Memahami konteks pendidikan Islam di Indonesia tidak cukup hanya dengan melihat bahwa pendidikan Islam merupakan subsistem dari pendidikan nasional. Akan tetapi, pendidikan Islam juga sekaligus sebagai entitas tersendiri yang memiliki tradisi dan kultur akademik yang berbeda dengan karakteristik pendidikan pada umumnya. Di antara ciri substantifnya adalah, bahwa pendidikan Islam dibangun atas dasar kesadaran dan keyakinan umat Islam untuk menjadi pribadi muslim yang taat (`abdullah, khalifah fi al-ard). Maka, wajar jika pengetahuan dan wawasan keislaman merupakan prasyarat mutlak yang harus dimiliki oleh seluruh umat Islam. Kesadaran semacam ini lalu menjadi èlan vital di kalangan pemimpin agama yang secara mandiri memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan Islam di tengah masyarakat, baik secara individual maupun kolektif-kolegial (organisasi keagamaan, al-jam`iyah al-diniyah).
Sabtu, 27 Juni 2015
Rabu, 24 Juni 2015
Belajar Dalam Perspektif Islam
1. Teori belajar dalam Al-Qur'an dan al-hadits
Banyak dalil
menerangkan bahwa islam adalah ajaran yang sempurna,menyangkut berbagai aspek
kehidupan. Atas kesempurnaan itu maka diyakini bahwa jika umat islam berpegang
pada ajaran islam, yaitu Al-Qur'an dan hadits, maka kapan dan dimanapun akan
mendapatkan keselamatan.
Dalam hal
pendidikan, kajian islam dapat dirumuskan melalui perenungan yang mendalam
terhadap dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur'an dan hadits Nabi. Diantara
rumusan-rumusan belajar yang tersirat dalam Al-Qur'an dan hadits sebagai
berikut, (1). Islam mengantarkan pemeluknya kaya akan ilmu pengetahuan, (2).
Islam membangun pribadi unggul, (3). Islam membangun tatanan sosial yang setara
dan berkeadilan (4). Islam memberikan tuntunan ritual untuk memperkaya
spiritual, (5). Islam mengedepankan amal shaleh.
Tafsir Ruh Al-Ma'ani
Oleh: Bakhtiar Nurdin
Latar Belakang
Masalah
Al-Qur'an adalah sumber utama bagi
umat islam, ia disamping berfungsi sebagai petunjuk (hudan) antara lain
petunjuk dalam persoalan-persoalan aqidah, syari'ah, moral atau akhlak dan
lainnya, juga sebagai pembeda. Berangkat dari kesadaran bahwa al-Qur'an memuat
berbagai macam petunjuk yang paling lengkap bagi manusia, yang membenarkan dan
mencakup wahyu-wahyu terdahulu. Yang kedudukannya menempati posisi sentral
dalam studi keislaman, maka lahirlah niatan dikalangan umat islam untuk mencoba
memahami isi kandungan al-Qur'an tersebut. Usaha untuk memahami inilah nantinya
dikenal aktifitas penafsiran. Kesadaran untuk memahami al-Qur'an melalui tafsir
telah
Filsafat Umum: IDEALISME
Oleh: Bakhtiar Nurdin
Idealisme
adalah salah satu aliran etika yang tidak memerlukan pemikiran lebih panjang
yang bersifat teoritis. Tetapi kemudian, dengan kepentingan-kepentingan
manusia, idealisme memperoleh kekuatan yang sukar untuk diatasi. Idealisme telah dianut oleh tokoh-tokoh
pemikir, baik dari Barat atau dari Timur
selama lebih dari dua ribu tahun. Selama pertengahan kedua dari abad ke 19,
idealisme merupakan filsafat Barat yang dominan.[1]
Pada
dasarnya idealisme merupakan salah satu aliran etika metafisik yang berpendirian
bahwa wujud yang paling dalam dari kenyataan ialah yang bersifat kerohanian.
Dalam persoalan etika, aliran idealisme berpendapat bahwa perbuatan manusia
harus didasarkan pada prinsip-prinsip kerohanian yang lebih tinggi. Misalnya
orang berbuat baik bukan karena dianjurkan oleh orang lain atau untuk mendapat
sanjungan (pujian), tetapi didasarkan kemauan sendiri yang didorong oleh
tanggung jawab dan kewajiban.[2]
1.
Definisi
Idealisme
Kata
idealis dalam filsafat mempunyai arti yang berbeda dari artinya dalam bahasa
sehari-hari. Secara umum, kata itu berarti, (1) Seorang yang menerima ukuran
moral yang tinggi, estetika dan agama serta menghayatinya. (2) Orang yang dapat
melukiskan dan menganjurkan suatu rencana atau
program yang belum ada. Tiap pembaharu sosial adalah seorang idealis
dalam arti kedua ini, karena itu menyokong sesuatu yang belum ada. Mereka yang
berusaha mencapai perdamaian yang abadi atau memusnahkan kemiskinan dapat juga
dinamakan idealis. Seseorang yang memperjuangkan tujuan-tujuan yang dipandang
orang lain tidak mungkin dicapai, atau seseorang yang menganggap sepi
fakta-fakta dan kondisi-kondisi sesuatu situasi, sering dinakan mere idealist (idealis semata-mata).
Idealisme,
kadang-kadang digunaka istilah mentalisme
atau imaterialisme, yaitu
keyakinan bahwa hanya roh, jiwa, pikiran dan isinya yang ada.[3]
W.E.
seorang Idealis mengatakan bahwa kata-kata “idea-ism” adalah lebih tepat
daripada “idealism”. Idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari ide-ide,
pikiran-pikiran, akal (mind) atau jiwa (selves) dan bukan benda material dan
kekuatan. Idealisme menekankan “mind” (akal) sebagai hal yang lebih dahulu
daripada materi. Maka idealisme mengatakan bahwa akal itu adalah riil dan dan
materi adalah sampingan.[4]
Pandangan
salah satu bentuk idealisme adalah semua yang kita peroleh adalah ide-ide dan
tiada lain kecuali ide-ide, karena kita tidak dapat bergerak ke luar dari
ide-ide, maka kita tidak akan dapat benar-benar mengetahui bahwa ide-ide
tersebut merupakan salinan sesuatu, juga kita tidak dapat mengetahui sesuatu
kecuali adanya ide-ide.[5]
Idealisme
adalah suatu pandangan dunia atau metafisik yang mengatakan bahwa realitas dasar
terdiri atas ide, pikiran atau jiwa. Dunia mempunyai arti yang berlainan dari
apa yang nampak pada permukaannya. Dunia difahami dan ditafsirkan oleh
penyelidikan tentang hukum-hukum pikiran dan kesadaran, tidak hanya oleh metode
ilmu obyektif semata-mata.
Oleh
karena alam mempunyai arti dan maksud, yang diantara aspek-aspeknya adalah
perkembangan manusia, maka seorang idealis berpendapat bahwa suatu harmoni yang
dalam antara manusia dan alam. Apa yang “tertinggi dalam jiwa” juga merupakan
“yang terdalam dalam alam”. Oleh karena alam ini merupakan suatu sistim yang
logis dan spiritual, dan hal ini tercermin dalam usaha manusia untuk mencari
kehidupan yang baik. Jiwa (self)
bukannya satuan yang terasing atau tidak riil, ia adalah bagian yang
sebenarnyadari proses alam. Proses ini dalam tingkat yang tinggi menunjukkan
dirinya sebagai aktifitas, akal, jiwa atau perorangan. Manusia sebagai suatu
bahagian dari alam menunjukkan struktur alam dalam kehidupan sendiri.[6]
Idealisme
secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah madzhab
epistemologi yang mengjarkan bahwa pengetahuan a priori dapat atau deduktif dapat diperoleh manusia dengan
akalnya.[7]
2.
Jenis-jenis
Idealisme
Beriut
adalah pengelompokan jenis-jenis idealisme,
1.
Idealisme
Subyektif
Tokoh idealisme subyektif adalah
Schelling menamakan idealisme fichte, ia berpendapat bahwa kemauan moral
sebagai yang utama dalam idealisme.[8]
Jenis idealisme ini kadang dinamakan “mentalisme” atau “fenomenalisme”. Jenis ini paling banyak mendapat tantangan. Seorang
idealis subyektif berpendirian bahwa
akal, jiwa dan persepsi-persepsinya atau ide-idenya merupakan segala yang ada.
Seorang idaelis subyektif tidak mengingkari adanya alam yang riil. Yang menjadi permasalahan bukan
adanya benda-benda itu, akan tetapi bagaimana alam itu diinterpretasikan. Alam
tidak berdiri sendiri, bebas dari orang yang mengetahuinya. “Bahwa dunia luar
itu ada”, (menurut seorang idealis subyektif), mempunyai arti yang sangat
khusus, yakni yakni bahwa kata “ada” itu dipakai dalam arti yang sangat
berlainan dari arti yang sangat berlainan dari arti yang biasa yang kita pakai.
Bagi seorang idealis subyektif apa yang ada (dalam arti biasa) adalah akal dan
ide-idenya.[9]
Dasar perenungan dalam system-sistem ini dicari dan didapat pada dasar tindakan
ialah aku yang merupakan subyek yang
sekongkrit-kongkritnya. Dari suatu dasar menurunkan kesimpulan serta memberikan
keterangan keseluruhan ada itu ada
yang menyebut idealisme. Sebaliknya,
oleh karena, idealisme ini berdasarkan atas subyek, maka sering disebut idealisme subyektif.[10]
Ajaran idealisme menegaskan bahwa untuk
mendapatkan pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan kenyataan adalah
mustahil. Pengetahuan adalah proses mental atau proses psikologis yang bersifat
subjektif.
Selain itu idealisme subjektif juga akan menimbulkan kebenaran yang relative
karena setiap individu berhak menolak kebenaran yang datang dari luar dirinya.
Akibatnya, kebenaran yang bersifat universal tidak diakui. Kalau demikian
jadinya, aturan-aturan agama dan kemasyarakatan hanya bisa benar untuk kelompok
tertentu dan tidak berlaku bagi kelompok yang lain.[11]
Jika kita mengatakan bahwa benda-benda
itu ada ketika benda-benda itu tidak terlihat dan bahwa kita percaya kepada
wujud yang berdiri sendiri dari dunia luar, Berkeley menjawab bahwa ketertiban
dan konsistensi alam adalah riil dan disebabkan oleh akal yang aktif yaitu akal
tuhan. Tuhan, akal yang tertinggi, adalah pencipta dan pengatur alam. Dan
kehendak Tuhan adalah pencipta dan pengatur alam. Dan kehendak Tuhan adalah
hukum alam.[12]
2.
Idealisme Obyektif
Banyak filsof idealis, dari plato ,
Hegel sampai filsafat masa kini menolak subyektifitisme. Mereka berpendapat
bahwa dunia luar itu adalah buatan manusia. Mereka berpendapat bahwa peraturan
dan bentuk dunia, begitu juga pengetahuan, adalah ditentukan oleh watak dunia
itu sendiri. Akal menemukan peraturan alam. Mereka itu idealis dalam memberikan
interpretasi kepada alam sebagai suatu bidang yang dapat dipahami, yang bentu
sistematikanya menunjukkan susunan yang rasional dan bernilai.[13]
Plato menamakan realitas yang
fundamental dengan nama ide, Plato percaya bahwa di belakang alam perubahan
atau alam empiris, alam fenomena yang kita lihat atau kita rasakan, terdapat
alam ideal, yaitu alam esensi, form atau ide. Bagi plato, dunia dibagi dalam
dua bagian. Pertama, dunia persepsi,
dunia penglihatan, suara dan benda-benda individual. Kedua terdapat alam di atas alam benda, yaitu alam konsep ”manusia”
mengandung realitas yang lebih besar.
Hegel membentangkan suatu konsepsi yang
dinamik tentang jiwa dan lingkungan. Jiwa dan lingkungan itu adalahbegitu
berkaitan sehingga kita tidak dapat mengadakan pembedaan yang jelas antara
keduanya. Jiwa mengalami realitas setiap waktu yang universal selalu ada dalam
pengalaman khusus yang dinamis.
Kelompok idealis obyektif tidak mengingkari adanya realitas luar atau
realitas obyektif. Mereka percaya bahwa sikap sikap mereka adalah satu-satunya
sifat yang bersifat adil kepada segi obyektif dari pengalaman, karena mereka
menemukan dalam alam prinsip: tata tertib, akal dalam maksud yang sama seperti
yang ditemukan manusia dalam dirinya sendiri.[14]
3.
Idealisme
Personal atau Personalisme
Personalisme muncul sebagai protes
terhadap materialism mekanik dan idealisme monistik. Bagi seorang personalis,realitas
dasar itu bukannya pemikiran yang abstrak atau proses pemikiran yang khusu,
akan tetapi seseorang, suatu jiwa atau seorang pemikir. Jiwa (self) adalah satuan kehidupan yang tak
dapat diperkecil lagi.
Bagi kelompok personalis, alam adalah
suatu tata tertib yang obyektif, walaupun begitu alam tidak berada sendiri.
Manusia mengatasi alam jika mengadakan interpretasi terhadap alam itu. Sains
mengatasi materialnya melalui teori-teorinya.alam arti dan alam nilai
menjangkau lebih jauh dari alam semesta sebagai penjelasan akhir.
Sebagai suatu kelompok, pengikut aliran
idealisme personal menunjukkan perhatian yang lebih besar kepada etika dan
lebih sedikit kepada logika daripadia pengikut idealisme mutlak. Mereka percaya
bahwa proses hidup itu lebih penting daripada bentuk-bentuk atau arti yang
tetap dan mereka menekankan realisasi kemampuan dan kekuatan seseorang, dengan
jalan kemerdekaan dan mengontrol diri sendiri. Oleh karena personalitas
mempunyai nilai yang tinggi dari yang
lannya, maka harus diatur sedemikian rupa sehingga tiap orang dapat memperoleh
kehidupan dan kesempatan yang sebesar-besarnya.[15]
4.
Implikasi
Idealisme
Manusia memang betempat di alam. Bagi
seorang idealis, manusia itu merupakan bagian dari proses, oleh karena itu ia
bersifat natural, ia bersifat spiritual dalam arti bahwa di dalamnya terdapat
sesuatu yang tak dapat hanya dianggap sebagai materi.[16]
Menurut Pascal, manusia besar karena
fikiran dan kesadaran refleksinya. Tatapi katanya lagi, ada hal-hal yang tidak
mungkin dapat dijangkau oleh pikiran manusia, yaitu pikiran manusia itu
sendiri. Satu-satunya jalan untuk mengetahui manusia adalah kembali kepada
Tuhan, yaitu melalui agama.[17]
Bagi kelompok idealis, Tuhan bukan suatu
bagian dari alam akan tetapi adalah prinsip hidup yang ada dalam alam. Ia
terdapat dalam proses alam, sejarah, tata tertib social dan khususnya dalam
hati mausia, sebagai akibatnya, perbedaan yang lama antara natural dan
supranatural condong untuk hilang dalam idealisme monoistik.[18]
5.
Hubungan
Kemasyarakatan Manusia
Bagi seorang idealis, hukum moral ialah
setiap tindakan harus merupakan langkah menuju kesempurnaan spiritual. Itu
hanya dapat dicapai pada masyarakat-masyarakat yang anggota-anggotanya yang
bebas merealisasi diri mereka dalam kerja untuk masyarakat. Pada tingkatan yang
lebih tinggi, keimanan dan harapa manusia muncul dari kasih saying Allah.[19]
Pada umumnya kelompok idealis condong
untuk menghormati kebudayaan atau tradisi. Mereka menganggap nilai-nilai
kehidupan itu mempunyai dasar dalam bidang yang lebih tinggi daripada sekedar
partukular (yang khusus), Hegel mengatakan bahwa yang mutlak itu diekspresikan
dalam sejarah dan melalui lembaga-lembaga masyarakat.
Filsafat Plato telah member inspirasi
kepada banyak gerakan reformasi idealismenya, yakni pandangannya, bahwa idea
tau universal adalah esensi yang trasenden, yang telah membawa kita
kepada perpisahan antara dunia sekarang dan alam yang akan datang, panfangan
ini telah menguasai seluruh masyarakat abad pertengahan dan condong untuk
menetapkan segala hubungan kemanusiaan. Pandangan ini juga menguatkan ide
tentang masyarakat statis.
Bertentangan dengan jenis idealisme
Plato, kelompok idealis modern, dari Descartes dan Leibnitz sampai kepada
kelompok personalis kontemporer, menekankan “person” atau kesadaran pribadi. manusia
dianggap sebagai pelaku moral yang dapat mengungkapkan nilai. Dengan begitu
maka idealisme memberi landasan obyektif untuk nilai moral dan kewajiban.[20]
6.
Penilaian
Idealisme
Kenyataan bahwa idealisme telah hidup
langsung selama berabad-abad dan telah didukung oleh banyak tokoh pemikir di
Barat dan di Timur, menunjukkan bahwa ia telah memenuhi suatu kebutuhan.
Kekuatan idelaisme terletak pada
tekanannya terhadap person, dan segi mental juga segi spiritual dari kehidupan.
Idelisme secara filsafi membenarkan bahwa pribadi itu mempunyai arti dan harga
diri, manusia mempunyai nilai dan lebih tinggi daripada lembaga-lembaga dan
benda-benda.
Sambil menerima penjelasan ilmiah yang
modern tentang alam, idealisme member tempat kepada agama. Nilai-nilai moral
dan agama terdapat dalam alam. Dengan begitu idealisme adalah sesuai dengan
banyak intuisi dan aspirasi manusia. Pengikut idealisme mengatakan bahwa
idealisme member dukungan moral kepada intuisi spiritual manusia. Daya tarik
idealisme didasarkan atas aspirasi moral manusia dan tidak hanya atas dasar
logika atau epistimologi.
Dalam perjuangan mereka untuk kehidupan
yang lebih baik, banyak yang merasakan bahwa ada kekuatan di atas mereka yang
dapat mereka bersandar kepadanya untuk minta bantuan. Idealisme memberikan
penegasan kepada mereka bahwa jiwa dan nilai secara structural adalah bagia
dari alam. Dengan begitu kita bisa merasa tentram.[21]
Ada yang mengatakan bahwa kelompok
idealis mencampuradukkan antara segi-segi yang “accidental” dan yang “essential”
dari benda. Kelompok idealis mengatakan bahwa “existensi” itu bersandar pada
akal, kelompok realis menjawab bahwa “dipersepsikan” merupakan suatu segi yang
aksidental dari benda, padahal eksistensi adalah yang esensial.
Idealisme dikeritik oleh beberapa ahli
teologi yang mengatakan bahwa pandangan intelektual tentang Tuhan atau Zat yang
mutlak tidak akan merupakan pengganti untuk hati yang merana atau sesuatu
keputusan. Mereka mengatakan bahwa idealisme mempunyai gambaran yang sangat
optimis tentang manusi dan alam.[22]
KESIMPULAN
Kata idealis dalam filsafat mempunyai
arti yang berbeda dari artinya dalam bahasa sehari-hari. Secara umum, kata itu
berarti, Seorang yang menerima ukuran moral yang tinggi, estetika dan agama
serta menghayatinya. Orang yang dapat melukiskan dan menganjurkan suatu rencana
atau program yang belum ada. Tiap
pembaharu sosial adalah seorang idealis dalam arti kedua ini, karena itu
menyokong sesuatu yang belum ada.
Idealisme secara umum selalu berhubungan
dengan rasionalisme. Ini adalah madzhab epistemologi yang mengjarkan bahwa
pengetahuan a priori dapat atau
deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya.
Jenis-jenis idealisme meliputi: Idealisme subyektif, berpendirian bahwa
akal, jiwa dan persepsi-persepsinya atau ide-idenya merupakan segala yang ada. Idealisme Objektif, tidak mengingkari
adanya realitas luar atau realitas obyektif. Mereka percaya bahwa sikap sikap
mereka adalah satu-satunya sifat yang bersifat adil kepada segi obyektif dari
pengalaman, karena mereka menemukan dalam alam prinsip: tata tertib, akal dalam
maksud yang sama seperti yang ditemukan manusia dalam dirinya sendiri. Idealisme Personal atau Personalisme Bagi
kelompok personalis, alam adalah suatu tata tertib yang obyektif. Implikasi Idealisme,Hubungan
kemasyarakatan.Penilaian Idealisme.
DAFTAR
PUSTAKA
Suhar,
AM. Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan
Aliran, GP. Press, Jakarta, 2010.
Poedjwijatama.
Pembimbing Kearah Alam Filsafat, Bina
Aksara, Jakarta, 1986.
Baktiar,
Amsal.Filsafat Ilmu, Rajawali Pers,
Jakarta, 2011.
Supriyadi,
Dedi. Pengngantar Filsafat Islam, Pustaka
Setia, Bandung, 2010.
Louis
O. Kattsoff, Pengntar Filsafat, Tiara
Wacana, Yogyakarta, 2004.
Hamzah
abbas, Pengantar Filsafat Alam, Al-Ikhlas, Surabaya, 1981.
Tafsir,
Ahmad. Filsafat Umum, Remaja
Rosdakarya, Bandung, 2003.
Suhartono,
Suparlan. Dasar-dasar Filsafat, Ar-Ruz
Media Grup, Yogyakarta, 2007.
[1] H. Suhar AM. Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan Aliran, (Jakarta: GP Press,
2010), 211
[2] Ibid, 211.
[3] Lorent Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia), 300.
[4] Ibid, 213.
[5] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), 151.
[6] H. Suhar AM. Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan Aliran, (Jakarta: GP Press,
2010), 213.
[7] Achmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), 144.
[8] Ibid, 146.
[9] Ibid, 216.
[10] I.R. Poedjawijatna, Pembimbing Karah alam Filsafat, (Jakarta: Bina Aksara: 1986), 114.
[11] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Rajawali Pers: 2011), 97-98.
[12] H.
Suhar AM. Filsafat Umum, Konsepsi,
Sejarah dan Aliran, (Jakarta: GP Press, 2010), 217.
[13] Ibid, 217.
[14] Ibid, 219.
[15] Ibid, 221.
[16] Ibid, 222.
[17] Achmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), 155.
[18] H.
Suhar AM. Filsafat Umum, Konsepsi,
Sejarah dan Aliran, (Jakarta: GP Press, 2010), 222.
[19] Ibid, 147.
[20] Suhar AM, Filsafat
Umum, Konsepsi, Sejarah dan aliran, (Jakarta: GP. Pres, 2010), 221.
[21] Suhar
AM. Filsafat Umum, Konsepsi, Sejarah dan
Aliran, (Jakarta: GP Press, 2010), 224.
[22] Ibid, 225.
Studi Al-Qur'an
Oleh: Bakhtiar Nurdin
Sebagai
sebuah kitab suci yang menjadi pegangan umat manusia, al-qur’an merupakan
sumber mata air bagi kehidupan. Al-qur’an tidak akan pernah habis kandungan
ilmu, walau semua manusia menggali dan terus menggali tanpa henti. Al-qur’an
telah dikaji melalaui berbagai macam metode dan pendekatan, namun tidak akan
tuntas diselami seluruh kandungan yang tersembunyi didalamnya.
Al-qur’an
adalah pelipur jiwa, penyejuk mata, penerang akal dan ruh, serta penentram
sukma. Para ualama seakan menyelami untaian mutiara yang terkandung didalamnya
dan merasuk kedalam darah daging mereka, mereka memahami kitab Allah ini karena
mengetahui kenikmatannya.
Melalui
makalah singkat yang jauh dari sempurna ini, kami akan mengetengahkan beberapa
pembahasan awal tentang al-qur’an. Semoga Allah membimbing kami senantiasa
dalam kebenaran. Amin.
A. Ta’rif Al-Qur’an
Al-Qur’an
secara etimologi merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja ﻘﺮﺃ - ﻘﺮﺍﺀﺓ - ﻮﻘﺮﺁﻨﺎ yang
bermakna ﺘﻠﺍ yang berarti membaca. Mayoritas ulama
mengatakan bahwa akar kata qara’a berarti tilawah yaitu membaca.[1]
Sebagaimana firman
Allah SWT.
Apabila
kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu ( Al-Qiyamah: 18).
Secara
leksikal, kata qur’an mengandung arti
“bacaan” dan baru pada perkembangan kemudian dianggap merujuk kepada arti “teks
yang dibaca”. Al-Qur’an kerap menyebut dirinya sebagai al-kitab, yang berarti “tulisan” dan kemudian dianggap mengandug
arti “tulisan berupa buku”.[2]
Pengertian
Al-Qur’an secara terminologi adalah firman Allah yang diturunkan kepada
Rasulullah SAW.[3]
Membacanya bernilai ibadah, sebagai mukjizat kepada Rasulullah yang tidak
mungkin ditandingi oleh manusia, diturunkan ke dalam hati Rasulullah melalui
“Ruh al-Amin”, Jibril, diturunkan ke generasi berikutnya secara mutawatir.[4] Al-Qur’an
dihafalkan dan ditulis oleh banyak sahabat. Secara turun temurun, Al-Qur’an itu
diajarkan kegenarasi berikutnya, oleh banyak orang kebanyak orang. Dengan cara
seperti itu keaslian Al-Qur’an terpelihara keasliannya, sebagai wujud jaminan
Allah terhadap keaslian dan kebenarannya.[5] sebagaimana
firman Allah SWT.
Sesungguhnya
Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar
gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka
ada pahala yang besar, (Al-Isra’:9).
Al-Qur’an
adalah sumber utama ajaran ketuhanan yang mengandung hukum-hukum dan
serangkaian pengetahuan tentang aqidah, pokok-pokok akhlaq dan segala perbuatan
serta tingkah laku. Sebagaiman firman Allah.
Dan
kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan
petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
(An-Nahl:89)
Syaikh
Muhammad Abduh mendefinisikan Al-Qur’an sebagai kalam mulia yang diturunkan
kepada Nabi yang paling mulia (Muhammad) ajarannya mencakup keseluruhan ilmu
pengetahuan. Ia merupakan sumber yang mulia yang esensinya tidak dimengerti
kecuali bagi orang yang berjiwa suci dan berakal cerdas.[6]
Dari
definisi di atas dapat dianalisa bahwa Al-Qur’an memiliki unsur-unsur yang
menjadi ciri khas bagi Al-Qur’an, yakni Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang
diturunkan kepadan Nabi Muhammad SAW. Tidak dinamakan Al-Qur’an seperti zabur,
taurat dan injil. Ketiga kitab tersebut memang termasuk kalam Allah tapi tidak
diturunkan kepada nabi Muhammad sehingga tidak dinamakan Al-Qur’an.[7]
Allah
SWT. Memilih beberapa nama wahyu-Nya, yang berbeda sekali dari bahasa yang
biasa digunakan masyarakat arab untuk penamaan sesuatu. Nama-nama itu
mengandung makna yang berbias dan memiliki akar kata.[8]
Diantara beberapa nama al-qur’an itu ialah:
1. Al-qur’an
sebagaimana firman Allah.
Sesungguhnya
Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus…(Q.S.
Al-Isra’:9)
2. Al-kitab.
Sebagaimana firman Allah:
Sesungguhnya
Telah kami turunkan kepada kamu sebuah Kitab yang di dalamnya terdapat
sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya? (Q.S. Al-Anbiya’:
10)
3. Al-Furqan
Maha
Suci Allah yang Telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar
dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (Q.S. Al-Furqan: 2)[9]
4. Adz-zikra
Sesungguhnya
Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar
memeliharanya. (Q.S. Al-Hijr: 9).[10]
5. At-tanzil.
Dan lain sebagainya.[11]
Dan
Sesungguhnya Al Quran Ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta Alam. (Q.S.
Asy-Syuara’: 192)
Sebagai kitab suci terakhir sekaligus
penyempurna kitab-kitab sebelumnya, al-qur’an tampil dengan berbagai macam
keistimewaan dan penuh dengan kerahasiaan. Diantara sekian banyak
keistimewaannya adalah adanya jaminan kemudahan dari sang pemilik al-qur’an
sendiri. Sebagaimana firman-Nya:
Dan
Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang
yang mengambil pelajaran? (Q.S. Alqamar: 17)
Begitu pula dari segi membacanya, bagi
siapa saja yang membaca satu huruf dari al-qur’an, maka nilainya
dilipatgandakan minimal sepuluh kebaikan. Tentu akan mendapat lebih dari itu,
bagi siapa saja yang berusaha memahami isi kandungan sekaligus mengamalkannya.
Bahkan satu malam yang hanya 12 jam, ketika tersentuh oleh al-qur’an, maka
nilai malam itu menjadi lebih baik dari seribu bulan.
Allah SWT. Mengatakan bahwa al-qur’an
adalah nur bagi umat manusia. Manusia
tidak mampu membedakan mana boleh dan yang dilarang. Tanpa al-qur’an, hidup
manusia senantiasa dikejar dan dihantui perasaan kalut, susah, dan semakin jauh
dari kebahagiaan.[12]
Al-qur’an adalah sumber utama ajaran
islam. Hukum-hukum islam yang mengandung serangkaian pengetahuan tentang aqidah
keagamaan, keutamaan akhlak, dan prinsip-prinsip umum segala perbuatan serta
seluruh aspek kehidupan[13]
Kata ad-din
(agama) menurut kebiasaan al-qur’an berarti jalan hidup. Orang-orang yang
beriman dan kafir pasti memiliki suatu agama, karena setiap orang mengikuti hukum-hukum
tertentu dalam perbuatannya, dan hukum itu disandarkan kepada nabi dan wahyu,
atau ditetapkan oleh seseorang atau suatu masyarakat .[14]
Secara
kuantitatif, persoalan keimanan menempati bagian terbesar al-qur’an. Persoalan
moral datang berikutnya, disusul ritual-ritual, dan kemudian aturan-aturan
hukum. Jadi, al-qur’an seluruhnya 114 surat berisi kurang lebih 6200 ayat. Dari
jumlah itu, 100 ayat yang membahas persoalan peribadatan, 70 ayat urusan
pribadi, perdata 70 ayat, hukum pidana 30 ayat, persoalan dan kesaksian 20
ayat.[15]
B. Perbedaan antara
Al-Qur’an, Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi
Ada
beberapa perbedaan antara al-qur’an, hadits qudsi dan hadits nabawi,
diantaranya adalah, Lafadz dan makan al-qur’an dari Allah, maka itu adalah
wahyu. Sedangkan hadit qudsi wahyu dalam makna bukan dalam lafadz, maknaya
berasal dari Allah dan lafadznya dari Nabi SAW. Selanjutnya akan kami jelaskan
lebih lanjut pada bagian “perbedaan al-qur’an dengan hadits qudsi” yang akan
datang.
Perbedaan
hadits qudsi dengan hadits Nabawi terbagi menjadi dua:
1.
Hadits qudsi
bersifat tauqifi, maksudnya adalah secara makna atau kandungan isinya berasal
dari wahyu Allah, namun redaksionalnya disusun oleh Rasulullah dengan
kata-katanya sendiri.
2.
Hadits Nabawi
bersifat taufiqi, maksunya adalah baik secara makna atau kandungan isinya
ataupun redaksionalnya, kedua-duanya berasal dari Rasulullah, maknanya
disimpulkan oleh rasulullah berdasarkan pemahamannya terhadap al-qur’an dan
menyimpulkannya dengan pertimbangan dan ijtihad. Bagian kesimpulan yang
bersifat ijtihad inidiperkuat oleh wahyu bila ia benar dan jika ternyata
ijtihadnya salah maka turunlah wahyu yang membetulkannya.[16]
C. Hadits Qudsi
Secara bahasa (Etimologis), kata
ﺍﻠﻘﺪﺴﻲ dinisbahkan kepada kata ﺍﻠﻘﺪﺲ (suci). Artinya, hadits yang dinisbahkan kepada Dzat yang Maha
suci, yaitu Allah Ta'ala.
Dan secara istilah (terminologis) definisinya adalah:
Dan secara istilah (terminologis) definisinya adalah:
ما نقل إلينا
عن النبي صلى الله عليه وسلم مع إسناده إياه إلى ربه عز وجل
Sesuatu (hadits) yang dinukil kepada kita dari Nabi
Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam yang disandarkan beliau kepada Rabb-nya.[17]
Hadits qudsi
adalah hadits yang oleh Nabi SAW disandarkan kepada Allah SWT. Maksudnya nabi
meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam Allah, maka nabi menjadi perawi kalam
Allah ini dengan lafadl dari nabi sendiri. Hadits qudsi dapat dikenali dengan
redaksional:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه عز وج
“Rasulullah saw bersabda mengenai apa yang
diriwayatkan dari Rabb-nya”,
Atau dengan redaksi:
قال الله تعالى، فيما رواه عنه رسول الله صلى
الله عليه وسلم
“Rasulullah saw bersabda, “Allah ta’ala
berfirman”, atau yang sejenis dengan itu.
Seperti hadits berikut:
“Dari Abu
Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw bersabda: allah swt berfirman: “Aku senantiasa dalam persangkaan hamba-Ku
terhadap-Ku, dan aku bersamanya bila ia mengingat-Ku, maka jika a mengingatku
maka aku mengingatnya…(HR. Al-Bukhari dan Muslim)[18]
D. Perbedaan antara
Al-Qur’an dan Hadits Qudsi
1.
Al-qur’an itu
lafadz dan maknanya dari Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah juga sebagai
mukjizat. Sedangkan hadits qudsi maknanya dari Allah dan lafadznya dari Nabi
saw.
2.
Al-qur’an hanya
dinisbatkan kepada Allah, sehingga dikatakan: قال الله
تعالى
Sedangkan
hadits qudsi disandarkan kepada Allah swt. dan lafadznya dari Rasulullah.
Sehingga dikatakan: قال الله تعالى، فيما رواه عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم
3.
Al-qur’an
disyaratkan mutawatir dalam periwayatannya, sehingga kepastiannya sudah pasti,
sedangkan dalam hadits qudsi tidak disyaratkan mutawatir, kebanyakan hadits
ahad, adakalanya hadits qudsi itu shahih, terkadang hasan (baik) dan terkadang
pula dha’if (lemah).
4.
Al-qur’an itu
lafadz dan maknanya wahyu dari Allah, sedangkan hadits qudsi maknaya wahyu dari
Allah, tetapi lafadznya dari Rasulullah sendiri.
5.
Membaca
Al-qur’an termasuk ibadah dan mendapatkan pahala, dan ia harus dibaca didalam
shalat,sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
“barang
siapa membaca satu huruf dari al-qur’an maka ia mendapatkan satu kebaikan, dan
setiap kebaikan akan digandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu
huruf . ( HR. Al-Tirmidzi)
6.
sedangkan
membaca hadits qudsi bukanlah termasuk ibadah dan tidak mendapat pahala
sebagaimana pahala membaca al-qur’an.[19]
Daftar Pustaka
Qatta,
Manna’. Fi Ulumi Al-Qur’an,
Katsir,
Ibn, Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim,Vol.
1, Semarang: Toha Putra.
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa, Tarjamah Tafsir Al-Maraghi,Vol. 4,5 dan
4. Semarang: Toha Putra, 1993
Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz 5-6. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1987.
Djalal, H.A. Abdul, Ulumul Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu, 2008
Al-A’zami, M.M, The History of The Qur’anic Text, From Revelation to Compilation, Jakarta:
GIP, 2005.
Abdul Halim, Muhammad, Memahami Al-Qur’an, Pendekatan Gaya dan
Tema, Bandung:Marja’, 2002.
Thabathaba’I, Allamah M.H, dan
Az-Zanjani, Abu Abdullah, Mengungkap
Rahasia Al-Qur’an, Bandung: Pustaka Mizan, 2009.
Jum’ah, Ahmad Khalil, Al-Qur’an Dalam Pandangan Sahabat Nabi, Jakarta:
Gema Insani Press, 1994
Anam, Chairul. Husein, Syaiful.
Fitriadi, Irwan Mudiaharjana, Psikologi
Al-Qur’an Bukan Sekedar Teori, Bandung: Cahaya Iman & Bedha, 2008.
Setiawan, Nur Kholis, Akar-Akar Pemikiran Progresif dalam Kajian
Al-Qur’an, Yogyakarta: Sukses Offset, 2008.
Horriyah, Kisah-Kisah Sangat Misterius, SuperInspiratif Dalam Al-Qur’an, Jogjakarta:Bening,
2011.
Rowi, Roem, Tentram Bersama Al-Qur’an, Cahaya Al-Qur’an, Surabaya: Minka,
Edisi, 6 Agustus 2011.
http://www.masgunku.wordpress.com,
Pengertian Al-Qur’an, 20 Februari
2009
[1] Manna’ Al-Qattan, Mabahits Fi Ulumi Al-qur’an, 20.
[5] P.M. Gunawan, “Pengertian
Al-qur’an”, dalam http://www.masgunku.wordpress.com/, (20 Februari, 2009), 2.
[6] Ibid.
[8]
ibid
[12] Roem Rowi, “Tenteram bersama
Al-Qur’an, Cahaya Al-Qur’an”, Minka, (6
Agustus, 2011), 4.
[13] M.H. Thabathaba’I, mengungkap rahasia al-qur’an, (Bandung: Mizan
2009), 33.
[14] Allamah M.H. Thabathaba’i, Mengungkap Rahasia Al-qur’an, (Bandung:
Mizan,a 2009), 34.
[15] M. Abdul Halim, Memahami Al-qur’an, Pendekatan Gaya dan
Tema, (Bandung: Marja’2002), 19.
[18] Manna’ Al-Qattan, MabahitsFi Ulumi Al-qur’an, 25.
[19] Ibid.
26
Langganan:
Postingan (Atom)