dipaparkan
pembahasan hasil temuan dalam penelitian, yaitu tentang pola pembelajaran IPA
di SDIT Nurul Fikri, Siodarjo, Pola integrasi nilai-nilai tauhid dalam IPA di SDIT
Nurul Fikri, Siodarjo dan upaya membangun kesadaran beragama di SDIT Nurul
Fikri, Siodarjo.
Bab kelima,
merupakan penutup yang berisi penutup dari seluruh rangkaian penelitian yang
terdiri dari kesimpulan dan saran-saran yang berguna bagi pihak-pihak yang
bersangkutan.
[1] Team, Kerangka Dasar
Keilmuan dan Pengembangan Kurikulum, (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN SUKA,
2006), 14-15.
[2] Muzayyin Arifin, Filsafat
Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara 2005), 141.
[3] Lihat: Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
NOMOR 55 TAHUN 2007, Bab II Pasal 2.
[4] Imam Bawani, Pendidikan
Islam di Indonesia; Beberapa Problema dan Alternatif Jalan Keluarnya, disampaikan
dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar pada Rapat Senat Terbuka, 10 Pebruari 2001,
17-18.
[5] Tim Dosen SKI UIN SUKA, Menelusuri
Jejak Peradaban Islam, Yogyakarta.
[6] Harun yahya, Berfikirlah
Sejak anda bangun Tidur, (Jakarta: Global Media, 2003), 102.
[7] Al-Qur'an terjemahan
DEPAG,
[8] Siti Nur Rohmawati, Integrasi
Nilai-Nilai Tauhid Pada Mata Pelajaran SAINS, (Skripsi, UIN Sunan Kalijaga,
2009),
[9] K. Abdullah Syah, Integrasi Hukum Islam dan Hukum Adat dalam
Kewarisan Suku Melayu di Kecamatan Tanjung Pura Langkat, (Skripsi, IAIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, 1984).
[10] Husniyatus Salamah
Zainiyati, Integrasi Pesantren kedalam Sistem Pendidikan Tinggi Agama Islam,
(Disertasi, Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2012).
[11] Saiful Arifin, Integrasi
Ilmu Umum dan Agama di PTAIN, (Tesis, Pasca Sarjan IAIN Sunan Ampel
Surabaya, 2012).
[12] Mutimmatul Faidah, Integrasi
Pendidikan Seks dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Disertasi, Pasca
Sarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya, 2011).
[13] Sugiyono, Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan RD, (Bandung; Alfa Beta, 2009), 15
[14] Lexy J. Moleong, Metode
Penelitian, Kualitatif, (Bandung; PT Remaja Rosda Karya, 2007), 9
[15] Sugiyono, Metode
Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2012), 333.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar