Dinasti Fatimiyah mencapai puncaknya pada periode Mesir, terutama pada kepemimpinan Al-Mu’izz, Al-Aziz dan Al-Hakim. Puncaknya adalah masa Al-Aziz. Sepanjang kekuasaan Abu Manshur Nizar al-Aziz (975-996), kerajaan Mesir senantiasa diliputi kedamaian. Ia adalah khalifah Fatimiyah yang kelima dan khalifah pertama yang memulai pemerintahan di Mesir. Dibawah kekuasaannyalah Dinasti Fatimiyah mencapai puncak kejayaannya. Nama sang khlifah selalu disebut-sebut dalam khutbah-khutbah jua’at di sepanjang wilayah kekuasaannya yang membentang dari Atlantik hingga laut merah, juga di masjid-masjid Yaman, Mekkah, damaskus, bahkan di Mosul. Kekuasaannya meliputi wilayah yang sangat luas. Di bawah kekuasaannya, kekhalifahan Masir tidak hanya menjadi lawan tangguh bagi kekhalifahan di Baghdad, tapi bisa dikatakan bahwa kekhalifahan itu menenggelamkan penguasa Baghdad, dan ia berhasil menempatkan kekhalifahan Fatimiyah sebagai Negara islam terbesar di kawasan Mediterania Timur. Al-aziz menghabiskan dua juta dinar untuk membangun istana yang dibangun menyaingi istana Abbasiyah.
Pada masa ini perluasan wilayah dan pembangunan dalam kerjaan dan wilayah kerajaan, istana khalifah bisa menampung 30.000 tamu, masjidnya sangat megah, istana khalifah mempekerjakan 30.000 orang, 12.000 diantaranya adalah pelayan dan 1000 orang pengurus kuda, tujuh buah perahu berukuran 150 kubik dengan 60 tiang pancang, berlabuh disungai Nil. Sang Khalifah memiliki 20.000 rumah di Ibu kota. Ia juga memiliki ribuan toko yang bisa menghasilkan dua hingga sepuluh dinar perbulan. Jalan-jalan utama diberi atap dan diberi lampu. perhubungan sangat lancer , dan keamanan terjamin. Perekonomian dibangun baik dari sector pertanian, perdagangan maupun industry sesuai dengan perkembangan teknologi pada waktu itu. Sumbangan dinasti Fatimiyah terhadap peradaban islam sangat besar, baik dalam system pemerintahan, kebudayaan, politik maupun dalam bidang ilmu pengetahuan.[1]
Khalifah al-Aziz adalah khalifah yang paling bijaksana dan paling murah hati. Dia hidup dikota Kairo yang mewah dan cemerlang, dikelilingi beberapa masjid, istana, jembatan, dank anal-kanal yang baru, serta memberikan toleransi yang tak terbatas kepada umat keristen, sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Dinasti dapat maju antara lain karena: militernya kuat, administrasi pemerintahannya baik, ilmu pengetahuan berkembang, dan ekonominya stabil. Namun setelah al-Aziz dinasti mengalami kemunduran dan akhirnya hancur, setelah berkuasa selama 262 tahun.[2]
Dibidang pemerintahan, fatimiyah berhasil mendirikan sebuah Negara yang sangat luas dan di dasarkan atas prinsip keagamaan, peradaban yang berlainan yang jarang disaksikan di Timur. Dan system administrasinya sangat baik sekali, luas toleransi religiusnya, efesiensi angkatan perang dan angkatan lautnya, kejujuran pengadilan-pengadilannya, dan terutama adalah perlindungan terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaannya.
Dalam perkembangannya khilafah Fatimiyah mampu membangun system kepemerintahan yang begitu maju dan ilmu pengetahuan yang juga berkembang dengan pesat, namun sebagaimana dinasti kekhalifahan sebelumnya dinasti Fatimiyah juga mengalami kemunduran dan kehancuran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar