Oleh: Baktiar Nurdin
Kelahiran Dinasti Fatimiyah
Loyalitas
terhadap Ali bin Abi Thalib adalah isu terpenting bagi komunitas islam syi’ah
untuk mengembangkan konsep Islamnya melebihi isu hukum dan mistisme. Pada abad
ke VII dan ke VIII masehi isu tersebut mengarah pada gerakan politis dalam
bentuk perlawanan kepada khalifah Umayyah dan Abbasiyah yang direalisasikan
dengan upaya keras untuk merebut khalifah. Namun perjuangan mereka yang begitu
lama dan berat untuk merebut kekuasaan ternyata belum membuahkan hasil. Justru
secara politis kaum islam syi’ah mengalami penindasan dari khalifah Umayyah dan
Abbasiyah.
Meski
khalifah Abbasiyah mampu berkuasa dalam tempo yang begitu lama, akan tetapi
periode keemasannya berlangsung singkat. Puncak kemerosotan khlifah-khalifah
Abbasiyah ditandai dengan berdirinya khilafah-khilafah kecil yang melepaskan
diri dari kekuasaan politik khilafah Abbasiyah.
Salah
satu diantaranya adalah Fatimiyah yang berasala dari golingan syi’ah sekte
Ismailiyah yakni sebuah aliran sekte di syi’ah yang lahir akibat perselisihan
tentang pengganti imam Ja’far Al-Shadiq yang hidup antara tahun 700-756 M.
Fatimiyah hadir sebagai tandinagan bagi penguasa Abbasiyah yang berpusat di
Bagdad yang tidak mengakui kekhalifahan Fatimiyah sebagai keturunan Rasulullah
dari Fatimah. Karena mereka menganggap bahwa merekalah ahlul bait sesungguhnya
dari Bani Abbas.
Dinasti
Fatimiyah adalah satu-satunya Dinasti Syi’ah dalam islam. Dinasti ini didirikan
di Tunisia pada 909 M., sebagai tandingan bagi penguasa dunia muslim saat itu
yang terpusat di Baghdad, yatu Bani Abbasiyah. Dinasti Fatimiyah didirikan oleh
Sa’id ibn Husayn.[1]
Fatimiyah
adalah penguasa syi’ah yang berkuasa diberbagai wilayah maghrib, mesir dan syam
dari tahun 909 sampai 1171 M. negeri ini dikuasai oleh Ismailiyah, salah satu
cabang syi’ah. Fatimiyah menisbahkan nasbnya sampai ke Fatimah putri Rasulullah
dan istri Ali bin Abi Thalib. Karena itu menamakan Fatimiyah.[2]
Pandangan
sejarawan muslim mengenai keaslian dan keabsahan silsilah al-Syi’I sebagai
keturunan Fatimah terbagi mejadi dua kelompok. Beberapa sejarawan yang
mendukung keabsahan silsilahnya adalah Ibn al-Atsir, ibn Khaldun, dan
al-Maqrizi. Sedangkan kalangan yang menyangkal silsilah keturunan itu, adalah
Ibn Khallikan, Ibn al-Idzari, al-Syuyuthi, dan Ibn Taghri-Birdi.[3]
Jawhar
menjadi pendiri Dinasti Fatimiyah yang kedua setelah al-Syi’i yangdaerah
kekuasaannya meliputi seluruh wilayah Afrika Utara. Setelah kedudukannya di
Mesir kokoh, Jawhar mulai melirik Negara tetangganya, suriah, dan berhasil
menaklukkan Damaskus. Lawan utama Jawhar adalah sekte Qaramitah yang pada saat
itu berkuasa di beberapa daerah di Suriah.[4]
Dalam
perkembangannya khilafah Fatimiyah mampu membangun system perpolitikan yang begitu
maju dan juga ilmu pengetahuan yang begitu berkembang pesat, namun sebagaimana
kekhalifahan sebelumnya. Khilafah Fatimiyah juga mengalami keunduran dan
kehancuran.
Dinasti
Fatimiyah merupakan khalifah berlairan syi’ah yang berkuasa di Mesir pada tahun
297/909 M sampai 567/1171 M selama kurang lebih 262 tahun. Para penguasa yang
pernah berkuasa adalah:
1. Al-Mahdi
(909-934)
2. Al-Qa’im
(934-946)
3. Al-Manur
(946-953)
4. Al-Mu’izz
(953-975)
5. Al-Aziz
(975-996)
6. Al-Hakim
(996-1021)
7. Al-Zhahir
(1021-1035)
8. Al-Mustanshir
(1035-1094)
9. Al-Musta’li
(1094-1101)
10. Al-Amir
(1101-1130)
11. Al-Hafizh
(1130-1149)
12. Az-Zhafir
(1194-1154)
13. Al-Fa’iz
(1154-1160)
14. Al-Adhid
(1160-1171)
Puncak Kejayaan Dinasti Fatimiyah
Dinasti
Fatimiyah mencapai puncaknya pada periode Mesir, terutama pada kepemimpinan
Al-Mu’izz, Al-Aziz dan Al-Hakim. Puncaknya adalah masa Al-Aziz. Sepanjang
kekuasaan Abu Manshur Nizar al-Aziz (975-996), kerajaan Mesir senantiasa
diliputi kedamaian. Ia adalah khalifah Fatimiyah yang kelima dan khalifah
pertama yang memulai pemerintahan di Mesir. Dibawah kekuasaannyalah Dinasti
Fatimiyah mencapai puncak kejayaannya. Nama sang khlifah selalu disebut-sebut
dalam khutbah-khutbah jua’at di sepanjang wilayah kekuasaannya yang membentang
dari Atlantik hingga laut merah, juga di masjid-masjid Yaman, Mekkah, damaskus,
bahkan di Mosul. Kekuasaannya meliputi wilayah yang sangat luas. Di bawah
kekuasaannya, kekhalifahan Masir tidak hanya menjadi lawan tangguh bagi kekhalifahan
di Baghdad, tapi bisa dikatakan bahwa kekhalifahan itu menenggelamkan penguasa
Baghdad, dan ia berhasil menempatkan kekhalifahan Fatimiyah sebagai Negara
islam terbesar di kawasan Mediterania Timur. Al-aziz menghabiskan dua juta
dinar untuk membangun istana yang dibangun menyaingi istana Abbasiyah.
Pada
masa ini perluasan wilayah dan pembangunan dalam kerjaan dan wilayah kerajaan,
istana khalifah bisa menampung 30.000 tamu, masjidnya sangat megah, istana
khalifah mempekerjakan 30.000 orang, 12.000 diantaranya adalah pelayan dan 1000
orang pengurus kuda, tujuh buah perahu berukuran 150 kubik dengan 60 tiang
pancang, berlabuh disungai Nil. Sang Khalifah memiliki 20.000 rumah di Ibu
kota. Ia juga memiliki ribuan toko yang bisa menghasilkan dua hingga sepuluh
dinar perbulan. Jalan-jalan utama diberi atap dan diberi lampu. perhubungan
sangat lancer , dan keamanan terjamin. Perekonomian dibangun baik dari sector
pertanian, perdagangan maupun industry sesuai dengan perkembangan teknologi
pada waktu itu. Sumbangan dinasti Fatimiyah terhadap peradaban islam sangat
besar, baik dalam system pemerintahan, kebudayaan, politik maupun dalam bidang
ilmu pengetahuan.[5]
Khalifah
al-Aziz adalah khalifah yang paling bijaksana dan paling murah hati. Dia hidup
dikota Kairo yang mewah dan cemerlang, dikelilingi beberapa masjid, istana,
jembatan, dank anal-kanal yang baru, serta
memberikan toleransi yang tak terbatas kepada umat keristen, sesuatu
yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Dinasti
dapat maju antara lain karena: militernya kuat, administrasi pemerintahannya
baik, ilmu pengetahuan berkembang, dan ekonominya stabil. Namun setelah al-Aziz
dinasti mengalami kemunduran dan akhirnya hancur, setelah berkuasa selama 262
tahun.[6]
Dibidang
pemerintahan, fatimiyah berhasil mendirikan sebuah Negara yang sangat luas dan
di dasarkan atas prinsip keagamaan, peradaban yang berlainan yang jarang
disaksikan di Timur. Dan system administrasinya sangat baik sekali, luas
toleransi religiusnya, efesiensi angkatan perang dan angkatan lautnya,
kejujuran pengadilan-pengadilannya, dan terutama adalah perlindungan terhadap
ilmu pengetahuan dan kebudayaannya.
Dalam
perkembangannya khilafah Fatimiyah mampu membangun system kepemerintahan yang
begitu maju dan ilmu pengetahuan yang juga berkembang dengan pesat, namun
sebagaimana dinasti kekhalifahan sebelumnya dinasti Fatimiyah juga mengalami
kemunduran dan kehancuran.
Kemunduran Dinasti Fatimiyah
Kemunduran
dinasti Fatimiyah dengan cepat terjadi setelah kekuasaan al-Aziz. Keruntuhan
itu diawali dengan munculnya kebijakan untuk mengimpor tentara-tentara dari
Turki dan Negro sebagaimana yang duilakukan Dinasti abbasiyah. Ketidakpatuhan
dan perselisihan yang terjadi di antara mereka, serta pertikaian dengan pasukan
dari Berber menjadi salah satu sebab utama keruntuhan Dinasti ini. Adalah para
prajurit dan budak-budak yang berasal dari Sircasse dan Turki yang kemudian
merebut kekuasaan puncak dari tangan keluarga Fatimiyah, kemudian mendirikan
dinasti-dinasti baru.[7]
Pengganti
al-Aziz, Abu Ali Manshur al-Hakim (996-1021) baru berumur 11 tahun ketika naik
tahta. Pemerintahnya ditandai dengan tindakan-tindakan kejam yang menakutkan.
Ia membunuh beberap orang wazirnya, menghancurkan beberapa gereja keristen,
termasuk didalamnya kuburan suci umat Kristen.
Karena
al-Hakim masih terlalu muda ketika diangkat menjadi khlifah, kekuasaan
sesungguhnya berada ditangan para wazir, yang kemudian sering mendapat julukan
kebangsawanan al-malik. Anak dan pengganti al-Hakim, yaitu al-Zahir (1021-1035)
berumur 16 tahun ketika naik tahta. Pengganti al-Zahir adalah anaknya yang
berusia 11 tahun , ma’ad al-Mutashir (1035-1094), yang berkuasa hampir 60
tahun, sebuah periode kekuasaan terpanjang dalam Sejarah islam.[8]
Sejak
kekuasaan Ma’ad al-Muntashir kekacauan terjadi dimana-mana. Kericuhan dan
pertikaian terjadi di antara orang-orang turki, suku Berber dan pasukan sudan.
Kekuasaan Negara lumpuh. Kelaparan yang terjadi selama tujuh tahun telah
melumpuhkan perekonomian Negara.
Tahun-tahun
terakhir kekuasaan Fatimiyah, ditandai dengan munculnya perseteruan terus
menerus antara para wazir yang didukung oleh kelompok tentaranya masing-masing.
Ketika al-Mustanshir meninggal, al-Malik al-Afdhal menempatkan anak khlifah
paling muda yaitu berumur lima tahun sebagai khalifah denganjulukan al-Musta’li
(1101-1130) dengan harapan bahwa ia akan memerintah dibawah pengaruhnya. Ketika
al-Hafidh (1130-1149) meninggal, ekuasaan-kekuasaannya betul-betul hanya
sebatas istana kekhalifahan.
Pamor
Dinasti Fatimiyah karena semakin banyaknya khalifah yang diangkat dalam usia
yang sangat belia, disamping mereka hanya menjadi boneka para wazir juga timbul
konflik kepentingan dikalangan militer antara unsure Barbar, Turki bani Hamdan
dan Sudan. Terlebih lagi para penguasa itu selalu tengelam dalam kehdupan yang
mewah dan adanya pemaksaan ideology syi’ah pada rakyat yang mayoritas sunni.
Dalam
kondisi khilafah yang sedang lemah, konflik kepentingan diantara pejabat dan
militer dan ketidak puasan rakyat atas kebijakan pemerintah, muncul
baying-bayang serbuan tentara salib.
PERANG SALIB
Perang
salib merupakan perang terlama dalam sejarah dunia, yaitu peperangan yang
berlangsung selama dua abad (200 tahun),
dari tahun 1095 sampai tahun 1254 M. perang salib melibatkan bangsa-bangsa
beragama Kristen, yaitu Prancis, Jerman, Inggris dan Negara Bizantium, para
prajurit yang terlibat mengenakan lencana salib dan pakaian mereka memiliki
symbol salib di dadanya, oleh Karena itu dinamakan perang salib.
Sebab-sebab Terjadinya Perang Salib
Dilihat
dari seting perkembangan sejarah, perang salib terletak pada bagian pertengahan
dalam sejarah panjang interaksi Timur dan Barat, yang bagian awalnya tergambar
dalam bentuk perang kuno antara bangsa Troya dan bangsa Persia, sedangkan perluasan
imperialism Eropa Barat menjadi penutup babak sejarah itu. Ada beberapa sebab
terjadinya perang salib, diantaranya adalah, yaitu kecendrungan gaya hidup
nomaden dan militeristik suku-suku teotonik Jerman yang telah mengubah peta
Eropa sejak mereka memasuki babak sejarah. Perusakan Makam Suci milik gereja,
tempat ziarah ribuan orang Eropa. Keadaan itu semakin parah karena para
peziarah merasa keberatan untuk melewati wilayah muslim di Asia Kecil (Turki).
meski demikian, sebab utama perang salib adalah permohonan kaisar Alexius
Comnesus kepada Paus Urban II pada tahun 1095 untuk membantunya, karena
kekuasaannya telah diserang oleh Bani Saljuk di sepanjang pesisir Marmora yang
mengancam Konstantinopel.[9]
Klasifikasi
periode dan pembagian perang salib. Philip K. Hitti, membagi periode perang
salib menjadi tujuh periode dan menyederhanakan menadi tiga priode, (meskipun
enurutnya tidak ada batasan yang jelas karena peperangan berlangsung terus
menerus dengan kelompok yang bervariasi, adang-kadang berskala besar dan sekali-kali
berskala kecil).
Periode pertama,
Pada tanggal 26 Nopember 1097 paus Urban menyampaikan pidatonya di hadapan
150.000 manusia, mereka menyambut seruan untuk berkumpul di Konstantinopel.
Pada saat itulah gendering perang salib ditabuh, disebut perang salib karena
salib dijadikan lencana sebagai symbol pemersatu untuk menunjukkan bahwa
peperangan yang mereka lakukan adalah perang suci untuk membebaskan Baitul
Maqdis yaitu Yerussalem dari tangan
orang Islam. Pada periode ini kemenangan berpihak pada tentara salib dan telah
mengubah peta dunia Islam.[10]
Periodekedua, disebut
sebagai reaksi umat Islam (tahun 1144-1192), jatuhnya beberapa wilayah Islam
ketangan pasukan salib membangitkan kesadaran kaum Muslimin untuk menghimpun
kekuatan yang di komando oleh Imad Al-Din Zangi, gubernur Mosul,termasuk
pahlawan kaum Muslimin dalam melawan musuh kaum salib.[11]
yang kemudian digantikan oleh putranya Nur Al-Din Zangi yang lebih cakap
daripada ayahnya, dengan mudah ia merebut Damaskus (1147), Antiokia (1149),
Edessa (1151) dan mesir (1159).[12]
Keberhasilan kaum Muslimin merebut banyak kemenangan terutama setelah munculnya
shalah al-Din (Salahuddin Al-Ayyubi), ia berusaha melakukan upaya kerjasama
diantaranya dengan khalifah Fatimiyah, yaitu, Amir (1130) untuk mengusir musuh
Islam dan kemudian berhasil membebaskan Baitul Maqdis. Dan pada bulan Februari
1193 salahuddin al-Ayyubi wafat yang sebelumnya telah menyepakati suatu
perjanjian dengan kaum salib. Intinya adalah perjanjian damai yang mana daerah
pedalaman menjadi milik kaum Muslimin, dan umat Kristen yang akan ziarah
kemakam suci terjamin keamannya.[13]
Kejatuhan
Edessa menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan Perang saib II. Paus
Eugenius III menyerukan perang suci yang disambut positif oleh raja Prancis
Louis VII dan raja Jerman Condrad II. Keduanya memimpin pasukan salib untuk
merebut wilayah Kristen di Syiria. Namun mereka di hadang oleh Nur al-Zangqi.
Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus, bahkan Louis VII dan Condrad II
melarikan diri kenegerinya. Setelah Nur ad-Din wafat 1174 M, pimpinan perang
kemudian dipegang oleh Shalah ad-Adin (Shalahuddin al-Ayyubi) yang kemudian
berhasil mendirikan dinasti Ayyubiyah di Mesir pada tahun 1175 M.
Periode ketiga (
1189-1192), Shalahuddin Al-ayyubi berhasil
mengalahkan kaum salib dan mempertahankan Baitul Maqdis, yang kemudian
menggerakkan semangat yang meluap-luap di kalangan Kristen Eropa untuk merebut
kembali kota suci itu. Mereka kemudian membangun angkatan Perang Salib III pada
tahun 1189 M. dengan beberapa pimpinannya perangnya antara lain Kaisar
Frederick Barbarosa dari Jerman, Philip Augustus dari Prancis, dan Richard
Leeuwen Hart dari Inggris. Angkatan perang salib III ini berhasil merebut Akka,
namun sesudah itu pasukan salib pecah, Philip berselisih dengan Richard dan
Philip kembali ke Prancis.
KESIMPULAN
Dinasti
Fatimiyah adalah suatu pemerintahan di bawah kekuasaan orang-orang Fatimi
(keturunan Faatimah), karena pengikutnya mengambil silsilah dari Fatimah putrid
Rasulullah.
Kemajuan
yang terlihat pada masa khalifah Fatimiyah antara lain dipertegas beberapa
factor antara lain: kepemimpinan yang bijaksana, pasukan militer yang kuat,
pengelolaan administrasi kepemerintahan yang baik, ilmu pengetahuan berkembang
dengan pesat dan perekonomian stabil, kehidupan masyarakat yang tentram dan
damai.
Dan
sebab keruntuhan dinasti Fatimiyah diantaranya adalah: banyak khilafah diangkat
pada usia sangat belia, konflik kepentingan yang berkepanjangan antara pejabat
dan militer dan ketidak puasan rakyat atas kebijakan pemerintah dan terjadinya
persaingan memperebutkan wazir.
Perang
salib merupakan perang terlama dalam sejarah dunia, yaitu peperangan yang
berlangsung selama dua abad (200 tahun),
dari tahun 1095 sampai tahun 1254 M. perang salib melibatkan bangsa-bangsa
beragama Kristen, yaitu Prancis, Jerman, Inggris dan Negara Bizantium, para
prajurit yang terlibat mengenakan lencana salib dan pakaian mereka memiliki
symbol salib di dadanya, oleh Karena itu dinamakan perang salib.
Adapun
penyebab terjadinya perang salib ada dua yaitu: sebab tak langsung dan sebab
langsung. Penyebab tak lansung ialah sejak wafatnya Rasulullah SAW. dimana
daerah-daerah yang dikuasai nasrani telah direbut oleh pasukan Islam. Sedangkan
penyebab secara langsung ialah, 1. Ditetapkannya pajak yang dirasakan
menyulitkan kaum Nasrani untuk berziarah kemakam yerussalem oleh penguasa
dinasti Saljuk. 2. Paus Urbanus II beserta raja-raja Nasrani di eropa bermaksud
membebaskan Konstantinopel (Bizantium) dari kekuasaan Islam, serta
mempersatukan kekuasaan gereja di roma dan Yunani. 3. Factor politik, agama,
dan social.
DAFTAR
PUSTAKA
Hitti,
K. Philip, History of the Arabs,
Serambi, Jakarta, 2010.
As-Suyuthi,
Imam, Tarikh Khulafa’, Pustaka
Al-Kautsar, Jakarta, 2006.
Bastomi,
Hepi Andi, Sejarah dan Khalifah,
Pustaka Al-kautsar, Jakarta, 2008.
Armstrong,
Karen, Perang Suci, Serambi, Jakarta,
2003.
Harun,
M. Yahya, Perang Salib dan Pengaruh Islam
di Eropa, Bina Usaha, Yogyakarta, 1987.
Tim
Penyusun, Ensiklopedi Nasional Indonesia, jilid 14, PT. Cipta Adi Pustak,
Jakarta, 1990.
[1] Philip K Hitti, History of the Arabs, (Jakarta: Serambi, 2010), 787.
[2] Dinasti-dinasti lokal
[3] Philip K Hitti, History of the Arabs, (Jakarta: Serambi, 2010), 788.
[4] Ibid, 790.
[5] Ibid, 798.
[6] Ichtiar BaruVan Hove, Ensiklopedi Islam,(Jakarta: Vol. 2), 4.
[7] Philip K Hitti, History of the Arabs, (Jakarta: Serambi, 2010), 792.
[8] Philip K Hitti, History of the Arabs, (Jakarta: Serambi, 2010), 793.
[9] Philip K. Hitti, History of the Arabs, (Jakarta: Serambi, 2010), 811.
[10]
Ibid. 815.
[11] Ibid, 822.
[12] Ibid, 824.
[13] Ibid, 827.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar